Di Kampung Masigit, Kecamatan Bojonegara, Kabupaten Serang, sampah rumah tangga kini tidak lagi berhenti sebagai limbah yang menumpuk. Melalui Bank Sampah MATA, atau Masigit Asri Tanpa Sampah, warga bisa menukar sampah terpilah dengan uang tunai sesuai berat setoran yang dibawa.
Gerakan itu lahir dari inisiatif Amaliyah, nasabah PNM Mekaar yang memulai usaha kue rumahan lewat Amalia Kitchen. Dari dapur kecil itulah muncul rangkaian upaya yang tidak hanya membantu ekonomi keluarga, tetapi juga mengubah cara warga memandang sampah di lingkungan sekitar.
Dari usaha kue ke pengelolaan limbah
Saat usaha kue rumahan berkembang, volume sampah ikut meningkat. Amaliyah tidak memilih jalan instan dengan membuang semua limbah produksi, melainkan mengolah sebagian sampah usaha menjadi barang yang masih memiliki kegunaan.
Sebagian sampah dari aktivitas usaha itu diubah menjadi aromaterapi dan sofa ecobrick. Langkah ini memperlihatkan bahwa limbah rumah tangga maupun limbah usaha kecil masih bisa masuk ke tahap pengolahan lanjutan, bukan langsung berakhir di tempat pembuangan.
Pendekatan tersebut membuat produksi kue dan pengelolaan sampah berjalan beriringan. Bagi Amaliyah, aktivitas usaha tidak hanya soal menjual kue, tetapi juga soal menemukan cara agar sisa produksi memberi manfaat baru.
Gerakan warga lewat kebiasaan memilah dari rumah
Dari langkah kecil di rumah, ajakan kemudian meluas ke lingkungan sekitar. Amaliyah mendorong ibu-ibu di kampungnya untuk memilah sampah sejak dari rumah masing-masing sebelum dikumpulkan bersama.
Ajakan itu melahirkan Bank Sampah MATA sebagai wadah warga untuk mengelola sampah secara lebih tertib. Program ini tumbuh menjadi gerakan komunitas yang melibatkan warga setempat dalam pengurangan sampah dari sumbernya.
Kini, Bank Sampah MATA memiliki 86 anggota aktif. Setiap warga yang menyetor sampah terpilah mendapat imbalan uang tunai sesuai berat sampah yang diserahkan, sehingga ada dorongan ekonomi yang terasa langsung di tingkat keluarga.
Dukungan modal dan pembinaan memperkuat langkah
Perjalanan tersebut mendapat penguatan ketika PNM Mekaar memberikan dukungan pada 2023. Bentuk dukungan itu berupa tambahan modal, pendampingan, dan pembinaan untuk mengembangkan usaha sekaligus memperluas manfaat bagi warga sekitar.
Dengan dorongan tersebut, Amaliyah tidak hanya mengelola usaha pribadi, tetapi juga memperkuat peran sosial yang sudah tumbuh dari kebiasaan sederhana. Program pendampingan membantu gerakan yang awalnya kecil menjadi lebih terarah dan berkelanjutan.
Model seperti ini juga mengubah cara pandang warga terhadap sampah. Barang yang semula dianggap tidak bernilai kini dapat menjadi sumber pemasukan tambahan dan mendorong kebiasaan memilah limbah rumah tangga.
Manfaat sosial ikut mengalir ke warga
Gerakan ini tidak berhenti pada pengumpulan sampah dan pembagian imbalan. Sebagian keuntungan dari kegiatan tersebut juga disisihkan untuk membantu dhuafa dan anak yatim di Kampung Masigit.
Dengan begitu, Bank Sampah MATA tidak hanya memberi manfaat ekonomi bagi anggota, tetapi juga menghadirkan dukungan sosial bagi warga yang membutuhkan. Dampaknya menyentuh lebih banyak orang dan memperkuat solidaritas di lingkungan sekitar.
Amaliyah juga menyampaikan bahwa perkembangan ini jauh melampaui perkiraannya saat memulai dari kegiatan ibu-ibu di lingkungan kampung. Ia menyebut, upaya kecil itu kemudian berkembang hingga mendapat pengakuan dalam ajang Mekaarpreneur.
Dampak yang terlihat pada jumlah sampah
Hasil yang paling mudah dilihat dari gerakan ini adalah penurunan volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sebelumnya, volume sampah di wilayah tersebut mencapai 900 kilogram per bulan.
Setelah pengelolaan berbasis warga berjalan lebih tertib, jumlah itu turun menjadi sekitar 400 kilogram per bulan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pemilahan dan pengelolaan sampah dari sumbernya bisa memberi hasil nyata bila dilakukan secara konsisten.
Di Kampung Masigit, sampah perlahan berubah posisi dari beban menjadi sumber manfaat. Dari dapur kue Amaliyah, gerakan ini berkembang menjadi penghubung antara ekonomi keluarga, kepedulian sosial, dan tanggung jawab warga terhadap lingkungan.







