Pemerintah melihat solar sebagai sektor yang paling dekat dengan kondisi surplus, sementara bensin masih harus mengejar ketahanan pasokan dari dalam negeri. Dengan penerapan B50, pasokan solar disebut berpeluang berlebih mulai bulan Juli, sedangkan bensin tetap menjadi fokus penguatan produksi nasional.
Perbedaan arah ini membuat kebijakan energi Indonesia bergerak dalam dua jalur sekaligus. Di satu sisi, kapasitas produksi bensin domestik terus digenjot agar ketergantungan pada impor bisa ditekan, sementara di sisi lain solar dipersiapkan untuk masuk fase surplus melalui penguatan bauran bahan bakar nabati.
Solar diproyeksikan lebih longgar pasokannya
Pemerintah menyampaikan bahwa Indonesia sudah mampu memproduksi solar CN48 di dalam negeri. Kondisi itu menjadi dasar bagi optimisme bahwa kebutuhan solar nasional tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan luar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa penerapan B50 akan menjadi pemicu penting. Ia menyebut mulai bulan Juli, kebijakan itu diyakini membuat pasokan solar nasional berada dalam kondisi surplus.
“Solar CN48 yang sering dipakai di pasar-pasar yang sekarang mobil apa segala macam itu, CN48 itu kan kita sudah bisa produksi dalam negeri. Apalagi dengan B50 besok, B50 itu berarti kita akan surplus ya. Mulai bulan Juli itu penerapan B50 pasti surplus ya,” ujar Bahlil.
Bensin masih butuh dorongan besar dari kilang nasional
Berbeda dengan solar, bensin masih menghadapi tantangan pasokan yang lebih berat. Konsumsi bensin nasional saat ini berada di kisaran 39 juta hingga 40 juta kiloliter per tahun, sedangkan sekitar separuh kebutuhannya masih dipenuhi lewat impor.
Bahlil menyebut kebutuhan untuk memperkuat produksi domestik menjadi sangat penting karena impor bensin Indonesia masih berada di level 50 persen. Ia juga menargetkan kapasitas produksi bensin dalam negeri dapat mencapai 20 juta kiloliter sebagai bagian dari upaya mengurangi ketergantungan tersebut.
Dalam situasi seperti itu, penguatan kilang nasional dipandang sebagai langkah paling langsung untuk memperkecil defisit pasokan. Pemerintah menilai ruang untuk meningkatkan produksi domestik masih terbuka lebar karena beban konsumsi nasional tetap besar.
RDMP Balikpapan jadi penopang tambahan kapasitas
Salah satu tumpuan utama pemerintah ada pada proyek Refinery Development Master Plan Balikpapan. Proyek ini disebut dapat menambah kapasitas bensin sebesar 5,6 juta hingga 5,7 juta kiloliter dari basis produksi sebelumnya 14,3 juta kiloliter.
Tambahan kapasitas tersebut dianggap penting karena kebutuhan bensin di dalam negeri masih tinggi dan belum bisa sepenuhnya ditutup oleh produksi lokal. Dengan dorongan dari RDMP Balikpapan, porsi produksi domestik diharapkan makin besar meski impor belum bisa dihapus dalam waktu dekat.
Pemerintah menempatkan proyek kilang itu sebagai salah satu instrumen utama untuk memperkuat pasokan BBM nasional. Langkah ini juga sejalan dengan upaya menahan ketergantungan impor secara bertahap melalui peningkatan kemampuan pengolahan di dalam negeri.
Impor bensin masih berasal dari kawasan Asia Tenggara
Bahlil juga meluruskan sumber impor bensin Indonesia yang selama ini masih diperlukan untuk menutup kebutuhan nasional. Ia menegaskan bahwa pembelian BBM jadi saat ini berasal dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara.
Menurut dia, Indonesia tidak membeli BBM jadi dari wilayah yang lebih jauh seperti Afrika, Amerika, maupun Middle East. “Berarti impor kita tinggal 50%. Nah jadi 50% itu kita impor dari mana? Dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara,” ujarnya.
Pernyataan itu menegaskan bahwa sumber pasokan impor Indonesia masih relatif dekat secara kawasan. Namun, pemerintah tetap menilai ketahanan energi jangka panjang lebih aman jika kapasitas pengolahan di dalam negeri terus diperkuat.
Arah kebijakan energi tidak bergerak seragam
Kondisi bensin dan solar menunjukkan dua wajah berbeda dari kebijakan energi nasional. Bensin masih memerlukan tambahan produksi besar agar impor bisa ditekan, sedangkan solar justru bergerak mendekat ke fase berlebih pasokan.
Pemerintah memandang hilirisasi dan penguatan kilang sebagai kunci untuk menahan laju impor BBM. Di saat yang sama, penerapan B50 menjadi sinyal bahwa sebagian kebutuhan energi cair nasional mulai bisa dipenuhi lebih kuat dari dalam negeri.
Jika target produksi bensin domestik terus terdorong naik dan solar benar-benar masuk fase surplus, maka komposisi pasokan energi Indonesia akan berubah lebih seimbang. Dalam arah itu, kebijakan energi nasional tidak hanya bertujuan menjaga ketersediaan BBM, tetapi juga memperkuat ketahanan energi dari sisi produksi dalam negeri.







