Belokan Jalan Pegunungan Bukan Hiasan, Itu Cara Menurunkan Kemiringan Demi Aman Dilalui

Author: Redaksi Android62

Jalan di wilayah pegunungan dibuat berkelok bukan untuk menambah kerumitan, melainkan untuk menjaga jalur tetap aman dilalui. Bentuk ini membantu menekan kemiringan jalan agar kendaraan tidak dipaksa menghadapi tanjakan atau turunan yang terlalu ekstrem dalam jarak pendek.

Di medan tinggi, jalur lurus memang terlihat lebih singkat, tetapi justru bisa menghasilkan sudut kemiringan yang jauh lebih besar. Kondisi seperti itu membuat kendaraan lebih sulit melintas, terutama saat harus menanjak atau menurun di kontur yang tajam.

Dosen Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Asri Nurdiana, menjelaskan bahwa perencanaan jalan di daerah berbukit dan bergunung sangat bergantung pada kelandaian. Karena itu, perancang jalan memilih memanjangkan lintasan agar perubahan elevasi bisa dibagi bertahap.

Dengan cara tersebut, tanjakan dan turunan menjadi lebih landai dibandingkan jika jalur dipaksakan lurus mengikuti jarak terpendek. Jalan yang lebih landai memberi kendaraan kesempatan bergerak dengan lebih stabil dan terkendali saat melewati wilayah pegunungan.

Mengikuti bentuk alam

Jalan yang memutar juga berfungsi menyesuaikan jalur dengan kontur lahan. Pada daerah tinggi, permukaan tanah naik turun, sehingga desain jalan harus menyesuaikan bentuk alam agar tetap bisa digunakan dengan aman.

Pilihan ini membuat kendaraan tidak langsung berhadapan dengan perubahan elevasi yang terlalu tajam dalam jarak pendek. Pengemudi pun mendapat ruang lebih besar untuk menyesuaikan tenaga dan kecepatan saat melintas.

Asri menegaskan bahwa desain jalan tidak semata-mata mengejar jarak paling pendek. Perencana harus memastikan kendaraan dapat melewati jalur tersebut dengan aman dalam berbagai kondisi, termasuk saat menghadapi tikungan, tanjakan, dan turunan.

Mengapa garis lurus justru berisiko

Secara visual, garis lurus tampak sederhana dan efisien. Namun di wilayah pegunungan, jalur seperti itu dapat berarti medan yang jauh lebih curam dan menantang bagi kendaraan.

Jalan yang terlalu curam dapat menambah beban kendaraan dan memperbesar potensi masalah saat melintas. Karena itu, tikungan pada jalur pegunungan bukan sekadar elemen desain, melainkan bagian dari upaya menurunkan risiko.

Banyak orang melihat jalan berkelok sebagai bentuk yang lebih panjang dan terkesan kurang efisien. Padahal, pada topografi pegunungan, bentuk itu justru menjadi solusi teknik agar kendaraan tetap bisa melaju dengan aman.

Perdebatan soal bentuk jalan ini kembali muncul setelah sebuah unggahan di media sosial menampilkan foto jalan pegunungan dengan garis merah lurus sebagai pembanding. Unggahan dari akun Facebook Romansa Sopir Truck itu memancing banyak komentar, termasuk pandangan bahwa jalan lurus justru akan lebih berbahaya di medan tinggi.

Unggahan tersebut dibagikan pada Rabu, 12/8/2020, dan saat berita itu diturunkan telah disukai lebih dari 200 kali. Respons warganet beragam, mulai dari rasa penasaran hingga penjelasan bahwa jalan lurus dapat membahayakan pengguna jalan di daerah pegunungan.

Perbincangan itu menunjukkan bahwa bentuk jalan yang sering ditemui sehari-hari belum tentu mudah dipahami alasan teknisnya. Dalam kasus jalan pegunungan, jalur berkelok hadir sebagai penyesuaian terhadap kondisi alam demi menjaga keamanan kendaraan dan pengemudi.

Berita Terbaru