Baterai menjadi titik paling lemah yang langsung membatasi daya tarik Nokia 7.2 di tengah pemakaian harian yang padat. Dalam penggunaan moderat seperti navigasi, browsing, dan sedikit perekaman video, daya tahannya terasa hanya cukup untuk bertahan, bukan untuk memberi ruang leluasa sepanjang hari.
Kondisi itu membuat klaim Nokia soal ketahanan hingga dua hari terasa sulit dicapai dalam praktik umum. Bahkan, sejumlah pengguna bisa merasakan baterai habis sebelum hari berakhir, sehingga aspek ini menjadi pertimbangan utama sebelum melirik ponsel tersebut sebagai perangkat utama.
Di sisi lain, Nokia 7.2 masih menyimpan karakter yang membuatnya tetap menarik untuk dilihat lagi. Ponsel ini menawarkan bodi yang terasa solid saat digenggam, dengan rangka yang memberi kesan kokoh dan tidak ringkih ketika dipakai dalam waktu lama.
Bobotnya juga memberi sensasi yang berbeda dibanding banyak ponsel baru yang berlomba tampil sangat tipis dan ringan. Bagi pengguna yang menyukai perangkat dengan identitas fisik yang jelas, karakter tersebut masih punya nilai tersendiri.
Daya tarik lain datang dari kamera yang masih membawa nama Zeiss. Pada kondisi cahaya terang, kamera utamanya mampu menangkap detail dengan warna yang cenderung natural dan tidak terlihat terlalu diproses.
Namun, hasil kamera ini tetap memiliki batas. Fokus kadang masih bermasalah, sementara kamera ultrawide turun cukup jauh saat cahaya mulai minim. Untuk video, perekaman 4K belum terasa benar-benar stabil, sehingga 1080p masih menjadi pilihan yang lebih aman bila hasil rekaman ingin lebih rapi dan minim guncangan.
Bagi pengguna yang suka mengatur hasil foto secara manual, Nokia 7.2 masih memberi ruang lewat Pro Mode. Fitur ini menampilkan ISO dan eksposur secara real-time, sehingga pengguna bisa menyesuaikan pengambilan gambar dengan lebih leluasa.
Karakter kamera depannya juga cukup khas. Fitur beautify otomatis membuat selfie terlihat sangat halus, meski efeknya bisa terasa kurang natural bagi pengguna yang ingin hasil yang lebih apa adanya.
Ada pula nilai tambah yang tidak selalu ditemukan pada banyak ponsel di kelasnya, yaitu bokeh eksklusif. Efek ini tidak hanya berguna untuk subjek manusia, tetapi juga bisa memberi sentuhan artistik saat dipakai pada objek non-manusia.
Meski begitu, perangkat ini tetap membawa kompromi yang sulit diabaikan. Proses throttling pada prosesor demi penghematan daya justru bisa membuat ponsel terasa panas dan kurang responsif dalam kondisi tertentu, sehingga pengalaman harian tidak selalu mulus.
Dengan kondisi seperti itu, Nokia 7.2 lebih masuk akal jika diposisikan sebagai ponsel pendamping. Perangkat ini cocok bagi pengguna yang mencari desain yang elegan, bodi yang mantap, dan kamera dengan karakter berbeda dari banyak ponsel modern.
Sebaliknya, untuk kebutuhan sebagai ponsel utama yang harus siap menghadapi rutinitas padat, Nokia 7.2 sudah tertinggal. Pengguna yang masih bisa menerima baterai yang pas-pasan mungkin tetap akan menemukan pesona pada perangkat ini, tetapi sisi praktisnya jelas kalah oleh tuntutan penggunaan harian saat ini.
