Perubahan di industri material kini bergerak cepat ke arah yang lebih nyata: mengganti bahan berbasis fosil dan hewani dengan alternatif bio-based yang tetap mampu menjaga performa. Di saat yang sama, perusahaan juga menekan perhatian pada ketahanan, kenyamanan, pendinginan, dan transparansi rantai pasok.
Arah itu terlihat dari sejumlah pengembangan yang muncul hampir bersamaan, mulai dari bio-leather berbahan getah pohon, kain pendingin yang cepat kering, sampai foam nabati untuk kasur. Bagi industri mode, tekstil, dan perlengkapan rumah tangga, perubahan ini menunjukkan bahwa bahan baru tidak lagi dinilai dari sisi ramah lingkungan saja.
Foam nabati dan kain fungsional jadi sorotan performa
Leesa Sleep memperluas penggunaan GreenFlex foam berbahan nabati ke sebagian besar lini produknya, dengan pengecualian Oasis Chill Hybrid dan Legend Hybrid. Bahan ini dikembangkan secara internal dan memakai polyols dari tanaman yang ditanam di lahan marginal, sehingga tidak bersaing dengan lahan pertanian pangan.
Proses produksinya menggunakan sekitar 45 persen minyak yang diambil dari tanaman dan tidak memerlukan konversi kimia untuk mengubah minyak hasil ekstraksi menjadi polyols. Dengan struktur open-cell, foam tersebut dirancang untuk memberi aliran udara, menopang titik tekanan, dan menjaga bentuk kasur.
Sebuah laboratorium pihak ketiga menyatakan GreenFlex mengandung 26 persen kandungan bio-based terbarukan dan memperoleh sertifikasi USDA Certified Biobased Product. Produk itu juga memegang sertifikasi CertiPUR-US dan Greenguard Gold.
Di sisi lain, Brrr memperkenalkan BrrrX, kain baru yang menggabungkan teknologi pendingin dengan manajemen kelembapan. Benang berbentuk X pada kain ini menambah luas permukaan tiap filamen sehingga kelembapan lebih cepat mengalir dan menguap.
Teknologi pendinginnya berasal dari mineral alami yang tertanam di dalam benang, bukan diaplikasikan di permukaan. Perusahaan menyebut pendekatan itu membantu menjaga karakter performa agar tidak mudah turun akibat pencucian dan pemakaian, sambil tetap memberi perlindungan alami terhadap sinar ultraviolet.
Brrr akan menampilkan sampel BrrrX di Functional Fabric Fair di New York pada 8-9 Juli. Langkah ini menegaskan bahwa kain fungsional kini semakin diposisikan sebagai material yang harus nyaman sekaligus tahan lama.
Bio-leather dari getah pohon memberi alternatif pada kulit hewani
Di ranah mode, desainer London Patrick McDowell kembali bekerja sama dengan Collective Fashion Justice untuk membuat trench coat dari Shiringa bio-leather milik Caxacori Studio. Bahan itu dibuat dari lapisan katun Peru yang dilapisi material lateks berbasis getah.
Caxacori Studio bekerja dengan masyarakat adat di Amazon yang mengambil getah dari pohon shiringa tanpa merusak tanaman. Komunitas ini sudah lama memanfaatkan getah shiringa untuk membuat kain dan material tahan air, dan penggunaan baru di industri mode memberi nilai ekonomi tambahan yang dapat membantu mencegah pohon ditebang.
Menurut Emma Håkansson, pendiri Collective Fashion Justice, sifat bio-leather shiringa melampaui kulit hewan karena lebih supple, durable, water resistant, dan flexible. Dibandingkan karet alami, material berbasis getah ini juga disebut terasa lebih lentur dan menyerupai kulit.
Trench coat tersebut masuk koleksi Fall/Winter 2026 dan hadir dalam warna merah berdebu. McDowell tetap mempertahankan bentuk trench klasik, tetapi ia juga menyebut mempertimbangkan penggunaan bio-leather tahan air itu untuk tas tangan.
Transparansi rantai pasok ikut menjadi tuntutan baru
Perubahan material tidak berhenti pada komposisi bahan. Nativa bekerja sama dengan TextileGenesis untuk melacak katun dan wol bermerek dari pertanian hingga menjadi pakaian jadi.
TextileGenesis, bagian dari Lectra, memakai sistem digital chain of custody dengan pendekatan blockchain-inspired. Platform ini menggunakan Fibercoins untuk mewakili aliran material berdasarkan berat, dengan satu kilogram setara satu koin.
Nativa mengambil serat dari peternakan bersertifikasi yang memenuhi standar perlakuan terhadap hewan, praktik tenaga kerja, dan penggunaan lahan. Sebelum memakai TextileGenesis, perusahaan mengandalkan transaction certificates, sedangkan sistem digital baru itu memberi catatan yang lebih sulit dimanipulasi dan membantu mencegah ketidaksesuaian antara berat serat yang dibeli dan massa yang diklaim di produk akhir.
Di bidang otomasi dan daur ulang, AFFOA mengumumkan empat penerima penghargaan gelombang ketiga program Product Accelerator for Functional Fabrics. Salah satunya The Lycra Company, yang akan bekerja dengan AFFOA pada 3D prototyping untuk pakaian ketat seperti sports bra dan leggings, dengan target memangkas lead time dari dua sampai tiga bulan.
Ecotune mendapat dukungan untuk menguji coating tekstil 100 persen bio-based dan bebas plastik yang disebut price-neutral terhadap PVC dan polyurethane. AFFOA juga memilih platform SolvoGenesis milik MacroCycle Technologies untuk daur ulang polyester pascakonsumsi, yang menghasilkan resin PET kualitas virgin dengan pengurangan penggunaan energi lebih dari 80 persen dibanding PET konvensional.
Gentex Corporation juga akan bekerja dengan AFFOA untuk mengotomatisasi penjahitan komponen helm. Rangkaian inisiatif itu memperlihatkan satu arah yang makin tegas: material masa depan dituntut tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih efisien, transparan, dan siap masuk produksi skala nyata.
