Bagian Tengah Kereta Dinilai Paling Tahan Benturan, Usulan Gerbong Wanita Ikut Menguat

Author: Redaksi Android62

Gerbong wanita yang berada di ujung rangkaian kereta dinilai lebih rentan saat terjadi benturan atau anjlokan. Karena itu, penempatan di bagian tengah kembali dibahas sebagai opsi yang lebih aman bagi penumpang perempuan.

Pembahasan ini mencuat setelah kecelakaan di Kawasan Bekasi Timur memunculkan sorotan terhadap posisi gerbong khusus perempuan. Dari situ, persoalan yang semula dianggap sebatas pengaturan layanan penumpang berubah menjadi perbincangan soal mitigasi risiko di transportasi rel.

Mengapa bagian tengah dianggap lebih terlindungi

Dalam kajian keselamatan transportasi, posisi tengah umumnya dipandang mendapat perlindungan lebih baik dibandingkan ujung rangkaian. Saat terjadi tabrakan, gerbong di bagian depan atau belakang biasanya menjadi yang pertama menerima energi benturan.

Gerbong yang berada di tengah mendapat perlindungan dari gerbong lain di sekelilingnya. Pola ini membuat dampak langsung dari insiden besar cenderung lebih kecil dibandingkan bagian ujung.

Pandangan serupa pernah disampaikan Greg Placencia dari University of Southern California. Ia menilai kecelakaan yang memberi dampak besar pada gerbong tengah relatif lebih jarang terjadi, karena posisi tersebut tidak langsung menerima hantaman awal.

Laporan keselamatan dari Federal Railroad Administration juga menunjukkan kecenderungan yang sama. Kerusakan paling berat dalam kecelakaan kereta sering muncul pada gerbong terdepan atau terakhir, bergantung pada arah benturan yang terjadi.

Risiko di ujung rangkaian lebih besar

Pada tabrakan frontal, gerbong paling depan menanggung benturan terbesar. Sementara itu, jika benturan datang dari belakang, gerbong terakhir menjadi titik yang paling rentan terhadap energi tabrakan.

Kondisi serupa juga dapat muncul saat terjadi anjlokan atau derailment. Gangguan bisa bermula dari satu bagian rangkaian lalu merambat ke bagian lain, sehingga gerbong di ujung lebih mudah terdampak kerusakan berantai.

Lokomotif dan gerbong depan juga menjadi bagian pertama yang berhadapan dengan masalah di lintasan. Hambatan rel, kerusakan jalur, atau gangguan lain umumnya mengenai bagian ini lebih dulu sebelum efeknya menjalar ke rangkaian berikutnya.

Karena itulah, posisi di ujung dianggap memiliki paparan risiko lebih tinggi daripada bagian tengah. Semakin jauh letak gerbong dari titik benturan utama, semakin besar peluang rangkaian lain membantu meredam dampaknya.

Usulan penempatan gerbong perempuan di tengah

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi sempat menyampaikan usulan agar gerbong perempuan tidak ditempatkan di ujung rangkaian. Ia mengatakan, “yang laki-laki di ujung. Yang depan belakang itu laki-laki, jadi yang perempuan di tengah,” saat berada di RSUD dr Chasbullah Abdulmadjid Kota Bekasi.

Pernyataan itu muncul setelah laporan menunjukkan gerbong di bagian ujung mengalami dampak paling fatal dalam kecelakaan tersebut. Sejak saat itu, posisi gerbong khusus perempuan kembali dipandang bukan hanya sebagai urusan kenyamanan, tetapi juga sebagai bagian dari perlindungan penumpang.

Usulan ini membuka ruang pembahasan baru mengenai tata letak gerbong pada kereta. Penempatan tidak lagi cukup dilihat dari pemerataan penumpang, tetapi juga dari seberapa besar risiko yang mungkin dihadapi saat insiden terjadi.

Faktor di dalam gerbong juga ikut menentukan

Posisi gerbong bukan satu-satunya hal yang memengaruhi keselamatan penumpang. Letak tempat duduk di dalam kereta juga dapat menentukan tingkat risiko saat terjadi pengereman mendadak atau benturan.

Sejumlah penelitian yang dikutip Live Science menyebut kursi di sisi lorong cenderung lebih aman dibanding kursi dekat jendela. Alasannya, risiko terkena benturan langsung dan pecahan kaca lebih kecil di sisi lorong.

Para ahli juga menyarankan kursi yang menghadap ke belakang. Posisi ini dapat membantu mengurangi dorongan tubuh ke depan saat terjadi hentakan mendadak, sehingga potensi cedera bisa lebih rendah.

Data dari Federal Railroad Administration menambahkan bahwa kecelakaan kereta lebih sering melibatkan benturan dari samping. Karena itu, pilihan kursi tetap menjadi pertimbangan penting, meski tidak bisa menghilangkan risiko sepenuhnya.

Penumpang juga disarankan tidak terlalu lama berada di gerbong makan. Meja yang kaku dan interior yang tetap dapat meningkatkan risiko cedera ketika terjadi pengereman mendadak atau tabrakan.

Diskusi yang bergeser dari kenyamanan ke keselamatan

Perdebatan soal gerbong wanita di tengah menunjukkan bahwa tata letak kereta bisa berdampak pada keselamatan. Selama ini, pembahasan gerbong khusus perempuan lebih sering berkisar pada kenyamanan dan distribusi penumpang.

Namun, dari sudut pandang keselamatan, posisi fisik gerbong ikut menentukan besar kecilnya dampak saat kecelakaan terjadi. Karena itu, evaluasi terhadap penempatan gerbong menjadi relevan ketika data keselamatan menunjukkan ujung rangkaian cenderung lebih berisiko.

Tidak ada posisi yang benar-benar aman mutlak di dalam kereta. Tingkat risiko tetap dipengaruhi oleh jenis kecelakaan, arah benturan, kecepatan, dan kondisi infrastruktur saat kejadian.

Dengan pertimbangan itu, usulan memindahkan gerbong wanita ke tengah menjadi pengingat bahwa prinsip keselamatan perlu masuk lebih jauh ke dalam desain layanan transportasi rel. Posisi gerbong ternyata bukan sekadar soal urutan rangkaian, melainkan juga soal seberapa besar perlindungan yang bisa diberikan saat insiden terjadi.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru