Bahkan Dihantam Dan Dipotong, Baterai Blade 2 BYD Tetap Tak Menyembur Api

Baterai Blade generasi kedua milik BYD menarik perhatian setelah uji pembongkaran paksa justru tidak memunculkan api maupun asap. Paket baterai itu dihantam berulang kali, dipotong, dan dibedah dengan alat bengkel umum, tetapi tetap tidak berubah menjadi kebakaran.

Hasil itu membuat banyak orang menyoroti dua sisi sekaligus. Di satu sisi, struktur baterainya terlihat sangat tangguh, namun di sisi lain proses membukanya menunjukkan risiko besar yang tidak bisa diperlakukan seperti pekerjaan bengkel biasa.

Dibuka dengan cara destruktif

Pengujian dilakukan terhadap satu unit paket baterai komersial milik BYD. Tim penguji memakai gerinda sudut, linggis, gergaji listrik, dan palu besi untuk membongkarnya secara paksa.

Di dalam paket tersebut terdapat susunan seri 170 sel baterai. Struktur internalnya juga dilengkapi sistem penguat khusus untuk menjaga ketahanan fisik baterai.

Sebelum pembongkaran, tim blogger membekukan paket baterai selama sekitar 40 jam. Langkah itu diambil agar lem perekat menjadi rapuh dan pemisahan komponen bisa dipercepat.

Meski begitu, prosesnya tetap dilakukan secara destruktif. Tim menilai pemanasan dan bahan kimia penghilang perekat tidak aman digunakan di dekat sel baterai utuh.

Lem yang memperkuat sekaligus menyulitkan

Penggunaan lem perekat dalam jumlah besar pada modul dan kabel sinyal memberi penguatan tambahan pada fisik baterai. Namun, material yang sama juga dapat menyulitkan proses daur ulang saat baterai memasuki tahap akhir pakai.

Selama enam hingga delapan jam pembongkaran berlangsung, baterai terus dihantam dan dipotong berkali-kali. Percikan api sempat muncul di tengah proses itu, tetapi tidak berkembang menjadi asap atau kebakaran.

Temuan itu membuat rancangan baterai modern BYD kembali menjadi sorotan. Ketahanan terhadap benturan fisik terlihat sangat tinggi, tetapi pembongkarannya justru membutuhkan prosedur yang jauh lebih hati-hati.

Kritik soal keselamatan kerja

Aksi pembongkaran yang terbuka itu kemudian memancing kritik dari pengamat otomotif Tiongkok. Sorotan utama tertuju pada minimnya prosedur keselamatan selama pengujian berlangsung.

Mereka menilai tim penguji tidak menampilkan alat pelindung isolasi bertegangan tinggi maupun alat pemadam api ringan atau APAR. Dalam pengujian baterai kendaraan listrik, dua perlengkapan itu dianggap penting untuk menekan risiko jika terjadi insiden.

Kritik tersebut mempertegas perdebatan tentang cara menangani baterai kendaraan listrik saat dibongkar. Uji ekstrem memang bisa memperlihatkan kekuatan struktur, tetapi tetap menuntut perlindungan yang memadai bagi orang yang mengerjakannya.

Sudah dipakai di kendaraan listrik BYD

Teknologi yang diuji adalah baterai Blade 2.0 dengan pendingin refrigeran langsung. Sistem ini sudah digunakan pada SUV Fang Cheng Bao Ti3 yang dipasarkan BYD.

SUV tersebut mencatat penjualan 5.206 unit pada April 2026 menurut China EV DataTracker. Fakta itu menunjukkan teknologi baterai ini bukan sekadar konsep laboratorium, melainkan sudah hadir di kendaraan yang benar-benar dijual.

Karena itu, hasil pembongkaran ini mendapat perhatian lebih luas dari sekadar tontonan uji ekstrem. Ketika baterai tetap utuh tanpa api setelah dihantam berkali-kali, reputasi desain Blade 2 BYD sebagai baterai yang sangat tangguh ikut semakin kuat.

Berita Terkait