Dengan laba bersih Rp15,4 triliun pada kuartal I-2026, Bank Mandiri membuka tahun dengan kinerja yang tampak kuat di tengah persaingan perbankan yang ketat. Angka itu naik 16,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika laba perseroan masih berada di Rp13,19 triliun.
Pencapaian tersebut tidak berdiri sendiri. Di balik kenaikan laba, Bank Mandiri juga mencatat laju penyaluran kredit dan penghimpunan dana pihak ketiga yang sama-sama bergerak lebih cepat dibandingkan rata-rata industri.
Kredit menjadi motor utama pertumbuhan
Sepanjang tiga bulan pertama tahun ini, kredit Bank Mandiri mencapai Rp1.430 triliun. Penyaluran itu tumbuh 17,4 persen secara tahunan dan melampaui pertumbuhan kredit industri perbankan yang tercatat 9,37 persen.
Perbedaan laju tersebut menunjukkan bank ini memperluas pembiayaan dengan cukup agresif. Semakin besar kredit yang tersalurkan, semakin besar pula potensi pendapatan bunga yang masuk ke bank dan memberi dorongan langsung pada laba bersih.
Dana pihak ketiga ikut menguat
Dari sisi pendanaan, Bank Mandiri juga menunjukkan performa yang solid. Dana pihak ketiga atau DPK tercatat sebesar Rp1.675 triliun, tumbuh 21,1 persen secara tahunan.
Pertumbuhan itu kembali lebih tinggi daripada industri yang berada di level 13,2 persen. Sumber dana yang kuat seperti ini penting untuk menjaga likuiditas saat bank terus mengembangkan pembiayaan di pasar.
Dengan DPK yang besar, ruang gerak bank untuk menyalurkan kredit menjadi lebih terjaga. Kondisi tersebut juga membantu menjaga kestabilan operasional di tengah kebutuhan dana yang terus bergerak.
Kualitas aset tetap terjaga
Di tengah ekspansi yang cepat, Bank Mandiri masih mampu menjaga kualitas kreditnya. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan berada di level 0,98 persen.
Angka itu jauh di bawah rata-rata NPL industri yang tercatat 2,17 persen. Selisih ini memberi gambaran bahwa pertumbuhan kredit masih dibarengi disiplin pengelolaan risiko yang baik.
NPL yang rendah juga ikut mendukung laba. Ketika kualitas aset terpelihara, kebutuhan pembentukan cadangan kerugian tidak menjadi terlalu besar dan efisiensi bank bisa tetap terjaga.
Awal tahun yang solid
Kombinasi antara laba yang naik, kredit yang tumbuh kencang, DPK yang kuat, dan kualitas aset yang terkontrol membuat posisi Bank Mandiri pada kuartal I-2026 terlihat kokoh. Kinerja itu memperlihatkan bahwa ekspansi bisnis berjalan seiring dengan pengelolaan risiko yang tetap disiplin.
Di saat persaingan industri perbankan masih ketat, Bank Mandiri berhasil mencatat sejumlah indikator utama yang bergerak di atas pasar. Selama tiga unsur utama itu tetap terjaga, yakni pertumbuhan kredit, kekuatan dana pihak ketiga, dan mutu aset, ruang pertumbuhan perseroan masih terbuka pada periode berikutnya.







