Gaji Tak Naik, Kurir Jakarta Mulai Hitung Ulang Pilihan Pertamax

Kenaikan harga Pertamax langsung memaksa Rahmat, kurir paket di Jakarta, menghitung ulang pengeluaran hariannya. Setiap hari ia mengandalkan sepeda motor untuk mengantar barang ke wilayah ibu kota dan sekitarnya, sehingga biaya bahan bakar menjadi bagian penting dari pendapatan bersih yang ia bawa pulang.

Dalam sehari, perjalanan yang ditempuh Rahmat bisa mencapai puluhan hingga lebih dari 100 kilometer, tergantung jumlah paket yang harus dikirim. Dengan intensitas pemakaian seperti itu, selisih harga bensin segera terasa dalam biaya operasional yang harus ia tanggung sendiri.

Biaya bensin langsung mengurangi pendapatan bersih

Bagi kurir yang memakai kendaraan pribadi, biaya bahan bakar tidak ditanggung perusahaan. Kondisi ini membuat setiap kenaikan harga BBM langsung memotong uang yang tersisa untuk kebutuhan rumah tangga.

Rahmat menegaskan bahwa penghasilannya tidak ikut naik saat harga BBM naik. Karena itu, tambahan biaya bensin harus ditutup dari pendapatan harian yang ia terima, bukan dari penyesuaian gaji.

Pertalite mulai dilihat sebagai opsi penghematan

Selama ini Rahmat memilih Pertamax karena motornya terasa lebih nyaman dipakai untuk mobilitas seharian. Namun, setelah harga naik, ia mulai mempertimbangkan beralih ke Pertalite agar pengeluaran operasional tidak semakin berat.

Meski tidak dianggap ideal, opsi itu dinilai dapat membantu menjaga biaya tetap terkendali di tengah harga kebutuhan yang terus naik. Rahmat bahkan mengakui masih ingin memakai Pertamax, tetapi pertimbangan harga membuatnya lebih realistis dengan pilihan yang lebih murah.

“Kalau pakai Pertalite bisa lebih hemat, ya mungkin itu yang nanti saya pilih walaupun ngantrenya panjang,” ujarnya.

Sesama kurir juga mulai membahas beban yang sama

Kenaikan harga Pertamax tidak hanya menjadi hitungan pribadi Rahmat. Di antara rekan-rekan sesama kurir, topik itu ikut sering dibicarakan karena sangat terkait dengan biaya harian mereka di jalan.

Menurut Rahmat, pengeluaran terbesar para kurir roda dua umumnya ada pada bensin dan perawatan motor. Karena itu, perubahan harga BBM memaksa mereka menyesuaikan strategi agar tetap bisa bekerja tanpa terlalu banyak mengurangi kebutuhan lain.

“Banyak teman-teman yang mulai ngitung lagi biaya bensinnya. Karena yang paling sering keluar uang ya untuk bensin sama perawatan motor,” ucapnya.

Tekanan biaya hidup makin terasa di lapangan

Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga bahan bakar tidak berhenti di SPBU, tetapi merembet ke pekerja lapangan yang menggantungkan penghasilan pada mobilitas tinggi. Saat pendapatan tetap berjalan di angka yang sama, ruang untuk kebutuhan rumah tangga otomatis semakin sempit.

Rahmat berharap kondisi tersebut tidak terus berlanjut. Ia ingin pekerja seperti dirinya tetap bisa menjalankan tugas tanpa harus memikul beban biaya yang makin besar akibat harga BBM yang naik berulang.

Source: www.suara.com

Berita Terkait