Fasilitas Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik atau PSEL di Denpasar Raya ditargetkan mulai beroperasi pada akhir 2027. Pembangkit ini disiapkan untuk mengolah hingga 1.500 ton sampah per hari dan mengubahnya menjadi listrik.
Proyek tersebut menjadi salah satu langkah paling agresif pemerintah dalam merespons tekanan sampah yang terus membesar di Bali. Di tengah kondisi Tempat Pemrosesan Akhir Suwung yang kian penuh, fasilitas baru ini diproyeksikan menjadi jalan keluar jangka panjang.
Beban Sampah Bali Mencapai Titik Kritis
Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari mengatakan Presiden RI Prabowo Subianto telah mengingatkan bahwa persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani dengan cara lama. Menurut dia, jika dibiarkan, tempat penampungan sampah pada 2028 berisiko lumpuh total karena kelebihan kapasitas.
Situasi itu terlihat nyata di Bali, terutama pada kawasan Denpasar dan Badung. Dari total timbulan sekitar 1.600 ton sampah per hari, lebih dari 72 persen masih dibuang langsung ke TPA.
Proyek Perdana dari Aturan Baru
Peletakan batu pertama fasilitas PSEL Denpasar Raya telah dilakukan Danantara Indonesia pada 8 Juli 2026. Proyek ini menjadi implementasi perdana Peraturan Presiden Nomor 109 Tahun 2025 tentang Penanganan Sampah Perkotaan Melalui Pengolahan Sampah Menjadi Energi Terbarukan Berbasis Teknologi Ramah Lingkungan.
Nilai investasi fasilitas tersebut mencapai Rp 3 triliun. Teknologi yang dipakai adalah moving grate incinerator, yaitu sistem yang mengaduk dan mendorong sampah secara otomatis melewati ruang bakar bersuhu tinggi.
| Aspek | Rincian |
|---|---|
| Lokasi | Denpasar Raya, Bali |
| Target operasi | Akhir 2027 |
| Kapasitas olah | 1.500 ton per hari |
| Nilai investasi | Rp 3 triliun |
| Teknologi | Moving grate incinerator |
Volume Sampah Ditargetkan Turun 80 hingga 90 Persen
Sistem ini diklaim mampu mereduksi volume sampah sekitar 80 hingga 90 persen. Sisa timbulan tetap akan ditangani melalui pendekatan Reduce, Reuse, dan Recycle dari sumbernya.
Qodari menegaskan fasilitas ini bukan sekadar bangunan industri, melainkan solusi jangka panjang untuk memulihkan hak masyarakat atas lingkungan yang bersih dan sehat. Ia juga menilai proyek PSEL Bali dapat menjadi pelopor bagi wilayah lain di Indonesia.
Ke depan, fasilitas serupa ditargetkan hadir di 34 kawasan aglomerasi. Langkah itu diharapkan membantu penyelesaian persoalan sampah di 60 hingga 70 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Selain dampak lingkungan, proyek ini diperkirakan memberi efek ekonomi yang besar. Qodari menyebut PSEL Denpasar Raya berpotensi menyerap sekitar 1.200 lapangan kerja hijau serta menarik investasi teknologi hijau.
Ia berharap pembangunan fasilitas ini dapat mempercepat pembersihan lingkungan, menekan tumpukan sampah yang mengancam kesehatan warga, dan ikut mengurangi emisi gas rumah kaca. Pemerintah menyatakan komitmennya untuk memastikan proyek berjalan cepat dan tepat sasaran.
