Bank Jatim Makin Dekat ke Puncak Nasional, Soliditasnya Dipuji Anggota DPD RI

Author: Redaksi Android62

Dukungan terhadap langkah Bank Jatim untuk naik kelas di industri perbankan daerah datang dari Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Dr. Lia Istifhama. Ia menilai bank milik daerah itu tampil sangat solid karena mampu menjaga kinerja, pelayanan publik, dan kontribusi pada ekonomi daerah secara seimbang.

Penilaian itu bukan tanpa alasan. Bank Jatim disebut mencatat laba tertinggi di antara bank pembangunan daerah, sekaligus tetap konsisten mendukung ekosistem ekonomi di wilayahnya.

Kinerja yang dinilai seimbang

Lia menyebut Bank Jatim tidak hanya kuat dalam angka, tetapi juga memberi dampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, kombinasi antara profit, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi daerah membuat bank tersebut layak disebut sebagai BUMD paling solid.

“Bank Jatim hari ini menunjukkan bahwa BUMD bisa naik kelas, tidak hanya kuat secara angka, tetapi juga berdampak langsung bagi masyarakat. Ini yang saya sebut sebagai BUMD paling solid, karena mampu menjaga keseimbangan antara profit, pelayanan publik, dan penguatan ekonomi daerah,” ujar Lia Istifhama.

Transformasi digital dan penguatan KUB

Salah satu faktor yang membuat prospeknya dinilai makin terbuka adalah transformasi digital yang terus dijalankan perseroan. Selain itu, penguatan Kelompok Usaha Bank atau KUB dipandang sebagai strategi penting untuk memperluas layanan dan meningkatkan daya saing di level nasional.

Lia menilai roadmap yang jelas dan kolaborasi antarbadan usaha pembangunan daerah akan menjadi modal besar bagi Bank Jatim. Ia optimistis bank tersebut bukan hanya mampu bertahan sebagai yang terbaik di daerah, tetapi juga bisa menembus posisi nomor satu secara nasional.

Arah bisnis yang tidak semata mengejar laba

Di sisi lain, Direktur Utama Bank Jatim, Winardi Legowo, menegaskan bahwa arah bisnis perseroan tidak berhenti pada pencarian keuntungan. Bank Jatim juga menempatkan perluasan inklusi keuangan, peningkatan literasi masyarakat, dan pembukaan akses pembiayaan yang lebih luas sebagai tujuan utama.

Untuk mendukung itu, Bank Jatim kini ditopang 244 kantor cabang yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk Jakarta. Perseroan juga terus memperkuat layanan mobile banking agar nasabah bisa bertransaksi dengan lebih mudah kapan pun dan di mana pun.

Fokus kredit produktif dan penguatan modal

Kemudahan layanan diarahkan untuk memperbesar penyaluran kredit ke sektor produktif. Manajemen mengakui porsi kredit Bank Jatim saat ini masih didominasi kredit konsumtif sebesar 55 persen, namun pembiayaan untuk usaha produktif termasuk UMKM tetap didorong.

Bank Jatim juga menempatkan penguatan struktur permodalan, percepatan transformasi digital, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai tiga pilar utama agar tetap kompetitif di tengah perubahan industri perbankan.

Roadmap jangka panjang dan sinergi antardaerah

Manajemen telah menyusun roadmap bisnis jangka panjang untuk periode 2027–2028. Ada lima fokus utama di dalamnya, yaitu penguatan tata kelola perusahaan, optimalisasi ekosistem bisnis, transformasi teknologi informasi, pengembangan human capital, dan optimalisasi KUB.

Winardi menjelaskan bahwa penguatan KUB penting karena selaras dengan kebijakan Otoritas Jasa Keuangan yang mendorong pemenuhan modal inti minimum Rp3 triliun bagi seluruh BPD. Melalui skema itu, Bank Jatim membuka peluang sinergi dengan sejumlah BPD lain di Indonesia.

Fokus Roadmap Isi Utama
Tata kelola perusahaan Penguatan prinsip pengelolaan perseroan
Ekosistem bisnis Optimalisasi jejaring dan aktivitas usaha
Teknologi informasi Transformasi sistem dan layanan digital
Human capital Pengembangan sumber daya manusia
KUB Optimalisasi kolaborasi antar-BPD

“Kami membuka peluang sinergi KUB dengan lima BPD lainnya di Indonesia, seperti BPD NTT dan NTB. Sinergi ini akan membuat pondasi perbankan daerah makin kuat. Jika ada pengusaha di daerah mereka yang butuh fasilitas pembiayaan besar, Bank Jatim siap meng-cover,” kata Winardi.

Dukungan OJK untuk ketahanan BPD

Dukungan atas penguatan KUB juga datang dari OJK. Deputi Komisioner Pengawas Bank Pemerintah, Syariah, dan Daerah OJK, Defri Andri, menilai industri BPD memiliki ketahanan yang baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Ia mengungkapkan tingkat Capital Adequacy Ratio industri BPD berada di angka 26,19 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata CAR industri perbankan nasional yang sebesar 25,09 persen. Menurut Defri, sinergi melalui KUB bisa memperkuat stabilitas industri perbankan daerah karena BPD yang kuat dapat membantu pengembangan BPD lain.

Defri berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada aktivitas perbankan ritel. Ia menekankan sinergi itu juga harus mendorong akselerasi ekonomi riil antardaerah agar manfaatnya terasa lebih luas bagi dunia usaha dan masyarakat.

Source: radarbangsa.co.id
Berita Terbaru