Deteksi dini menjadi langkah yang semakin penting ketika kanker payudara dan kanker rahim atau endometrium lebih mendominasi ancaman kanker pada perempuan. Perubahan peta risiko ini berlangsung di tengah gaya hidup perkotaan yang cenderung pasif dan berkaitan dengan kenaikan berat badan.
Pemeriksaan berkala memberi kesempatan menemukan kanker pada tahap lebih awal, ketika peluang pengobatan efektif masih lebih besar. Langkah ini juga dinilai penting untuk membantu mempertahankan kualitas hidup pasien.
Pergeseran ancaman kanker perempuan
Dalam dua dekade terakhir, kekhawatiran utama terhadap kanker pada perempuan disebut mengalami perubahan. Kanker serviks yang sebelumnya menjadi perhatian besar kini diikuti dominasi kanker payudara dan kanker rahim.
Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr See Hui Ti, menilai pola hidup modern perlu menjadi perhatian. Risiko kanker tidak terbentuk oleh satu kebiasaan tunggal, melainkan hasil interaksi sejumlah faktor dalam jangka panjang.
Minimnya aktivitas fisik, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, serta obesitas termasuk persoalan yang kerap menyertai kehidupan kota. Faktor-faktor tersebut disebut dapat meningkatkan risiko kanker payudara maupun kanker rahim.
| Kategori Faktor Risiko | Contoh | Kemungkinan Pengendalian |
|---|---|---|
| Riwayat bawaan | Riwayat keluarga dan mutasi genetik | Tidak dapat diubah |
| Gaya hidup | Obesitas, kurang aktivitas fisik, merokok, alkohol, pola makan tinggi gula | Dapat dimodifikasi |
Faktor yang dapat dikendalikan
Menjaga berat badan ideal dan berolahraga rutin menjadi bagian dari upaya menekan risiko dari sisi gaya hidup. Menghindari rokok dan alkohol juga termasuk langkah yang disebut dapat mengurangi risiko secara keseluruhan.
Dr See menjelaskan bahwa kanker payudara tidak hanya berkaitan dengan faktor keturunan. Predisposisi genetik, pengaruh hormon, dan pilihan hidup sehari-hari dapat saling memengaruhi perkembangan penyakit ini.
Menurut penjelasan Dr See yang dikutip health.detik.com, paparan estrogen dalam jangka panjang, menopause terlambat, dan tidak pernah melahirkan merupakan faktor risiko yang perlu dipahami. Obesitas, merokok, serta konsumsi alkohol juga masuk dalam daftar faktor yang dapat meningkatkan risiko.
Karakter tumor menentukan penanganan
Kanker payudara berkembang secara bertahap, dimulai dari pertumbuhan sel abnormal di jaringan payudara. Sel tersebut dapat menginvasi jaringan di sekitarnya dan berpotensi menyebar ke organ lain.
Setiap tumor dapat memiliki karakter biologis yang berbeda sehingga pemeriksaan histologi dan molekuler diperlukan untuk menentukan terapi. Pemeriksaan itu membantu dokter mengenali subtipe kanker yang dialami pasien.
Subtipe seperti hormone receptor-positive, HER2-positive, dan triple-negative dapat memengaruhi pilihan penanganan. Dokter dapat menyesuaikan terapi hormonal, terapi target, kemoterapi, hingga imunoterapi berdasarkan kondisi biologis tumor.
AI membantu pembacaan mammografi
Teknologi kecerdasan buatan atau AI mulai digunakan untuk membantu mengurangi kemungkinan kesalahan manusia saat membaca mammografi. Namun, teknologi tersebut tidak menggantikan penilaian klinis dokter saat menentukan keputusan terapi.
Riwayat keluarga dan mutasi genetik memang tidak dapat diubah, tetapi sebagian risiko gaya hidup masih dapat ditekan. Dr See menekankan, “Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien memperoleh pengobatan yang efektif sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang baik.”
