B50 Dipacu Serentak 2026, EV Masih Menunggu Infrastruktur Pengisian Merata

Author: Redaksi Android62

Pemerintah terus mendorong biodiesel masuk lebih dalam ke sistem energi nasional, sementara uji jalan B50 pada sektor otomotif masih berjalan. Di saat yang sama, bioetanol juga sudah hadir di pasar lewat Pertamax Green, meski pemakaiannya masih terbatas.

Kondisi itu menunjukkan arah transisi energi transportasi di Indonesia tidak bertumpu pada satu solusi saja. Di tengah keterbatasan infrastruktur pengisian kendaraan listrik, biofuel masih dipandang sebagai penopang penting agar mobilitas masyarakat tetap berjalan.

Biofuel diposisikan sebagai penghubung menuju EV

Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF menilai biofuel belum layak dilihat sebagai rival kendaraan listrik. Bagi lembaga itu, biodiesel dan bioetanol justru lebih pas ditempatkan sebagai jembatan menuju elektrifikasi transportasi.

Kepala Center of Industry, Trade, and Investment INDEF, Andry Satrio Nugroho, menyebut biofuel dapat berfungsi sebagai bahan bakar penghubung atau bridging fuel menuju EV. Pandangan tersebut lahir dari kenyataan bahwa perubahan sistem transportasi nasional tidak bisa berlangsung serempak dalam waktu singkat.

Menurut Andry, transisi energi bukan cuma soal mengganti jenis mesin. Ekosistem pendukung juga harus tersedia agar kendaraan listrik benar-benar bisa dipakai secara luas.

Fasilitas EV belum merata di banyak wilayah

INDEF menilai tantangan terbesar masih ada pada infrastruktur kendaraan listrik yang belum tersebar merata di seluruh Indonesia. Di banyak daerah, masyarakat tetap membutuhkan bahan bakar yang mudah dijangkau untuk menjalankan aktivitas harian.

Situasi itu membuat biofuel tetap relevan selama masa peralihan. Selama fasilitas pengisian EV belum memadai, opsi bahan bakar yang sudah tersedia dinilai lebih realistis untuk menjaga kebutuhan transportasi tetap terpenuhi.

Andry menegaskan bahwa kebutuhan energi transportasi di Indonesia sangat beragam antarwilayah. Karena itu, dorongan menuju kendaraan listrik perlu berjalan berdampingan dengan pemanfaatan biofuel.

Daerah 3T masih butuh opsi yang lebih mudah diakses

Sorotan khusus INDEF tertuju pada wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T. Di kawasan ini, fasilitas kendaraan listrik dinilai masih jauh dari kata merata, sehingga adopsi EV secara cepat berpotensi menyulitkan masyarakat.

Dalam kondisi tersebut, biodiesel dan bioetanol dinilai menjadi pilihan yang lebih mudah diterapkan sambil menunggu ekosistem kendaraan listrik terbentuk. Biofuel memberi ruang bagi kebutuhan energi transportasi tetap terpenuhi tanpa harus menunggu seluruh infrastruktur EV siap.

Andry menyampaikan, “Di beberapa wilayah masih dibutuhkan (BBM), sembari kita bisa menunggu infrastruktur dari EV-nya tercipta di wilayah tersebut.” Pernyataan ini menegaskan bahwa transisi energi perlu disesuaikan dengan kesiapan lapangan, bukan disamaratakan untuk semua daerah.

B50 masuk tahap uji sebelum diberlakukan luas

Di sisi kebijakan, pemerintah terus memperkuat peran biodiesel dalam bauran energi nasional. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral atau ESDM telah menyampaikan bahwa mandatori biodiesel 50 persen atau B50 akan diterapkan serentak untuk semua sektor mulai 1 Juli 2026.

Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi ESDM, Eniya Listiani Dewi, mengatakan B50 masih menjalani uji jalan untuk sektor otomotif. Pengujian itu dimulai sejak 9 Desember 2025 dan melibatkan 9 unit kendaraan.

Setelah uji jalan selesai, pemerintah akan memeriksa kondisi mesin untuk melihat dampak penggunaan bahan bakar tersebut. Pemeriksaan dan pengujian untuk sektor otomotif ditargetkan rampung pada Juni 2026 sebelum kebijakan diperluas.

Eniya juga menyampaikan hasil sementara menunjukkan kualitas bahan bakar B50 sudah memenuhi spesifikasi yang dipersyaratkan. Hasil awal ini menjadi sinyal bahwa campuran biodiesel yang lebih tinggi masih memungkinkan untuk diterapkan.

Bioetanol sudah hadir, tetapi skala pemakaiannya masih kecil

Selain biodiesel, bioetanol juga masuk dalam strategi transisi energi transportasi. Namun, penggunaannya pada mesin bensin masih terbatas pada standar E5 atau campuran etanol 5 persen.

Produk tersebut sudah tersedia di SPBU Pertamina dengan nama Pertamax Green. Kehadirannya menandakan bioetanol sudah masuk pasar, meski skala pemakaiannya belum besar dibanding kebutuhan energi transportasi nasional.

Kondisi ini membuat bioetanol, seperti halnya biodiesel, lebih tepat dipahami sebagai penopang sementara. Selama infrastruktur pengisian kendaraan listrik belum merata, terutama di wilayah yang sulit dijangkau, biofuel masih memiliki fungsi operasional yang penting.

Transisi bertahap dinilai paling sesuai

Pandangan INDEF memperlihatkan bahwa transisi energi transportasi di Indonesia perlu berjalan berlapis. EV tetap dibutuhkan sebagai arah jangka panjang, tetapi biofuel masih diperlukan agar kebutuhan perjalanan dan logistik tidak terganggu selama proses perubahan berlangsung.

Dengan model seperti itu, kebijakan energi dapat menyesuaikan kondisi tiap daerah tanpa memaksa satu pola yang sama untuk semua wilayah. Biodiesel dan bioetanol pun tetap berperan menjaga stabilitas pasokan energi sambil menunggu infrastruktur kendaraan listrik berkembang lebih luas.

Source: www.cnnindonesia.com
Redaksi Android62
Redaksi Android62

Android62.com menghadirkan berita dari beragam sumber dengan penyajian unik, ringkas, dan informatif untuk pembaca modern.

Newsletter Text above the Email input field
Follow Us
Berita Terbaru