Gigi Susu Berlubang Bisa Mengacaukan Pertumbuhan Gigi Permanen Anak

Author: Redaksi Android62

Gigi susu yang tanggal terlalu dini akibat kerusakan dapat mengganggu jalur tumbuh gigi permanen anak. Kondisi ini berisiko membuat susunan gigi permanen tidak teratur atau bahkan terjebak di dalam gusi.

Karena itu, gigi susu berlubang tidak semestinya dibiarkan dengan anggapan akan copot dan digantikan gigi baru. Perawatan sejak kerusakan masih ringan diperlukan untuk menjaga fungsi gigi sekaligus ruang bagi gigi permanen.

Gigi susu berperan menjaga ruang tumbuh

Dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak drg. Alana Aluditasari, Sp.K.G.A, mengingatkan bahwa gigi susu memiliki fungsi penting dalam masa tumbuh kembang. Selain membantu anak mengunyah dan berbicara, gigi susu menjadi panduan pertumbuhan gigi permanen.

Kerusakan pada gigi dapat berkembang menjadi karies ketika enamel kehilangan mineral. Proses ini dipicu zat asam dari bakteri yang memfermentasi sisa makanan bergula atau mengandung karbohidrat di mulut.

Pada tahap awal, anak belum tentu mengeluhkan rasa sakit. Orangtua perlu mencermati bercak putih pada gigi yang dapat berubah menjadi cokelat atau kehitaman.

Ngilu setelah mengonsumsi makanan manis, panas, atau dingin juga dapat menjadi tanda kerusakan mulai bertambah dalam. Lubang yang terlihat, bau mulut, serta rasa sakit ketika menggigit perlu segera diperiksakan.

Nyeri dapat memengaruhi makan dan aktivitas

Karies yang tidak ditangani dapat mencapai lapisan gigi yang lebih dalam dan menimbulkan nyeri berkepanjangan. Anak dapat kehilangan nafsu makan sehingga asupan nutrisinya berpotensi tidak optimal.

Rasa tidak nyaman pada gigi juga dapat mengganggu tidur dan kegiatan harian. Anak bisa lebih rewel, sulit berkonsentrasi saat belajar, serta tidak bersemangat bermain.

Dalam kondisi berat, infeksi dari gigi berlubang dapat menyebar ke gusi dan tulang rahang. Infeksi tersebut dapat menjalar ke organ lain apabila tidak segera ditangani.

Penanganan disesuaikan dengan kondisi anak

Pilihan perawatan tidak selalu sama pada setiap anak karena bergantung pada usia, kondisi kesehatan, dan tingkat keparahan kerusakan gigi. Health.kompas.com menyebut dokter dapat memilih tindakan untuk memperkuat enamel, mempertahankan gigi, atau melakukan pencabutan bila gigi tidak lagi dapat dipertahankan.

Penanganan Tujuan atau kondisi
Perawatan fluorida Memperkuat enamel gigi
Tambal gigi Menangani kerusakan pada gigi
Mahkota gigi Menjadi pilihan perawatan sesuai kondisi gigi
Pencabutan Dilakukan jika gigi tidak dapat dipertahankan

Orangtua sebaiknya tidak menunggu anak menangis akibat sakit gigi sebelum membuat janji pemeriksaan. Dokter gigi spesialis kedokteran gigi anak dapat menilai tingkat kerusakan dan menentukan penanganan yang sesuai.

Kebiasaan harian yang perlu dibangun

Pencegahan dapat dimulai dengan menyikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluoride. Makanan dan minuman manis juga perlu dibatasi untuk menekan risiko terbentuknya karies.

Minum air putih setelah makan dapat membantu membersihkan sisa makanan yang tertinggal di mulut. Kebiasaan tersebut tetap tidak menggantikan kegiatan menyikat gigi secara rutin.

Kontrol ke dokter gigi dianjurkan sejak gigi pertama anak tumbuh atau saat anak berusia satu tahun. Pemeriksaan setiap enam bulan membantu memantau kesehatan gigi dan menemukan masalah sebelum menjadi lebih berat.

Berita Terbaru