Bakom Buka Pintu Untuk New Media, Jangkauan Besar Jadi Alasan Utama

Jangkauan besar menjadi salah satu alasan Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI mulai membuka ruang yang lebih resmi bagi pelaku new media. Sejumlah platform digital yang kini dihimpun dalam New Media Forum disebut sudah memiliki audiens yang sangat luas, bahkan ada yang tembus puluhan juta pengikut dan miliaran tayangan.

Kepala Bakom RI, Muhammad Qodari, menilai kondisi itu membuat komunikasi publik tidak lagi bisa bertumpu pada media konvensional saja. Karena itu, Bakom mulai memperlakukan pelaku media digital yang selama ini kerap disebut homeless media sebagai mitra yang layak diajak bekerja sama.

New Media Forum jadi pintu kolaborasi baru

Qodari memperkenalkan New Media Forum sebagai wadah kolaborasi baru dalam ekosistem media digital Indonesia. Menurut dia, kelompok ini sedang bergerak dari label homeless media menuju new media yang punya bentuk organisasi lebih jelas.

Bakom melihat perubahan ini sebagai bagian dari perkembangan nyata dalam komunikasi publik. Qodari menegaskan bahwa media baru sudah menjadi kenyataan yang hadir di ruang digital dan tidak bisa diperlakukan sekadar pelengkap.

Lebih dari sekadar akun media sosial

Dalam penjelasannya, Qodari membedakan new media dari akun media sosial biasa. Ia menyebut adanya perusahaan, redaksi, dan alamat sebagai ciri bahwa new media memiliki struktur yang lebih jelas.

Berbeda dengan akun media sosial yang sering tidak memiliki lembaga atau identitas yang tegas, new media dinilai punya standar kerja yang lebih dekat dengan praktik jurnalistik. Qodari juga menyinggung pentingnya cover both side dan verifikasi agar informasi yang diproduksi lebih dapat dipercaya.

Dorongan agar kualitas ikut naik

Bakom tidak hanya ingin menjalin hubungan, tetapi juga mendorong peningkatan standar. Qodari menyebut new media perlu dirangkul agar kualitas dan standar produknya ikut naik dan mendekati media konvensional.

Ia menilai pendekatan terbuka akan lebih efektif dibanding menjauhkan diri dari pelaku media digital. Silaturahmi, menurut dia, juga akan memudahkan penyampaian masukan dan saran sehingga ruang dialog bisa berjalan lebih sehat.

Daftar pelaku yang ikut bergabung

Qodari menyebut sejumlah nama yang masuk dalam New Media Forum, mulai dari Folkative, Indozone, Dagelan, Indomusicgram, Infipop, Narasi, Muslimvlog, USS Feed, Bapak-Bapak ID, Menjadi Manusia, GNFI, Creativox, Kok Bisa, Taubaters, dan Pandemic Talks.

Ia juga menambahkan Kawan Hawa, Folix, Ngomongin Uang, Big Alpha, Good States, Hai Dulu, Proud Project, Vebis, Unframe, Kumpul Leaders, CXO Media, Volix Media, How To Do Nothing, Everless Media, Geometry Media, Folks Diary, Dream, Melodi Alam, NKTSHI, Modestalk, Lead Media, Nalar TV, Mahasiswa dan Jakarta, serta North West. Kehadiran deretan nama itu, kata Qodari, menunjukkan ekosistem komunikasi di Indonesia terus berkembang.

Pertimbangan dari sisi jangkauan

Besarnya pengaruh new media juga menjadi alasan lain Bakom membuka kerja sama. Qodari menyebut ada platform yang memiliki pengikut hingga 100 juta, dengan tayangan yang bisa mencapai miliaran, bahkan 4 sampai 5 miliar dalam satu bulan.

Bagi Bakom, skala seperti itu membuat engagement dengan new media menjadi langkah yang masuk akal. Kerja sama ini dipandang bisa membantu pemerintah menyesuaikan komunikasi publik dengan perubahan teknologi dan perilaku masyarakat di ruang digital.

Source: www.suara.com

Berita Terkait