Setelah 28 Tahun Tertahan, Blok Masela Masuk Konstruksi dengan Investasi US$ 21 Miliar

Author: Redaksi Android62

Proyek Blok Masela memasuki tahap konstruksi dengan nilai investasi US$ 21 miliar, setelah pengembangannya tertahan selama sekitar 28 tahun. Proyek energi ini diproyeksikan memperbesar pasokan gas domestik sekaligus membuka sumber penerimaan negara.

Ketika beroperasi, Blok Masela ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 1.200 juta kaki kubik gas per hari. Proyek tersebut juga diproyeksikan memproduksi 35.000 barel kondensat per hari.

Target produksi dan jadwal pembangunan

Pemerintah menargetkan pembangunan Blok Masela selesai pada 2029 hingga 2030. Produksi gas dan kondensat direncanakan dimulai setelah seluruh pekerjaan konstruksi rampung.

Skala produksi itu menempatkan Blok Masela sebagai salah satu proyek investasi energi terbesar di Indonesia. Tambahan pasokan dari proyek ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan energi domestik pada masa mendatang.

Komponen Target atau Nilai Keterangan
Nilai investasi US$ 21 miliar Investasi proyek energi
Produksi gas 1.200 juta kaki kubik per hari Target kapasitas produksi
Produksi kondensat 35.000 barel per hari Disebut setara produksi minyak
Target penyelesaian 2029-2030 Setelah konstruksi dimulai

Kondensat merupakan hidrokarbon cair yang dalam pengembangan proyek ini disebut setara dengan produksi minyak. Volume 35.000 barel per hari menjadi salah satu komponen penting dalam proyeksi manfaat ekonomi Blok Masela.

Ketahanan energi menjadi alasan percepatan

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menilai produksi dari Blok Masela dapat memperkuat ketahanan energi nasional. Gas yang dihasilkan nantinya diharapkan memberi tambahan pasokan bagi kebutuhan dalam negeri.

Pemerintah juga menilai proyek tersebut berpotensi memperluas kesempatan kerja dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Manfaat itu diharapkan muncul seiring kegiatan pembangunan hingga fasilitas mulai beroperasi.

Bahlil menyatakan negara akan memperoleh pendapatan ketika proyek telah berjalan. “Dampaknya kita akan mendapatkan pendapatan negara ketika itu jalan,” kata Bahlil sebagaimana dikutip Beritasatu.

Kebuntuan pengembangan akhirnya diakhiri

Blok Masela ditemukan pada 1998, namun pelaksanaannya lama tertunda akibat perbedaan pandangan mengenai pola pengembangan. Salah satu perdebatan utama menyangkut pilihan fasilitas lepas pantai atau offshore dan fasilitas di darat atau onshore.

Menurut Bahlil, perdebatan mengenai skema tersebut berlangsung hingga melewati enam masa presiden, termasuk pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. “Kalau ini terus menjadi perdebatan, kapan selesai?” ujarnya dalam pernyataannya.

Pemerintah kemudian mendorong penyelesaian perizinan dan administrasi agar proyek dapat segera dieksekusi. Dalam sekitar satu tahun, hambatan yang disebut menghalangi pelaksanaan proyek dinyatakan telah diselesaikan.

Tahap groundbreaking menandai dimulainya pekerjaan pembangunan setelah puluhan tahun proyek belum dapat dijalankan. Fokus berikutnya adalah menjaga pelaksanaan konstruksi agar target penyelesaian pada 2029 hingga 2030 dapat tercapai.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru