Buana Finance memilih menjaga mesin bisnisnya tetap berputar dengan struktur pendanaan rupiah, sehingga pelemahan nilai tukar tidak langsung menekan inti usahanya. Kunci ini membuat PT Buana Finance Tbk. (BBLD) masih bisa fokus pada efisiensi dan penjagaan margin di tengah pasar yang bergerak labil.
Di saat volatilitas eksternal belum mereda, perusahaan justru menempatkan pengendalian biaya operasional sebagai prioritas. Langkah itu dipadukan dengan upaya mencari pembiayaan yang masih memberikan margin lebih menarik, tanpa mengorbankan kehati-hatian dalam menyalurkan kredit.
Bisnis inti relatif aman dari mismatch
Direktur Pemasaran Buana Finance Herman Lesmana menjelaskan bahwa pembiayaan dan pendanaan perseroan sama-sama menggunakan rupiah. Karena itu, risiko ketidaksesuaian mata uang atau mismatch tidak muncul di bisnis utama.
Dengan struktur seperti ini, tekanan dari pergerakan dolar AS tidak otomatis mengganggu kegiatan inti perusahaan. Buana Finance tetap mencermati situasi pasar, tetapi dampak langsung dari pelemahan rupiah terhadap operasional utamanya dinilai terbatas.
Meski begitu, perseroan tidak memilih sikap pasif. Buana Finance menyiapkan langkah mitigasi untuk biaya operasional dan pos belanja lain agar margin tetap terjaga ketika kondisi pasar berubah cepat.
Refinancing masih jadi area menarik
Salah satu fokus bisnis yang dibidik adalah refinancing. Herman menyebut segmen ini masih menawarkan margin yang relatif lebih menarik, walau penawaran tetap harus disesuaikan dengan suku bunga agar tidak terlalu berat bagi nasabah.
Di segmen itu, perseroan menerapkan pricing diferensiasi. Penawaran disusun secara realistis dengan mempertimbangkan jenis unit jaminan, tahun rakitan, dan besaran pembiayaan yang diajukan.
Pendekatan selektif tersebut dipakai untuk menjaga kualitas portofolio. Buana Finance ingin tetap tumbuh, tetapi tidak sampai mengorbankan struktur margin dan profil risikonya.
Ekspansi tetap disiapkan
Di luar portofolio yang ada, perseroan juga menyiapkan ekspansi lewat pendirian Unit Usaha Syariah atau UUS. Selain itu, Buana Finance membidik segmen business to business atau B2B sebagai jalur diversifikasi usaha.
Kedua langkah ini diposisikan sebagai bagian dari mitigasi risiko. Dengan segmentasi yang lebih terukur, perusahaan berharap margin tetap terkendali dan kualitas pembiayaan tetap sehat.
Pendanaan asing dijaga dengan ketat
Dari sisi keuangan, Direktur Keuangan Buana Finance Mariana Setyadi menegaskan perseroan tetap berhati-hati dalam memperoleh cost of fund dari kreditur. Sikap ini diambil karena pelemahan rupiah terhadap dolar AS masih berpotensi memengaruhi volatilitas pasar.
Mariana menambahkan, jika perusahaan memperoleh utang dalam mata uang asing, Buana Finance akan menerapkan full hedging. Kebijakan tersebut dipakai untuk menjaga risiko nilai tukar dan risiko suku bunga agar tetap terkelola.
Di pasar, rupiah sempat dibuka melemah ke posisi Rp17.685 per dolar AS pada perdagangan Selasa. Data Trading View menunjukkan rupiah turun 17 poin atau 0,10%, sementara indeks dolar AS juga terkoreksi 0,14% ke 99,05.
Tekanan pada rupiah muncul di tengah sentimen risk-off global yang menguat. Lonjakan harga minyak mentah dan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap tensi geopolitik ikut membentuk suasana yang lebih menantang bagi industri pembiayaan.
Source: finansial.bisnis.com






