Biaya peluncuran menjadi faktor yang paling menentukan masa depan pusat data di luar angkasa. SemiAnalysis menilai komputasi orbital saat ini masih sekitar empat kali lebih mahal dibandingkan fasilitas di Bumi, tetapi selisih itu diperkirakan menyempit cepat dalam beberapa tahun ke depan.
Jika tren itu berlanjut, ruang angkasa tidak lagi sekadar tempat eksperimen teknologi, melainkan bisa berubah menjadi alternatif bisnis yang serius. Dalam lima tahun, jarak biaya disebut dapat turun hingga sekitar 30%, terutama bila permintaan komputasi naik, pasokan chip membesar, dan tekanan publik terhadap pembangunan pusat data di darat semakin kuat.
Tekanan di darat membuka ruang bagi orbit
Masalah utama pusat data di Bumi bukan hanya soal biaya, tetapi juga ruang, energi, dan perizinan. Elon Musk ikut menyoroti hambatan itu dengan menilai kekurangan energi, keterbatasan koneksi ke jaringan listrik, dan proses perizinan akan terus menghambat pembangunan infrastruktur di darat.
Di saat yang sama, produksi chip diperkirakan terus meningkat. Kombinasi antara kebutuhan komputasi yang tumbuh dan tantangan pembangunan di Bumi membuat opsi orbital terlihat semakin masuk hitungan, bahkan sebelum akhir dekade ini.
Perawatan jadi titik lemah yang sedang diuji
Salah satu keberatan terbesar terhadap pusat data di luar angkasa adalah persoalan pemeliharaan. Mengganti chip atau memperbaiki perangkat keras yang rusak di orbit bukan pekerjaan mudah, dan tantangan itu selama ini menjadi alasan utama skeptisisme.
Namun, solusi perlahan dicari. Startup asal New York, Icarus Robotics, sedang mengembangkan robot yang bisa dikendalikan dari jarak jauh untuk membantu misi luar angkasa, dan robot itu dijadwalkan mulai diuji di International Space Station tahun depan.
Robot misi luar angkasa diposisikan untuk kebutuhan yang lebih besar
Pada tahap awal, robot tersebut akan membongkar kantong berisi pasokan seperti makanan dan perlengkapan laboratorium. CEO Ethan Barajas mengatakan kepada Semafor bulan lalu bahwa timnya juga dapat mengembangkan alur kerja untuk pemeliharaan pusat data jika pasar benar-benar membutuhkannya.
Pendekatan semacam ini penting karena keandalan perawatan jarak jauh akan sangat memengaruhi kelayakan komputasi orbital. Jika sistem itu terbukti bekerja, hambatan teknis yang selama ini dianggap terlalu berat bisa mulai berkurang secara nyata.
Awal 2030-an bisa menjadi titik balik
SemiAnalysis menilai pusat data di luar angkasa berpotensi menjadi lebih layak secara ekonomi pada awal 2030-an. Penilaian itu bergantung pada kombinasi biaya peluncuran yang makin rendah, pasokan chip yang menguat, dan tekanan terhadap pembangunan fasilitas di darat yang terus meningkat.
Dengan begitu, perdebatan kini bukan hanya soal apakah komputer dapat beroperasi di orbit. Yang lebih penting adalah apakah model bisnisnya cukup masuk akal untuk bersaing dengan pusat data di Bumi, dan tanda-tanda menuju arah itu mulai terlihat lebih jelas.







