Gempa bumi bermagnitudo 7,8 yang mengguncang selatan Filipina telah menewaskan 45 orang dan membuat 149.372 warga terdampak. Ribuan keluarga kini masih bertahan di pusat evakuasi, menumpang di rumah kerabat, atau menerima bantuan di luar lokasi pengungsian.
Data terbaru menunjukkan dampaknya meluas ke sejumlah wilayah di Mindanao, terutama Davao, Soccsksargen, Semenanjung Zamboanga, dan Daerah Otonomi Bangsamoro. Kondisi di lapangan juga masih bergerak cepat karena jumlah korban tewas, luka-luka, dan orang hilang terus diverifikasi oleh otoritas.
Korban tewas tersebar di beberapa wilayah
Deputi Administrator Bidang Administrasi Office of Civil Defense (OCD), Bernardo Rafaelito Alejandro IV, menyebut korban meninggal tersebar di kawasan Davao dan Soccsksargen. Rinciannya meliputi 18 korban di Sarangani, 15 di Cotabato Selatan, 11 di Davao Occidental, dan satu orang di Davao del Sur.
Otoritas juga masih memverifikasi 17 laporan orang hilang. Dari jumlah itu, 13 orang dilaporkan hilang di Davao Occidental dan empat lainnya di General Santos City.
Jumlah korban luka pun terus bertambah. OCD mencatat sedikitnya 630 orang mengalami luka-luka akibat guncangan kuat tersebut.
Ribuan keluarga masih mengungsi
Dewan Nasional Pengurangan Risiko dan Manajemen Bencana Filipina atau NDRRMC melaporkan bencana ini berdampak pada 33.596 keluarga. Jika dihitung dalam jumlah jiwa, total warga terdampak mencapai 149.372 orang.
Sebanyak 8.813 keluarga atau 32.464 orang kini menempati 57 pusat evakuasi. Selain itu, 1.804 keluarga atau 8.973 orang menerima bantuan di luar lokasi pengungsian, sementara warga lainnya memilih bertahan di rumah kerabat yang dinilai lebih aman.
Rumah warga banyak rusak
Dampak gempa juga terlihat pada kerusakan tempat tinggal. NDRRMC mencatat 2.499 rumah mengalami kerusakan sebagian dan 495 rumah lainnya rusak total.
Kerusakan itu tersebar di Semenanjung Zamboanga, Wilayah Davao, dan Soccsksargen. Kondisi tersebut membuat kebutuhan tempat tinggal sementara, logistik darurat, dan bantuan dasar semakin mendesak di sejumlah titik terdampak.
Militer dikerahkan ke titik terparah
Untuk mempercepat respons, Angkatan Darat Filipina mengerahkan tim Urban Search and Rescue atau USAR yang beranggotakan 18 personel ke General Santos City. Kota itu menjadi salah satu wilayah yang mengalami kerusakan paling berat.
Juru Bicara Angkatan Darat Filipina, Kolonel Louie Dema-ala, mengatakan Divisi Infanteri Ke-10 juga menurunkan sekitar 200 personel ke kota tersebut. Sementara itu, Divisi Infanteri Ke-6 mengirim 53 personel dari 12 tim bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana ke General Santos City, Maitum, Kiamba, Maasim, dan Lebak.
Mereka didukung kendaraan operasional, termasuk delapan truk KM-250, lima truk KM-450, dua kendaraan patroli, dan tiga sepeda motor. Selain itu, 530 personel dari 53 tim HADR Divisi Infanteri Ke-10 serta 77 personel dari sembilan tim HADR Divisi Infanteri Ke-6 juga disiagakan bersama 56 truk militer dan satu kendaraan patroli.
“Angkatan Darat Filipina bekerja sama erat dengan lembaga pemerintah nasional dan pemerintah daerah untuk memastikan respons yang cepat dan terkoordinasi terhadap gempa-gempa yang merusak di kawasan itu,” ujar Dema-ala.
Dengan jumlah korban tewas, luka, dan orang hilang yang masih berpotensi berubah, fokus utama kini tertuju pada pencarian, evakuasi, dan pemenuhan kebutuhan dasar warga di wilayah selatan Filipina.
Source: www.medcom.id






