Assalamualaikum Paus Leo XIV di Masjid Agung Aljir, Isyarat Damai Lintas Iman

Ucapan “assalamualaikum” dari Paus Leo XIV saat tiba di Masjid Agung Aljir menjadi sorotan utama dalam kunjungan apostoliknya ke Aljazair. Salam itu langsung memperlihatkan penghormatan kepada umat Muslim setempat sekaligus menegaskan pesan damai yang dibawanya.

Di tengah suasana yang kerap diwarnai polarisasi berbasis identitas, gestur tersebut terbaca sebagai langkah hangat dan terbuka. Kunjungan itu juga memberi ruang bagi dialog antarumat beragama yang lebih saling menghargai.

Pesan damai sejak sambutan pertama

Dalam sambutannya, Paus Leo XIV menyapa masyarakat Aljazair dengan kalimat yang menekankan kedamaian. Ia berkata, “Saudara-saudari Aljazair yang terkasih, semoga kedamaian menyertai Anda, assalamualaikum. Saya bersyukur kepada Tuhan karena telah memberi saya kesempatan untuk mengunjungi negara Anda.”

Ucapan itu menjadi perhatian karena jarang terdengar dari pemimpin Gereja Katolik saat berkunjung ke negara mayoritas Muslim. Salam tersebut menunjukkan bahwa penghormatan terhadap tradisi setempat dapat menjadi jembatan penting dalam hubungan lintas iman.

Ziarah ke Monumen Martir sebelum ke masjid

Sebelum memasuki Masjid Agung Aljir, Paus lebih dulu berziarah ke Monumen Martir. Di tempat itu, ia mengenang perjuangan rakyat Aljazair melawan kolonialisme dan mendoakan para korban yang gugur dalam perang kemerdekaan dari Prancis.

Ia juga menegaskan bahwa perang selalu meninggalkan luka panjang dan membutuhkan rekonsiliasi yang tulus. Dalam pernyataannya, Paus mengingatkan, “Di tempat ini, marilah kita ingat bahwa Tuhan menginginkan perdamaian bagi setiap bangsa.”

Masjid Agung Aljir sebagai ruang penghormatan lintas iman

Kunjungan kemudian berlanjut ke Masjid Agung Aljir atau Djamaa el-Djazair. Imam masjid, Mohamed Mamoun al Qasim, menyambut langsung kedatangan Paus, lalu keduanya berjalan bersama menuju ruang utama untuk refleksi singkat.

Paus menyampaikan kekagumannya pada arsitektur masjid tersebut yang memadukan nilai spiritual dan kecanggihan intelektual. Ia juga berterima kasih atas kesempatan berkunjung ke tempat yang dipandang sebagai ruang suci untuk berdoa dan mencari kehadiran Tuhan.

Dalam pandangannya, masjid bukan hanya tempat ibadah, tetapi juga pusat ilmu pengetahuan. Pesan itu sejalan dengan gagasan yang ia bawa, bahwa pengembangan martabat manusia perlu berjalan bersama pemahaman yang mendalam tentang ciptaan Tuhan.

Makna yang lebih luas dari kunjungan ke Aljazair

Di sela agenda itu, Paus Leo XIV menandatangani Buku Kehormatan dengan doa bagi rakyat Aljazair dan umat manusia. Ia menyampaikan harapan agar rahmat Tuhan menjaga kebebasan dan perdamaian di seluruh dunia.

Kehadiran pejabat Vatikan serta Uskup Agung Aljir, Jean-Paul Vesco, memperkuat kesan bahwa kunjungan ini memang dimaksudkan sebagai momentum penting bagi hubungan Katolik dan Muslim di Aljazair. Dalam konteks yang lebih luas, langkah Vatikan terlihat menempatkan simbol penghormatan dan perjumpaan langsung sebagai cara membangun komunikasi dengan dunia Islam.

Masjid Agung Aljir sendiri memiliki makna khusus karena dikenal sebagai simbol kebangkitan identitas Aljazair yang modern dan moderat. Kompleks ini memiliki menara setinggi 267 meter yang disebut sebagai menara masjid tertinggi di dunia, serta dilengkapi museum, perpustakaan, dan pusat riset akademik.

Dengan rangkaian kunjungan itu, pesan Paus Leo XIV di Aljazair tampil sebagai ajakan agar perdamaian, kebebasan, dan martabat manusia tetap menjadi bahasa bersama di tengah perbedaan keyakinan. Di suasana yang tenang dan penuh hormat, perjumpaan itu menunjukkan bahwa dialog antaragama masih memiliki ruang yang kuat untuk dibangun.

Source: www.suara.com

Disclaimer
Artikel ini disusun dengan bantuan sistem otomasi dan ditinjau oleh redaksi agar tetap sesuai dengan fakta dari sumber rujukan.
Berita Terkait