Fork OrcaSlicer-bambulab yang sempat mengembalikan fitur direct cloud printing ke printer Bambu Lab akhirnya ditarik dari publik setelah muncul ancaman tindakan hukum. Kabar ini memicu perhatian besar karena fungsi yang sebelumnya hilang sempat dipulihkan, lalu lenyap lagi dalam waktu singkat.
Perubahan tersebut membuat banyak pengguna kembali berada di situasi serba terbatas. Mereka yang ingin memakai OrcaSlicer untuk mengirim hasil slicing langsung ke printer kini harus menerima alur baru melalui Bambu Connect, bukan lagi jalur lama yang lebih ringkas.
Fitur yang dulu bisa dipakai, lalu berubah
Masalah ini berawal dari perubahan kebijakan akses yang disebut terjadi pada Januari 2025. Sebelum itu, pengguna bisa mengirim file cetak dari OrcaSlicer ke printer Bambu Lab lewat cloud dengan langkah yang jauh lebih sederhana.
Setelah perubahan diterapkan, proses itu tidak lagi berjalan seperti sebelumnya. Bambu Lab tetap mengizinkan OrcaSlicer digunakan, tetapi koneksi ke printer harus melewati Bambu Connect sebagai perantara.
Bagi sebagian pengguna, tambahan aplikasi tersebut terasa seperti hambatan yang tidak perlu. Pengembang OrcaSlicer juga disebut tidak menginginkan pengalaman yang sebelumnya cukup dikerjakan melalui satu aplikasi berubah menjadi bergantung pada dua aplikasi sekaligus.
Fork yang sempat mengembalikan jalur lama
Di tengah keluhan komunitas, Paweł Jarczak membuat fork bernama OrcaSlicer-bambulab. Tujuan utamanya adalah menghidupkan kembali direct cloud printing yang sudah tidak tersedia di jalur resmi.
Proyek itu sempat merilis beberapa versi dan dilaporkan berhasil memulihkan fungsi yang dicari banyak pengguna. Namun masa aktif publiknya tidak bertahan lama karena seluruh rilis kemudian dihapus setelah ada kontak dari Bambu Lab.
Jarczak menjelaskan di halaman GitHub proyeknya bahwa Bambu Lab disebut telah menyiapkan surat cease and desist. Surat seperti ini merupakan peringatan hukum agar pihak yang dituju menghentikan aktivitas yang dipersoalkan.
Tuduhan yang diarahkan Bambu Lab
Menurut penjelasan Jarczak, Bambu Lab mengajukan sejumlah keberatan terhadap fork tersebut. Tuduhan yang disebutkan mencakup penyamaran sebagai Bambu Studio, melewati kontrol otorisasi, melanggar Terms of Use, melakukan reverse engineering, serta memberi peluang pada fork yang dimodifikasi untuk mengirim perintah sewenang-wenang ke printer.
Jarczak mengatakan telah meminta rincian yang lebih jelas atas tuduhan itu. Akan tetapi, respons lanjutan yang diterima tetap berupa daftar keberatan yang luas, termasuk pengulangan soal dugaan reverse engineering.
Meski ia tidak merasa melakukan kesalahan, Jarczak memilih menarik aplikasinya secara sukarela. Akibatnya, versi publik OrcaSlicer-bambulab tidak lagi tersedia, padahal proyek itu sebelumnya sempat mengembalikan fitur yang hilang.
Bantahan dari sisi pengembang
Jarczak juga menyampaikan bantahan atas sebagian tuduhan yang diarahkan kepadanya. Ia menyebut Bambu Studio menggunakan lisensi AGPL-3.0, sementara plugin yang dibutuhkan untuk cloud printing disebut sebagai komponen opsional berbasis pustaka non-free.
Dari sudut pandang itu, ia menilai proyeknya tidak mendistribusikan ulang kode proprietari milik Bambu Lab. Ia juga menegaskan bahwa proyek tersebut dibangun dari source code Bambu Studio yang tersedia, sehingga menurutnya perbedaan itu penting dalam menilai dasar keberatan hukum.
Namun, penjelasan tersebut tetap merupakan posisi pengembang, bukan putusan hukum. Artikel referensi juga menyebut Bambu Lab belum memberikan penjelasan terbuka dari sisi perusahaan terkait rangkaian kejadian ini.
Respons keras dari komunitas pengguna
Kasus ini cepat memancing reaksi keras di komunitas printer 3D. Di subreddit Bambu Lab, sejumlah komentar menyampaikan kekecewaan terhadap arah kebijakan perusahaan.
Ada pula komentar yang menyebut Bambu Lab sebagai “Nintendo of 3D printing.” Ungkapan itu menunjukkan anggapan bahwa perusahaan menerapkan kontrol yang sangat ketat terhadap ekosistem perangkat dan perangkat lunaknya.
Persoalan ini menjadi sensitif karena menyentuh dua kepentingan yang saling bertabrakan. Di satu sisi ada alasan perusahaan untuk menjaga keamanan, otorisasi, dan integritas sistem printer, sementara di sisi lain ada tuntutan pengguna dan pengembang agar perangkat lunak tetap fleksibel dan kompatibel.
Kasus OrcaSlicer-bambulab memperlihatkan bahwa perubahan teknis pada firmware dan akses cloud bisa berkembang menjadi sengketa yang lebih besar. Yang dipersoalkan bukan hanya fitur yang hilang, tetapi juga batas kendali modifikasi dan interoperabilitas dalam ekosistem printer 3D tertutup.
Source: www.xda-developers.com






