Biaya kemasan kertas nonplastik dinilai bisa setara dengan plastik jika dihitung dari total operasional, bukan hanya harga bahan baku. Pandangan ini menjadi salah satu alasan Kementerian Perindustrian mendorong industri makanan dan minuman mempercepat peralihan ke kemasan berbasis kertas.
Dorongan tersebut tidak hanya bertumpu pada isu lingkungan, tetapi juga pada kebutuhan menjaga daya saing manufaktur nasional. Pemerintah melihat transisi kemasan sebagai bagian dari upaya efisiensi bahan baku, rantai pasok, dan biaya produksi agar industri tetap adaptif terhadap perubahan pasar.
Efisiensi tidak berhenti di harga bahan
Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar, Merrijantij Punguan Pintaria, menegaskan bahwa perbandingan antara plastik dan kertas tidak cukup dilakukan dari harga material. Menurut dia, kemasan aseptik berbasis kertas perlu dinilai dari keseluruhan biaya operasional yang menyertainya.
Ia menjelaskan bahwa hasil akhirnya bisa setara ketika perhitungan memasukkan kebutuhan penyimpanan dan distribusi. Kemasan berbasis kertas disebut tidak memerlukan rantai pendingin dan kulkas untuk penyimpanan, sehingga memberi nilai tambah dalam pengendalian biaya secara menyeluruh.
Selain itu, Merrijantij menyebut bahan baku kemasan kertas relatif stabil. Kondisi ini dianggap membantu industri yang ingin menekan biaya tanpa mengorbankan kelancaran produksi dan distribusi.
Penggunaan paperboard terus meluas
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan bahwa kemasan kertas sudah banyak dipakai pada sejumlah produk, termasuk susu dan minuman. Pemerintah ingin memperluas pemanfaatan bahan kemasan alternatif melalui pertemuan langsung antara produsen dan pengguna.
Arah kebijakan itu juga berkaitan dengan pengembangan paperboard di sektor pangan. Data yang disampaikan menunjukkan paperboard sudah menyumbang sekitar 28 persen dari total kemasan di sektor tersebut, sehingga ruang pengembangannya masih terbuka.
Agus menekankan bahwa perubahan ini tidak semata soal mengganti material. Pemerintah juga ingin memastikan rantai pasok berjalan lebih efisien dan industri siap menyesuaikan produk dengan kebutuhan pasar yang terus bergerak.
Business matching jadi pintu transisi
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro, Putu Juli Ardika, menilai workshop dan kunjungan industri bersama Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia atau GAPMMI menjadi bagian penting dari percepatan transisi. Kegiatan itu memberi kesempatan pelaku usaha melihat langsung pilihan bahan kemasan yang tersedia.
Pendekatan tersebut mempertemukan kebutuhan industri pengguna dengan kapasitas produsen kemasan. Dengan begitu, peralihan ke kemasan nonplastik dapat bergerak dari tahap wacana menuju penerapan yang lebih nyata di lapangan.
Pemerintah juga memperbanyak skema business matching agar komunikasi antarpelaku usaha berlangsung lebih lancar. Skema ini diharapkan membuat pemilihan bahan kemasan lebih sesuai dengan kebutuhan produksi sekaligus mendukung target ramah lingkungan.
Tekanan biaya mendorong inovasi
Ketua Umum GAPMMI, Adhi S. Lukman, menilai pelaku usaha saat ini menghadapi tekanan biaya dan kendala pasokan. Situasi itu membuat strategi pengadaan tidak bisa lagi dijalankan dengan pola yang sama seperti sebelumnya.
Ia menyebut inovasi di sisi manufaktur menjadi syarat penting agar perusahaan tetap kompetitif di pasar global. Menurutnya, dua aspek yang perlu diperkuat adalah procurement dan manufacturing karena keduanya menentukan ketahanan perusahaan menghadapi tantangan industri.
Pada sisi procurement, perusahaan perlu memperluas sumber pasokan. Pada sisi manufacturing, efisiensi harus terus ditingkatkan agar biaya produksi tetap terkendali di tengah perubahan kebutuhan pasar.
Permintaan kemasan aseptik masih besar
Data nasional menunjukkan kebutuhan kemasan aseptik mencapai 8,3 miliar unit per tahun. Serapan terbesar berasal dari produk susu dan dairy dengan volume 4,8 miliar unit.
Sisa kebutuhan tersebut digunakan untuk minuman teh, kopi, serta produk nabati seperti santan dan susu kacang-kacangan. Besarnya permintaan itu menunjukkan bahwa pasar kemasan ramah lingkungan masih memiliki ruang tumbuh yang besar.
Dalam konteks ini, kemasan kertas nonplastik diposisikan sebagai alternatif yang tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga dapat mendukung efisiensi operasional industri makanan dan minuman. Pemerintah menilai pilihan tersebut bisa membantu sektor pangan nasional tetap kompetitif di tengah perubahan kebutuhan konsumen dan tekanan biaya produksi.







