Belanja Militer Dunia Tembus USD 2,7 Triliun, Biaya Sosial di Balik Lonjakan Senjata

Belanja militer dunia mencapai sekitar USD 2,7 triliun pada 2024, menurut data Stockholm International Peace Research Institute atau SIPRI. Nilai tersebut meningkat sekitar 9,4 persen secara riil dari tahun sebelumnya dan menjadi kenaikan tahunan tertinggi sejak akhir Perang Dingin.

Lonjakan anggaran itu berlangsung ketika konflik di Timur Tengah, Ukraina, serta ketegangan di Asia Timur memperbesar rasa tidak aman. Negara yang tidak terlibat perang secara langsung pun mulai menambah kapasitas pertahanan sebagai langkah antisipasi.

Angka Kenaikan di Sejumlah Kawasan

Peningkatan belanja menunjukkan bahwa industri pertahanan kian masuk ke perencanaan fiskal jangka panjang. Permintaan persenjataan tidak lagi hanya bergantung pada pecahnya perang di satu wilayah.

Wilayah atau negaraPeriodeData utama
Global2024Belanja militer sekitar USD 2,7 triliun, naik 9,4 persen secara riil
Uni Eropa2021–2024Belanja pertahanan naik sekitar 30 persen, mendekati 1,9 persen PDB
Amerika Serikat2025Anggaran militer sekitar USD 962 miliar
RusiaKonflik UkrainaProduksi amunisi sekitar 3 juta peluru artileri per tahun

Di Uni Eropa, pengeluaran pertahanan naik sekitar 30 persen sepanjang 2021 hingga 2024. Rata-ratanya mendekati 1,9 persen produk domestik bruto, sementara komitmen NATO mendorong sasaran belanja lebih tinggi hingga 3,5–5 persen PDB pada 2035.

Pesanan Mengalir ke Produsen

Laporan SIPRI pada Maret 2026 mencatat permintaan industri pertahanan Amerika Serikat menguat seiring eskalasi konflik global. RTX, Northrop Grumman, dan GE Aerospace termasuk perusahaan yang mendapat dorongan dari percepatan belanja militer serta pengisian ulang stok senjata.

Konflik dapat menciptakan lonjakan permintaan bagi produsen alutsista, perusahaan logistik, pengembang teknologi, dan sektor energi. Namun, kenaikan aktivitas itu hanya terkonsentrasi pada bidang tertentu dan tidak otomatis memperbaiki kondisi ekonomi secara menyeluruh.

Amerika Serikat menopang permintaan tersebut melalui kontrak pemerintah jangka panjang, ekspor senjata, serta program modernisasi militer. Lockheed Martin, RTX, dan Northrop Grumman berada dalam ekosistem industri yang memperoleh dukungan dari kebutuhan itu.

Ekonomi Perang dan Biaya yang Dipertaruhkan

Rusia memperlihatkan bagaimana perang terbuka dapat mempercepat peralihan menuju ekonomi perang. Produksi amunisinya meningkat hingga sekitar 3 juta peluru artileri per tahun, disertai pelipatgandaan produksi tank dan peningkatan sistem artileri.

Industri pertahanan memang menyerap tenaga kerja dan memiliki jaringan pemasok yang luas. Sektor ini juga berkaitan dengan pengembangan ilmu pengetahuan, kecerdasan buatan, dan teknologi tinggi.

Meski demikian, setiap penambahan anggaran persenjataan membawa biaya peluang bagi keuangan publik. Dana yang terserap untuk militer berpotensi mengurangi ruang investasi pada pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Nilai produksi senjata dapat menaikkan angka kegiatan ekonomi, tetapi barang yang dihasilkan tidak selalu memberi manfaat jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat. Fungsi utamanya tetap berkaitan dengan penggunaan kekuatan dan potensi destruksi.

Risiko Perlombaan Senjata

Penambahan kekuatan militer oleh satu negara dapat dibaca sebagai ancaman oleh negara lain. Kondisi ini berpotensi memicu dilema keamanan yang mendorong perlombaan senjata secara berulang.

Diplomasi, integrasi ekonomi, dan penguatan institusi internasional tetap menjadi unsur penting dalam membangun keamanan. Namun, ketidakpastian geopolitik membuat banyak pemerintah memilih memperbesar kemampuan militer sebagai respons paling cepat.

Pertumbuhan industri pertahanan juga dapat memperkuat pengaruh lobi sektor ini dalam kebijakan publik. Tantangan utamanya ialah menjaga agar kebutuhan keamanan tidak berubah menjadi ketergantungan ekonomi pada konflik dan ketegangan berkepanjangan.

Source: www.kompas.com
Berita Terkait