Saat blekok sawah terbang, penampilannya bisa berubah drastis. Burung kecil yang tampak kecokelatan ketika diam itu mendadak terlihat jauh lebih putih karena sayap putih cemerlangnya terbentang.
Perubahan tampilan inilah yang sering membuat blekok sawah disangka jenis burung lain. Bahkan, ketika melintas di udara, burung ini kerap keliru dianggap kuntul kecil atau kuntul kerbau, meski kepala gelapnya masih bisa menjadi petunjuk penting.
Di lapangan, blekok sawah memang tidak selalu menarik perhatian sejak awal. Ia sering terlihat di sawah, tepi kolam, danau, hingga hutan bakau, sehingga mudah dianggap burung air biasa.
Blekok sawah di Indonesia dikenal sebagai javan pond heron. Burung ini termasuk salah satu kuntul berukuran kecil yang cukup akrab dengan kawasan air dangkal.
Bukan bangau, tetapi keluarga kuntul
Salah paham soal blekok sawah cukup sering terjadi karena bentuk tubuh dan kebiasaannya di sekitar air. Padahal, burung ini bukan bangau, melainkan anggota famili kuntul-kuntulan atau heron, Ardeidae.
Kerabat dekatnya antara lain cangak, kowak, dan kokokan. Bangau sendiri berada di famili Ciconiidae, sehingga kelompoknya berbeda dari blekok sawah.
Masuk genus Ardeola
Blekok sawah berada dalam genus Ardeola yang memiliki enam jenis. Di dalam kelompok itu terdapat blekok sawah, blekok india, blekok cina, blekok madagaskar, dan blekok eropa.
Kelompok ini punya ciri tubuh yang kekar, leher pendek, serta paruh pendek dan tebal. Warna punggungnya umumnya krem atau cokelat, sehingga tampilannya tidak terlalu mencolok saat bertengger.
Sebaran luas di Asia Tenggara
Tidak hanya ditemukan di Indonesia, blekok sawah juga tersebar luas di Asia Tenggara. Burung ini aktif mencari makan di sawah, tepi kolam, danau, serta hutan bakau.
Heron Conservation mencatat blekok sawah terbagi menjadi dua anak jenis. A. s. speciosa berbiak di Indonesia, sedangkan A. s. continentalis berbiak di Thailand, Myanmar, Vietnam, dan Kamboja.
Ukuran kecil dengan bulu yang berubah mengikuti musim
Panjang tubuh blekok sawah biasanya sekitar 45 sentimeter. Paruhnya berwarna kuning dengan ujung hitam, sementara bulunya berubah mengikuti musim kawin dan di luar musim kawin.
Saat musim kawin, tubuhnya tampak cokelat bergaris-garis dengan kepala cokelat keemasan dan punggung hitam. Di luar musim kawin, warnanya berubah menjadi cokelat berbintik putih.
Sering mirip dengan kerabat dekatnya
Di lapangan, blekok sawah sering sangat mirip dengan blekok cina dan blekok india. Ketiganya hampir tidak bisa dibedakan, terutama ketika bulu di luar musim kawin terlihat seragam.
Karena itu, pengamat perlu memperhatikan detail warna kepala, tubuh, dan pola bulu dengan lebih cermat. Kesalahan identifikasi masih mungkin terjadi jika burung hanya terlihat sekilas.
Hidup dekat air dan berburu dengan cara khas
Blekok sawah biasa bersarang di pepohonan dan semak dekat rawa atau kolam. Sarangnya dibuat dari ranting dan umumnya menggantung di atas air, baik saat bersarang sendiri maupun dalam koloni.
Dalam koloni, blekok sawah bisa berbagi tempat dengan kowak-malam abu, cangak merah, kuntul besar, kuntul perak, kuntul kerbau barat, dan kuntul kecil. Kebiasaan ini menunjukkan bahwa burung tersebut cukup akrab dengan berbagai jenis burung air lain.
Di sawah, blekok sawah memangsa katak, serangga, cacing, ikan, dan berudu. Saat berburu, burung ini sering berdiri diam lama dengan tubuh agak membungkuk dan kepala ditarik ke belakang, lalu juga bisa mencari makan sambil berjalan pelan-pelan.
Di Sulawesi, blekok sawah pernah diamati melayang di atas air sebelum mengambil mangsa dari permukaan air. Cara berburu ini memperlihatkan bahwa burung kecil ini punya pola hidup yang sangat lekat dengan perairan dangkal.
Source: www.idntimes.com