Banser Dipasang Jadi Penjaga Keteduhan Jateng, Luthfi Soroti Bahaya Hoaks dan Konflik Sosial

Author: Redaksi Android62

Ancaman hoaks, intoleransi, dan politik identitas kembali menjadi sorotan di Jawa Tengah. Di tengah situasi yang dinilai mudah memanas, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta Banser tampil sebagai penjaga keteduhan sosial.

Luthfi menilai Banser punya posisi strategis untuk membantu meredam gejolak di masyarakat. Ia melihat organisasi ini perlu hadir sebagai perekat sosial agar isu yang beredar cepat tidak langsung memicu kegaduhan di lapangan.

Pernyataan itu ia sampaikan saat membuka Kursus Banser Pimpinan atau Susbanpim Angkatan VIII di Pusdik Binmas Banyubiru, Kabupaten Semarang, Rabu (13/5/2026). Dalam kesempatan itu, Luthfi menekankan bahwa peran Banser tidak hanya berkaitan dengan pencegahan intoleransi dan radikalisme.

Menurut Luthfi, Banser juga aktif dalam kegiatan sosial serta penanganan kebencanaan. Karena itu, keberadaan organisasi ini dinilai dekat dengan kebutuhan masyarakat sehari-hari, terutama ketika situasi sosial sedang rawan tersulut.

Ia meminta para kader Banser memiliki disiplin tinggi, loyalitas terhadap organisasi, wawasan kebangsaan, jiwa kepemimpinan, dan kesiapan menghadapi tantangan zaman yang makin kompleks. Bagi Luthfi, bekal itu penting agar Banser bisa menjalankan peran sosialnya secara efektif.

Waspada disinformasi dan konflik horizontal

Luthfi menyoroti arus disinformasi dan hoaks di media sosial yang dapat memicu salah paham hingga konflik horizontal. Menurut dia, perkembangan informasi yang sangat cepat membuat masyarakat perlu ruang sosial yang tetap tenang dan tidak mudah tersulut.

Ia juga mengingatkan bahwa radikalisme, intoleransi, dan politik identitas masih menjadi tantangan bersama. Karena itu, semua elemen masyarakat diminta ikut mengantisipasi persoalan tersebut sejak dini sebelum berubah menjadi gesekan yang lebih luas.

Dalam pandangannya, Banser bisa membantu menjaga suasana tetap teduh ketika isu berkembang liar. Peran itu dianggap penting agar masyarakat tidak mudah terprovokasi oleh kabar yang belum jelas arah dan dampaknya.

Ancaman bencana ikut jadi perhatian

Selain persoalan sosial, Luthfi menekankan tingginya ancaman bencana di Jawa Tengah. Ia menyebut banjir, longsor, rob, dan aktivitas gunung api sebagai risiko yang menuntut kesiapsiagaan bersama.

Dalam konteks itu, Banser juga dinilai punya peran yang bisa membantu masyarakat saat keadaan darurat. Kesiapan menghadapi kebencanaan disebut menjadi bagian dari tugas sosial yang melekat pada organisasi tersebut.

Sementara itu, Ketua Umum GP Ansor Addin Jauharudin menilai penguatan sumber daya manusia menjadi kunci kemajuan organisasi. Ia menyebut transformasi kaderisasi Ansor perlu terus dilakukan agar lahir kader yang adaptif dan berdaya guna.

Addin menegaskan kader Ansor ke depan harus mampu memberi manfaat bagi masyarakat dengan seluruh kemampuan yang dimiliki. Ia juga menilai kader perlu menyesuaikan diri dengan perubahan lokal agar tetap relevan di tengah dinamika sosial yang bergerak cepat.

Menurutnya, penguatan kader bukan hanya untuk kepentingan organisasi. Proses itu juga diharapkan memberi manfaat langsung bagi pribadi, keluarga, dan lingkungan sekitar sehingga peran sosial Ansor dan Banser di daerah semakin kuat.

Source: timesindonesia.co.id
Berita Terbaru