Dorongan beli bersih yang mulai menguat membuat peluang IHSG bergerak ke area 7.700 masih terbuka. Pada perdagangan terbaru, dominasi aksi beli dari investor domestik ikut mengangkat volume transaksi dan menjaga sentimen pasar tetap positif.
Pergerakan ini mendapat penopang dari kemampuan IHSG bertahan di atas level psikologis 7.600. Area tersebut menjadi titik penting karena menahan tekanan jual dan memberi ruang bagi indeks untuk melanjutkan pemulihan setelah sempat terkoreksi cukup dalam di awal tahun.
Tanda dasar harga mulai terbentuk
Sejumlah data pasar menunjukkan bahwa tekanan jual tidak sekuat sebelumnya. Walau secara year to date IHSG masih turun 12,02 persen, pergerakan jangka pendek justru memperlihatkan perubahan arah yang lebih sehat.
Dalam satu hari terakhir, indeks naik 0,17 persen. Dalam lima hari, IHSG menguat 3,91 persen, lalu naik 7,91 persen dalam satu bulan, meski dalam enam bulan terakhir masih turun 6,13 persen.
Pola seperti ini kerap dipandang sebagai fase bottoming, yaitu saat penurunan mulai kehilangan tenaga dan pasar membentuk dasar baru. Kepala riset sebuah perusahaan sekuritas terkemuka menilai fase itu kemungkinan besar sudah terlewati, sehingga pasar disebut mulai masuk tahap akumulasi.
Big caps kembali dilirik pasar
Penguatan IHSG tidak berdiri hanya di atas faktor teknikal. Pasar juga melihat fondasi emiten yang masih cukup kuat, terutama dari perusahaan berkapitalisasi besar yang menjadi penggerak utama indeks.
Dari 864 emiten yang tercatat di Bursa Efek Indonesia, perhatian investor banyak tertuju pada saham-saham yang tetap mampu menjaga performa di tengah ketidakpastian ekonomi global. Laporan kinerja kuartal pertama 2026 menjadi salah satu pemicu optimisme karena banyak emiten disebut mencatat laba di atas ekspektasi.
Kondisi itu membuat saham big caps kembali menjadi sasaran akumulasi. Sebagian pelaku pasar membaca bahwa valuasi saham-saham besar kini lebih menarik setelah koreksi yang cukup dalam, sementara fundamentalnya belum banyak berubah.
Faktor makro ikut memberi dukungan
Sentimen pasar juga mendapat bantuan dari sisi makroekonomi. Kenaikan cadangan devisa yang dilaporkan otoritas terkait dinilai memberi bantalan bagi stabilitas pasar keuangan dan memperkuat kepercayaan investor asing.
Di saat yang sama, rupiah yang relatif stabil di kisaran Rp15.800 per dolar AS membantu menjaga suasana perdagangan tetap kondusif. Stabilitas nilai tukar biasanya meredam kekhawatiran terhadap tekanan eksternal yang dapat mengganggu arus modal ke aset berisiko.
Sebelumnya, pelemahan IHSG sempat dipicu oleh penyesuaian suku bunga acuan dan penguatan dolar AS yang menekan rupiah. Kombinasi itu sempat meningkatkan volatilitas dan mendorong kehati-hatian investor saat pasar global belum sepenuhnya mendukung.
Sektor yang paling dicermati
Di tengah peluang penguatan indeks, perbankan dan energi tetap menjadi sektor yang paling banyak diperhatikan pelaku pasar. Keduanya mendapat dukungan dari laporan laba yang positif dan memiliki bobot besar dalam menentukan arah IHSG.
Sektor konsumer juga mulai menunjukkan tanda pemulihan seiring daya beli masyarakat yang relatif stabil. Karena itu, pergerakan ketiga sektor tersebut kerap menjadi petunjuk penting untuk membaca apakah penguatan indeks masih berlanjut atau mulai kehilangan tenaga.
Volume transaksi dan strategi investor
Pada penutupan sesi pertama, transaksi tercatat besar dengan dominasi beli bersih dari investor domestik. Kondisi ini memperkuat kesan bahwa pasar sedang berada dalam fase akumulasi, terutama ketika volume transaksi ikut meningkat.
Bagi investor pemula, situasi pasar yang bergerak cepat sering mendorong strategi pembelian bertahap atau dollar cost averaging. Pola ini dipilih agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu titik harga dan portofolio lebih siap menghadapi volatilitas.
Data historis juga masih menjadi pertimbangan penting karena IHSG tercatat tumbuh 57,89 persen dalam sepuluh tahun terakhir. Angka itu membuat pasar saham tetap relevan bagi investor retail yang mencari imbal hasil sekaligus perlindungan dari inflasi, meski perhatian pada likuiditas, volume transaksi, dan arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia tetap diperlukan pekan depan.







