Bakteri Pes Masih Bertahan Di Indonesia, Kenali Tanda Awal Dan Cara Penanganannya Dengan Cepat

Author: Redaksi Android62

Pes bisa berkembang cepat dan memerlukan penanganan segera setelah terdeteksi. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis, sehingga pengobatan utamanya adalah antibiotik untuk menghentikan infeksi dan mencegah penyebaran lebih jauh.

Kewaspadaan tetap penting karena penyebab pes masih ditemukan di sejumlah wilayah enzootik di Indonesia. Peneliti BRIN, Ristiyanto, menyebut bakteri penyebab pes beserta vektor dan reservoir seperti pinjal dan tikus masih ada, sehingga kondisi tidak adanya laporan kasus manusia bukan berarti ancaman ini benar-benar hilang.

Mengapa pes masih perlu diperhatikan

Pes pernah tercatat sebagai salah satu wabah paling mematikan di dunia, termasuk di Indonesia yang sempat mengalami wabah besar di Pulau Jawa pada awal abad ke-20. Situasi itu menjadi pengingat bahwa penyakit lama bisa muncul kembali jika pengawasan melemah.

Pusat Riset Kesehatan Masyarakat dan Gizi BRIN menyoroti adanya silent period, yaitu masa ketika penyakit tidak terdeteksi dalam waktu lama tetapi tetap berpotensi muncul lagi. Karena itu, pemantauan terhadap tikus dan pinjal tetap menjadi bagian penting dalam pencegahan.

Sumber penularan yang perlu dikenali

Bakteri Yersinia pestis menyebar terutama melalui pinjal atau kutu yang hidup pada binatang pengerat seperti tikus, kelinci, dan tupai. Jalur penularan ini membuat kontak dengan hewan pembawa vektor menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Pada bentuk tertentu, pes juga dapat menular dari manusia ke manusia melalui droplet, terutama dari penderita dengan infeksi saluran napas. Artinya, risiko penularan tidak hanya datang dari hewan, tetapi juga dapat terjadi antarindividu pada kondisi tertentu.

Tiga bentuk pes dan ciri penularannya

Pes memiliki beberapa jenis yang perlu dikenali karena masing-masing berkembang dengan cara berbeda. Bubonic plague muncul setelah gigitan pinjal pada hewan pengerat dan menjadi bentuk yang sering dikaitkan dengan pembengkakan kelenjar getah bening.

Septicemic plague terjadi ketika bakteri masuk langsung ke aliran darah lalu berkembang biak di sana. Pneumonic plague menyebar lewat udara melalui batuk atau bersin dari penderita terinfeksi, sehingga perlu perhatian khusus karena penularannya dapat berlangsung cepat.

Gejala awal yang patut diwaspadai

Pada bubonic plague, tanda yang paling khas adalah pembengkakan kelenjar getah bening di ketiak, selangkangan, atau leher yang terasa lunak dan nyeri. Ukuran benjolan ini bisa bervariasi, mulai dari setengah inci hingga empat inci.

Keluhan lain yang dapat muncul meliputi demam tinggi mendadak, menggigil, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot, lemas, hingga kejang. Jika gejala seperti ini muncul setelah paparan yang berisiko, pemeriksaan medis perlu segera dilakukan.

Gejala pada septicemic dan pneumonic plague

Septicemic plague biasanya ditandai demam tinggi, menggigil, lemas, sakit perut, diare, mual, muntah, pendarahan, syok, dan kematian jaringan. Karena menyerang aliran darah, jenis ini dapat berkembang sangat cepat dan memburuk dalam waktu singkat.

Sementara itu, pneumonic plague menyerang paru-paru dan bisa muncul dalam beberapa jam setelah paparan. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk berdarah atau berlendir, nyeri dada, sesak napas, sakit perut, muntah, sakit kepala, dan kelemahan tubuh.

Langkah pengobatan yang harus segera dilakukan

Pes harus diobati segera setelah diagnosis ditegakkan karena infeksinya tidak memberi banyak waktu. Antibiotik menjadi terapi utama untuk membunuh bakteri dan mencegah penyebaran penyakit ke bagian tubuh lain.

Dalam kondisi tertentu, penderita juga memerlukan cairan infus, oksigen, dan alat bantu pernapasan sesuai kondisi klinis. Pengobatan biasanya berlangsung selama beberapa minggu sampai gejala mulai membaik, sehingga keterlambatan penanganan sangat berisiko.

BRIN menilai pes tidak layak dianggap selesai hanya karena kasus manusia tidak lagi dilaporkan dalam beberapa waktu. Selama bakteri, pinjal, dan tikus masih ditemukan di wilayah tertentu, kewaspadaan terhadap gejala seperti demam tinggi, pembengkakan kelenjar, batuk berdarah, dan sesak napas tetap harus dijaga.

Source: lifestyle.bisnis.com
Berita Terbaru