BI Menahan Suku Bunga, IHSG Tetap Tertahan Di 7.541 Dan Pasar Belum Menemukan Arah

IHSG kembali bergerak hati-hati dan menutup perdagangan di level 7.541 setelah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di 4,75 persen. Di tengah keputusan itu, pasar belum menunjukkan arah yang benar-benar kuat dan masih menimbang berbagai sentimen yang datang dari dalam negeri maupun global.

Perdagangan berlangsung ramai, tetapi tekanan jual tetap membuat indeks sulit bertahan lebih tinggi. Sepanjang sesi, IHSG bergerak di rentang 7.578 hingga 7.513 sebelum akhirnya menutup hari di zona merah.

Sektor yang menahan laju indeks

Pelemahan IHSG terutama datang dari kelompok barang baku, energi, dan properti. Ketiga sektor tersebut masing-masing turun 0,68 persen, 0,16 persen, dan 0,02 persen, sehingga memberi beban pada pergerakan indeks.

Di sisi lain, pasar saham masih memperlihatkan warna yang beragam. Sebanyak 440 saham menguat, 240 saham melemah, dan 141 saham bergerak stagnan, menandakan bahwa pelaku pasar belum mengambil posisi secara seragam.

Tekanan juga terasa pada sejumlah emiten berkapitalisasi besar. PT Yanaprima Hastapersada Tbk (YPAS) tercatat turun 9,81 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) melemah 9,71 persen, dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) terkoreksi 9,62 persen.

Keputusan BI jadi perhatian utama pasar

Sikap Bank Indonesia untuk menahan BI Rate di 4,75 persen menjadi salah satu sorotan terbesar pelaku pasar. Bersamaan dengan itu, suku bunga Deposit Facility tetap di 3,75 persen dan Lending Facility berada di 5,5 persen.

Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global, terutama yang masih dipengaruhi konflik di Timur Tengah. Gubernur BI Perry Warjiyo juga menegaskan bahwa bank sentral siap memperkuat kebijakan bila diperlukan.

Selain menjaga stabilitas, BI tetap mengarahkan kebijakan agar inflasi 2026 dan 2027 berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Arah ini menunjukkan bahwa bank sentral masih menempatkan keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas sebagai prioritas.

Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menilai langkah penahanan suku bunga juga dimaksudkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Menurut dia, suku bunga kemungkinan belum berubah dalam waktu dekat selama kondisi domestik dan global belum banyak mengalami pergeseran berarti.

Rupiah dan sentimen luar negeri ikut membayangi

Selain saham, pergerakan rupiah juga memberi sinyal kehati-hatian di pasar. Mata uang Indonesia melemah 0,18 persen ke posisi Rp17.175 per dolar AS, sejalan dengan suasana pasar yang masih cenderung waspada.

Pergerakan rupiah ini menambah alasan bagi investor untuk tetap selektif dalam mengambil posisi. Pasar kini juga memantau arah kebijakan moneter BI, kestabilan rupiah, dan perkembangan sentimen global yang masih penuh ketidakpastian.

Dari luar negeri, bursa Asia menunjukkan arah yang tidak seragam. Indeks Ho Chi Minh Vietnam naik 1,31 persen dan Nikkei 225 Jepang menguat 0,4 persen, tetapi tekanan muncul di beberapa pasar lain.

Hang Seng Hong Kong turun 1,22 persen, sementara Straits Times Singapura melemah 0,24 persen. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pasar regional masih bergerak tanpa pola yang jelas di tengah risiko yang belum mereda.

Sinyal teknikal belum memberi dorongan kuat

Dari sisi analisis teknikal, Phintraco Sekuritas menilai IHSG belum mampu menembus area rata-rata bergerak lima hari atau MA-5. Lembaga ini juga mencatat histogram positif pada indikator MACD mulai menurun, sedangkan stochastic RSI sudah berada dalam kondisi jenuh beli.

Dengan kondisi tersebut, Phintraco memperkirakan IHSG masih berpotensi konsolidasi pada rentang 7.500–7.600 pada perdagangan berikutnya. Proyeksi itu sejalan dengan pasar yang masih menunggu kepastian lebih lanjut dari arah kebijakan moneter dan perkembangan faktor eksternal.

Berita Terkait