Album penuh kedua Idgitaf, Berusaha di Bawah Hujan, hadir sebagai karya yang menandai fase lebih dewasa dalam perjalanan bermusiknya. Lewat susunan 12 lagu yang saling terhubung, album ini dibangun sebagai cerita bersambung yang membawa pendengar masuk ke ruang emosi yang lebih jujur dan lebih luas.
Idgitaf, yang memiliki nama asli Gita, menempatkan album ini sebagai cara untuk membaca ulang banyak hal dalam hidupnya. Di dalamnya, ia merespons kapasitas diri, memperluas sudut pandang terhadap karya, dan melihat cinta dari perspektif yang tidak lagi sempit.
Cerita yang mengalir dari awal sampai akhir
Berusaha di Bawah Hujan disusun seperti perjalanan emosi yang bergerak bertahap. Ceritanya dimulai dari pertemuan dengan cinta yang terasa menyembuhkan, lalu berlanjut ke kebahagiaan yang hadir di dalam hubungan itu.
Setelah bagian hangat tersebut, alurnya masuk ke konflik dan keraguan. Dari sana, album bergerak menuju tahap menerima dan bertahan bersama segala “hujan” yang datang.
Pola seperti ini membuat setiap lagu terasa saling menyambung. Hasilnya, album tidak hanya terdengar sebagai kumpulan lagu, tetapi sebagai narasi utuh yang punya arah emosional yang jelas.
Warna musik yang lebih segar
Di sisi musikal, Idgitaf memilih pendekatan yang terasa lebih segar dibanding karya sebelumnya. Ia memadukan sentuhan country dengan pop hangat dan ceria yang selama ini sudah menjadi ciri khasnya.
Eksplorasi itu bisa ditemukan antara lain dalam “Sedia Aku Sebelum Hujan” dan “Mungkin di Depan Buram”. Melalui dua lagu itu, Gita menunjukkan bahwa ia masih menjaga identitas musiknya sambil membuka ruang baru untuk bereksperimen.
Pendekatan tersebut membuat album ini terdengar lebih luas secara musikal. Namun, karakter utama Idgitaf tetap terasa kuat di sepanjang album.
Lagu yang lahir dari pengalaman pribadi
Salah satu bagian yang menonjol dari album ini adalah kolaborasi Idgitaf bersama Dere. Gita menyebut lagu tersebut sangat personal dan spesial, sehingga punya peran penting dalam membangun keseluruhan cerita album.
Ada juga “Setengah Langit” yang diposisikan sebagai ruang dialog dengan diri sendiri. Lagu itu ia tujukan sebagai pesan reflektif untuk sesama perempuan, terutama soal cara memandang kebahagiaan dan pengalaman hidup.
Dalam penjelasannya, Gita menyoroti kecenderungan perempuan untuk menilai kebahagiaan berdasarkan apa yang ditentukan orang lain. Melalui lagu itu, ia mengajak pendengar melihat kembali ukuran bahagia dari sudut yang lebih personal.
Proses panjang yang membentuk hasil akhir
Album ini digarap dalam proses panjang sejak Februari 2025 hingga April 2026. Dalam pengerjaannya, Idgitaf bekerja bersama sejumlah produser, yaitu Enrico Octaviano, Lafa Pratomo, Michael Rodovan, Ricco, Rama Harto, dan Luthfi Adianto.
Kolaborasi dengan nama-nama tersebut ikut memberi warna pada hasil akhir album. Selain itu, keterlibatan banyak produser juga memperkaya pendekatan musik yang dihadirkan di dalamnya.
Idgitaf berharap pendengar bisa merasakan berbagai emosi saat mendengarkan album ini, mulai dari bahagia, sedih, sampai frustrasi. Ia juga ingin Berusaha di Bawah Hujan menjadi cerminan perjalanan personal yang ia jalani bersama pasangannya.
Source: lifestyle.bisnis.com





