BEI memasukkan lima saham baru ke dalam jajaran LQ45 untuk periode efektif Mei hingga Juli 2026. Perubahan ini terjadi bersamaan dengan keluarnya lima emiten lain dari indeks yang selama ini menjadi salah satu acuan utama investor di Bursa Efek Indonesia.
Langkah penyegaran komposisi tersebut kembali menegaskan bahwa bursa menaruh perhatian besar pada likuiditas, keterbukaan informasi, dan free float. Di pasar, pergeseran anggota LQ45 kerap dibaca sebagai sinyal bahwa minat dan arus dana bisa ikut berpindah ke saham-saham yang baru masuk.
Lima saham masuk, lima saham tersingkir
Dalam pembaruan kali ini, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), PT Darma Henwa Tbk (DEWA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), dan PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) resmi masuk ke LQ45. Kelimanya menggantikan lima nama besar yang sebelumnya menempati indeks tersebut.
Adapun saham yang keluar dari daftar adalah PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), dan PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL). Pergantian ini menunjukkan bahwa BEI terus menyesuaikan konstituen indeks agar tetap mencerminkan saham yang paling memenuhi kriteria perdagangan.
Sorotan pada free float dan kepemilikan
Penyusunan ulang LQ45 kali ini juga menyoroti besarnya porsi saham beredar di publik. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai BEI kini semakin ketat melihat saham dengan konsentrasi kepemilikan yang tinggi atau high shareholders concentration.
Menurut Nafan, masuknya CUAN ke LQ45 ikut berkaitan dengan upaya emiten memperbesar porsi saham publik lewat aksi korporasi. Ia menggambarkan langkah itu sebagai semacam “sapu bersih” terhadap kepemilikan yang terlalu terkonsentrasi.
Kriteria free float menjadi penting karena pasar sering membacanya sebagai cerminan likuiditas dan keterbukaan emiten. Semakin besar saham yang beredar di publik, semakin besar pula peluang saham tersebut lolos dari penilaian yang lebih ketat di bursa.
Potensi arus dana bergeser ke nama baru
Masuknya saham ke indeks acuan biasanya ikut menarik perhatian investor yang mengikuti komposisi indeks secara otomatis. Karena itu, perubahan di LQ45 berpotensi memicu perpindahan minat dari saham lama ke emiten yang baru bergabung.
Nafan menilai WIFI, ESSA, HRTA, dan CUAN berpeluang diburu oleh global funds maupun institutional funds. Sementara itu, saham yang keluar dari indeks kerap menghadapi tekanan jual karena reksa dana atau investor berbasis indeks perlu menyesuaikan portofolionya.
Dalam pembacaan pasar, kondisi tersebut bisa membuat saham-saham yang baru masuk mendapat dukungan permintaan tambahan. Di sisi lain, emiten yang tersingkir harus menghadapi realokasi dana dari investor yang mengikuti indeks acuan.
Likuiditas tetap jadi penentu utama
Di tengah penyegaran komposisi ini, DEWA dan ESSA tetap menjadi sorotan karena aktivitas perdagangannya dinilai kuat. Likuiditas harian yang tinggi membuat keduanya masih dianggap relevan dalam kelompok saham unggulan.
Pembaruan LQ45 juga memperlihatkan bahwa BEI berupaya menjaga indeks tersebut tetap selaras dengan dinamika pasar. Di atas kertas, penyaringan ini membantu investor membaca saham mana yang sedang memenuhi kriteria likuiditas, free float, dan minat perdagangan yang lebih baik.
Dengan komposisi baru untuk periode Mei hingga Juli 2026, perhatian pasar kini mengarah pada kemampuan lima saham pendatang baru mempertahankan posisinya. Pada saat yang sama, saham yang keluar dari LQ45 akan menjadi perhatian tersendiri karena penyesuaian portofolio dari investor yang menjadikan indeks ini sebagai rujukan.







