Cadangan Rudal AS Menipis Usai Iran, Ancaman Baru Mengarah ke Indo-Pasifik

Author: Redaksi Android62

Persediaan rudal utama militer Amerika Serikat kini berada di bawah tekanan serius setelah serangan terhadap Iran menguras stok dalam jumlah besar. Para analis menilai kondisi ini tidak hanya menjadi masalah operasional, tetapi juga dapat membuka risiko baru di kawasan Indo-Pasifik jika Washington harus menghadapi krisis lain secara bersamaan.

Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan laju pemakaian amunisi dalam beberapa hari terakhir sangat mengkhawatirkan. Ia menilai, jika perang terus berlangsung dengan intensitas seperti lima hari terakhir, cadangan rudal akan semakin terkuras dan memunculkan tingkat risiko yang lebih tinggi, terutama di Indo-Pasifik.

Stok terkuras jauh lebih cepat daripada pengisian ulang

Dalam fase awal konflik yang disebut Operasi Epic Fury, militer AS dilaporkan memakai ribuan rudal presisi jarak jauh dan rudal pertahanan udara untuk menahan serangan Iran. Michael O’Hanlon dari Brookings Institution menyebut posisi stok saat ini jauh dari ideal dan menegaskan bahwa persediaan senjata memang lebih rendah dari yang diinginkan.

Jenis Rudal Perkiraan Pemakaian Pengisian Ulang
THAAD Setengah stok telah habis Tidak ada pengiriman yang dijadwalkan sepanjang 2026
Patriot Hampir separuh stok telah habis Sekitar 20 rudal baru per bulan
Tomahawk Sekitar 30% stok telah habis Sekitar 15 rudal baru per bulan

Analisis CSIS menyebut bahwa hingga pertempuran besar dengan Iran mereda pada April lalu, Pentagon telah menghabiskan sedikitnya setengah stok pencegat rudal balistik THAAD, hampir separuh rudal pertahanan udara Patriot, dan sekitar 30% rudal jelajah Tomahawk. Estimasi itu sebelumnya juga dikonfirmasi CNN melalui sejumlah sumber yang mengetahui data internal Departemen Pertahanan AS.

Masalah berikutnya adalah kecepatan penggantian yang sangat lambat. Cancian menjelaskan bahwa Pentagon saat ini hanya menerima sekitar 15 rudal Tomahawk dan 20 rudal Patriot baru setiap bulan, sedangkan pengiriman THAAD tidak dijadwalkan sepanjang 2026.

Butuh bertahun-tahun untuk kembali ke level semula

Menurut perhitungan CSIS, persediaan rudal membutuhkan setidaknya tiga tahun untuk kembali ke tingkat sebelum perang. Elaine McCusker dari American Enterprise Institute bahkan memperkirakan pemulihan sebagian besar jenis persenjataan bisa memakan waktu dua hingga lima tahun.

John Ferrari, pakar pengadaan pertahanan, mengatakan Kongres belum mengalokasikan dana khusus untuk mengganti rudal yang sudah dipakai sejak perang dimulai. Pemerintahan Presiden Donald Trump memang telah meminta tambahan anggaran untuk menutup biaya konflik Iran, tetapi usulan itu diperkirakan akan menghadapi pembahasan yang sulit.

Di sisi produksi, Pentagon menyatakan tengah mempercepat perluasan kapasitas industri pertahanan. Trump juga mengaktifkan Defense Production Act pada Juni untuk memangkas hambatan regulasi dan mempercepat produksi rudal.

“Departemen secara agresif mengejar inovasi terbaik Amerika untuk meningkatkan produksi dalam skala besar sekaligus memperkuat ketahanan rantai pasok,” kata seorang pejabat Pentagon.

Namun Cancian menilai langkah itu hanya memberi dampak terbatas dalam jangka pendek, karena peningkatan kapasitas produksi tetap membutuhkan waktu. Untuk meringankan tekanan, AS juga memberi lisensi kepada negara mitra seperti Jerman dan Ukraina agar dapat memproduksi rudal Patriot di dalam negeri.

Meski begitu, prosesnya tidak bisa berlangsung cepat. Jepang disebut membutuhkan sekitar tiga tahun untuk membangun fasilitas produksi Patriot, sementara Jerman belum memproduksi rudal tersebut meski proyeknya telah dimulai sejak 2022.

Para analis menilai pengurasan stok rudal yang terus berlanjut dapat menggerus daya tangkal AS dalam jangka panjang. O’Hanlon mengatakan kemampuan pencegahan terhadap China maupun Korea Utara belum melemah saat ini, tetapi ia mengingatkan bahwa efektivitas deterrence bisa menurun jika persediaan senjata terus menyusut.

Tekanan strategis yang meluas

Kekhawatiran terbesar bukan hanya soal keterbatasan stok, tetapi juga soal kebutuhan Washington mempertahankan kesiapan di banyak medan sekaligus. Bila cadangan terus berkurang, ruang aman AS untuk merespons krisis lain akan semakin sempit.

Situasi ini membuat konflik di Iran memiliki implikasi yang lebih luas daripada sekadar operasi militer di Timur Tengah. Dampaknya kini ikut dipandang sebagai sinyal peringatan bagi kalkulasi pertahanan Amerika di Indo-Pasifik.

Source: www.cnbcindonesia.com
Berita Terbaru