SLA Masih Punya Tempat di Motor Listrik, Lebih Tahan Saat Terendam Banjir

Baterai SLA masih memiliki posisi tersendiri di pasar motor listrik Indonesia karena menawarkan konstruksi yang lebih sederhana dan biaya penggantian yang lebih rendah. Di segmen motor listrik entry level, dua hal itu sering menjadi pertimbangan utama bagi pengguna yang mengutamakan efisiensi biaya.

Dalam kondisi lingkungan yang rawan genangan dan banjir, karakter baterai ini juga dianggap memberi keuntungan praktis. Risiko komponen elektronik terdampak air dinilai lebih terbatas dibandingkan baterai lithium-ion yang memakai sistem pengatur daya lebih kompleks.

Masih Memadai untuk Mobilitas Jarak Dekat

Abdulah, pemilik bengkel motor listrik Dolland Motor Electric di Bekasi, Jawa Barat, menyebut baterai SLA masih layak direkomendasikan untuk pengguna dengan kebutuhan jarak dekat. Menurut dia, untuk mobilitas harian yang tidak menempuh perjalanan jauh, SLA masih cukup memadai.

Ia mengatakan, rekomendasi seperti itu kerap diberikan kepada pelanggan yang hanya membutuhkan kendaraan untuk aktivitas sederhana sehari-hari. Dengan pola pakai seperti itu, SLA dinilai masih relevan meski pasar motor listrik kini didominasi lithium-ion.

Struktur Lebih Sederhana Jadi Pembeda Utama

Keunggulan utama SLA terletak pada konstruksinya yang lebih sederhana. Menurut Abdulah, pada baterai SLA tidak ada komponen elektronik tambahan seperti pada baterai pack lithium-ion.

Karena itu, bila baterai terpapar air atau terendam banjir, potensi gangguan disebut lebih terbatas. Dalam banyak kasus, bagian yang terdampak biasanya hanya kutub baterai sehingga penanganannya dianggap lebih mudah.

Berbeda dengan itu, baterai lithium-ion dilengkapi Battery Management System atau BMS. Komponen ini berfungsi mengatur dan memantau kondisi baterai, mengontrol pengisian daya, serta menjaga setiap sel tetap seimbang.

Keberadaan BMS sangat penting bagi operasional lithium-ion, tetapi juga menambah bagian yang bisa terdampak air maupun korosi. Di titik ini, SLA kerap dinilai lebih sederhana untuk ditangani saat terjadi gangguan akibat lingkungan yang basah.

Korosi pada Lithium-ion Dinilai Lebih Berisiko

Abdulah menilai kerusakan akibat korosi pada baterai lithium-ion dapat membawa risiko yang lebih besar. Ia menjelaskan, bila kutub pada baterai lithium-ion rusak, sambungan seperti solderan atau spot welding dapat ikut terangkat.

Kondisi tersebut dinilai berbahaya karena bisa memicu risiko kebakaran. Pada SLA, korosi biasanya lebih banyak terjadi di bagian kutubnya sehingga penanganannya dianggap lebih sederhana dan tidak serumit baterai lithium-ion.

Faktor ini menjadi penting di pasar Indonesia yang kerap menghadapi tantangan genangan dan banjir. Pengguna tidak hanya mempertimbangkan jarak tempuh, tetapi juga potensi biaya dan risiko ketika baterai mengalami gangguan.

Biaya Penggantian Lebih Ringan di Kantong

Selain soal ketahanan terhadap kondisi tertentu, biaya penggantian baterai SLA umumnya lebih rendah dibandingkan lithium-ion. Hal itu membuat SLA tetap banyak digunakan pada motor listrik dengan harga yang lebih terjangkau.

Bagi konsumen yang sensitif terhadap biaya, selisih ongkos penggantian baterai dapat menjadi pertimbangan besar. Dalam kendaraan entry level, efisiensi biaya sering kali lebih diprioritaskan daripada performa tertinggi.

Namun, SLA tetap memiliki keterbatasan yang jelas. Bobotnya lebih berat, waktu pengisian dayanya cenderung lebih lama, dan jarak tempuh yang dihasilkan umumnya lebih pendek dibandingkan lithium-ion.

Karakter itu membuat lithium-ion tetap unggul untuk mobilitas tinggi. Pengguna yang membutuhkan performa lebih baik dan jarak tempuh lebih jauh akan lebih cocok dengan teknologi tersebut.

Pilihan antara SLA dan lithium-ion pada akhirnya bergantung pada pola penggunaan. Untuk perjalanan harian berjarak pendek dengan biaya kepemilikan yang lebih rendah, SLA masih menjadi opsi yang menarik di pasar motor listrik.

Source: otomotif.kompas.com

Berita Terkait