Batik Diposisikan Sebagai Warisan Identitas, Muhammadiyah Jawa Barat Dorong Generasi Muda Menjaganya

Author: Redaksi Android62

Di Universitas Muhammadiyah Bandung, batik tidak diposisikan sebagai kain yang hanya enak dipandang. Bagi Muhammadiyah Jawa Barat, batik adalah warisan peradaban yang membawa identitas, filosofi, dan nilai budaya yang terus hidup di tengah perubahan zaman.

Pandangan itu menguat dalam pameran Kain & Kebaya IBU #3 yang digelar oleh program studi Kriya Tekstil dan Fashion. Kegiatan tersebut mempertemukan apresiasi terhadap wastra Nusantara dengan gagasan pelestarian budaya dan penguatan ekonomi kreatif.

Batik sebagai identitas, bukan sekadar tampilan

Rektor Universitas Muhammadiyah Bandung, Herry Suhardiyanto, menegaskan bahwa batik memiliki makna yang jauh melampaui fungsi visual. Setiap karya batik, menurut dia, membawa pesan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ia juga menyoroti motif Mega Mendung karya Komarudin Kudiya, dosen prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung. Motif itu dinilai bukan hanya kuat secara estetika, tetapi juga merepresentasikan kekayaan budaya khas Jawa Barat.

Bagi Herry, batik adalah penanda identitas yang melekat pada perjalanan budaya masyarakat. Karena itu, batik tidak layak dipandang sebagai produk indah semata tanpa memahami makna yang dibawanya.

Peran kampus dalam menjaga tradisi

Herry menilai prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung punya peran strategis dalam menjaga warisan batik. Prodi ini tidak berhenti pada kajian kreatif seni batik, tetapi juga berupaya menghidupkan nilai filosofisnya agar dipahami lebih luas oleh masyarakat.

Pendekatan itu membuat batik tetap hadir sebagai pengetahuan budaya, bukan hanya sebagai produk fesyen. Di tengah perubahan zaman, kampus didorong menjadi ruang yang menjaga kesinambungan nilai tradisi.

Pelestarian, menurut pandangan tersebut, tidak cukup berhenti pada pameran atau pujian visual. Nilai budaya perlu terus dipahami agar batik tetap hidup sebagai bagian dari cara pandang masyarakat.

Budaya yang bergerak bersama ekonomi kreatif

Dalam sambutannya, Herry juga menyoroti hubungan antara budaya dan ekonomi kreatif. Ia membedakan sektor ini dari industri konvensional yang bertumpu pada sumber daya alam, karena ekonomi kreatif tumbuh dari ide, kreativitas, dan inovasi.

Dari sudut pandang itu, seni dan budaya dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Batik pun mendapat tempat sebagai bagian dari ekosistem ekonomi yang tetap berpijak pada nilai kultural.

Cara pandang ini menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus berseberangan dengan penguatan ekonomi. Keduanya bisa berjalan bersama selama nilai dasarnya tetap dijaga.

Dorongan untuk generasi muda

Herry juga mengingatkan generasi muda agar tidak melihat pelestarian budaya sebagai beban. Budaya justru dapat menjadi ruang ekspresi, penguatan identitas, dan sarana aktualisasi diri di tengah perubahan sosial yang berlangsung cepat.

Ia mendorong mahasiswa dan dosen untuk terus berinovasi agar budaya tetap relevan. Kreativitas dianggap penting supaya nilai-nilai tradisi tetap hidup tanpa kehilangan akar yang membentuknya.

Pesan itu sejalan dengan kebutuhan menjaga batik agar tidak berhenti sebagai warisan yang hanya dipajang. Ketika generasi muda ikut terlibat, batik dapat terus hadir sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Pameran Kain & Kebaya IBU #3 berlangsung selama tiga hari dan digelar oleh Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion Universitas Muhammadiyah Bandung bersama Yayasan Batik Jawa Barat serta Pusat Studi Wastra Nusantara. Kegiatan ini menjadi ruang yang mempertemukan apresiasi karya, pelestarian budaya, dan gagasan tentang masa depan batik di Jawa Barat.

Source: muhammadiyah-jabar.id
Berita Terbaru