Penjualan Baby Crispy dari C’milzea kini mencapai sekitar 70 hingga 100 kemasan, meningkat dari rata-rata sebelumnya yang berada di kisaran 50 kemasan. Kenaikan tersebut menjadi penanda perkembangan usaha olahan hasil laut yang dirintis Rosyidah setelah pulang dari Malaysia.
Pertumbuhan penjualan itu berlangsung seiring bertambahnya pilihan produk yang ditawarkan. Dari semula masih terbatas, C’milzea kini memiliki tiga variasi produk olahan hasil laut.
Penjualan dan Produk Bertambah
Produk Baby Crispy menjadi salah satu gambaran perkembangan usaha Rosyidah di pesisir Indramayu. Peningkatan stok diperlukan agar permintaan pelanggan dapat dipenuhi saat jumlah pesanan bertambah.
| Aspek Usaha | Perkembangan |
|---|---|
| Penjualan Baby Crispy | Dari sekitar 50 kemasan menjadi sekitar 70 hingga 100 kemasan |
| Variasi produk | Bertambah menjadi 3 variasi produk |
| Dampak di lingkungan sekitar | Membuka peluang penghasilan bagi ibu-ibu nelayan |
Perkembangan usaha tersebut juga membawa dampak bagi lingkungan sekitar Rosyidah. C’milzea membuka peluang penghasilan bagi ibu-ibu nelayan yang tinggal di kawasan sekitarnya.
Usaha ini memanfaatkan hasil laut yang melimpah di wilayah pesisir Indramayu. Potensi lokal itu kemudian diolah menjadi produk bernilai tambah melalui merek C’milzea.
Modal untuk Menjaga Ketersediaan Stok
Rosyidah memperoleh dukungan pembiayaan melalui KUR BRI untuk mengembangkan usahanya. Dana tersebut digunakan untuk membeli bahan baku dan menambah stok ketika permintaan pelanggan meningkat.
Menurut Rosyidah, ketersediaan modal membuat usaha lebih siap menghadapi kebutuhan produksi. Pembiayaan tersebut membantu mengurangi kesulitan ketika ia perlu memenuhi pesanan yang datang.
“Alhamdulillah, KUR BRI yang saya terima benar-benar saya gunakan untuk mengembangkan usaha, mulai dari membeli bahan baku hingga menambah stok produk,” ungkap Rosyidah. Ia menyatakan adanya KUR membuat kebutuhan modal untuk memenuhi permintaan pelanggan tidak lagi menjadi hambatan seperti sebelumnya.
Rosyidah juga menyampaikan bahwa perkembangan usaha diikuti peningkatan penjualan. Dukungan modal menjadi salah satu bagian dari upaya menjaga kelangsungan produksi C’milzea.
Bekal Setelah Menjadi Pekerja Migran
Sebelum merintis usaha, Rosyidah bekerja selama empat tahun sebagai Pekerja Migran Indonesia di Malaysia. Setelah kembali ke kampung halamannya, ia melihat hasil laut sebagai peluang untuk membangun usaha mandiri.
Dalam proses pengembangan usaha, Rosyidah mengikuti Pelatihan Purna Pekerja Migran Indonesia dari BRI Peduli. Pelatihan itu memberinya pengetahuan, jejaring, serta kepercayaan diri untuk mengembangkan usaha berbasis potensi daerah.
Dukungan kepada Rosyidah mencakup pelatihan dan akses pembiayaan. BRI menempatkan pemberdayaan sebagai bagian dari upaya memperluas akses pembiayaan sekaligus menggerakkan ekonomi kerakyatan.
Kisah C’milzea menunjukkan bahwa kepulangan pekerja migran dapat menjadi awal bagi kegiatan ekonomi baru di daerah asal. Usaha yang tumbuh dari hasil laut setempat itu juga menciptakan peluang penghasilan bagi warga di sekitarnya.
Source: www.suara.com






