Asing Lepas Rp 2,35 Triliun, IHSG Gagal Bertahan Di Atas Level 7.000

Author: Redaksi Android62
Add on Google

Tekanan asing kembali menjadi cerita utama di perdagangan saham, dengan aksi jual bersih mencapai Rp 2,35 triliun yang ikut menyeret IHSG turun ke 7.072,392. Di tengah arus keluar dana tersebut, saham-saham berkapitalisasi besar menjadi area yang paling terasa dampaknya, terutama dari kelompok perbankan.

Kondisi itu membuat pasar bergerak lebih rapuh karena bobot saham big cap sangat besar dalam perhitungan indeks. Meski demikian, pelemahan indeks tidak berlangsung lebih dalam karena masih ada saham tertentu yang tetap diborong investor asing.

Bank besar paling banyak dilepas

Data Bursa Efek Indonesia menunjukkan jual bersih asing terbagi menjadi Rp 1,24 triliun di pasar reguler dan Rp 1,10 triliun di pasar tunai serta negosiasi. Angka itu memperlihatkan bahwa investor asing masih bersikap hati-hati terhadap arah pasar domestik.

Di antara saham yang paling banyak dilepas, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk atau BMRI mencatat jual bersih asing tertinggi senilai Rp 351 miliar. Setelah itu ada PT Bank Central Asia Tbk atau BBCA sebesar Rp 170 miliar, lalu PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI sebesar Rp 137 miliar.

Menariknya, tekanan jual tersebut tidak langsung membuat ketiga saham itu berakhir di zona merah. BMRI justru ditutup naik 0,68 persen ke level 4.430, BBCA menguat tipis 0,42 persen ke Rp 6.000, dan BBRI bertambah 0,66 persen ke Rp 3.070 setelah sempat menyentuh level terendah harian di Rp 3.020.

Komoditas ikut terdampak

Selain perbankan, saham-saham berbasis komoditas juga ikut masuk radar jual investor asing. PT Aneka Tambang (Persero) Tbk atau ANTM mencatat jual bersih asing Rp 117 miliar, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN dilepas asing senilai Rp 61 miliar.

Berbeda dengan tiga saham bank besar, dua emiten ini tidak mampu bangkit hingga penutupan perdagangan. ANTM terkoreksi 1,94 persen ke Rp 4.040, sementara CUAN turun 2,28 persen ke Rp 1.285 per saham.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa tekanan asing tidak hanya menekan sektor keuangan, tetapi juga merambat ke saham komoditas. Saat sentimen pasar memburuk, saham yang sebelumnya menjadi favorit pun tetap bisa terseret arus jual.

Masih ada pembelian di sejumlah saham

Di tengah dominasi penjualan, investor asing tetap terlihat masuk ke beberapa saham pilihan. PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mencatat beli bersih Rp 54 miliar, disusul PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI sebesar Rp 34 miliar.

Pembelian bersih asing juga tercatat pada PT Elnusa Tbk (ELSA) senilai Rp 31 miliar, PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) sebesar Rp 28 miliar, dan PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) yang mencapai Rp 18 miliar. Pola ini menandakan bahwa minat asing belum sepenuhnya hilang, meski tekanan jual masih lebih dominan di pasar.

IHSG belum lepas dari bayang-bayang 7.000

Gabungan tekanan pada saham bank besar, saham komoditas, dan arus keluar dana asing membuat IHSG kesulitan mempertahankan momentum penguatan. Di sisi lain, saham-saham dengan bobot besar tetap menjadi penentu utama arah indeks karena transaksi pada kelompok ini sangat memengaruhi gerak pasar.

Selama jual bersih asing masih kuat di pasar reguler maupun pasar tunai dan negosiasi, IHSG berpotensi terus bergerak fluktuatif di sekitar level psikologis 7.000. Sementara itu, keberadaan pembelian asing pada sejumlah saham tertentu menunjukkan pasar masih menyisakan penyangga, meski tekanan terbesar tetap datang dari aksi jual asing.

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terbaru