Blokade Laut Houthi Mengancam Jalur Energi, Ketegangan Saudi-Yaman Memanas

Pengumuman blokade laut oleh kelompok Houthi terhadap Arab Saudi membuka risiko baru bagi jalur pelayaran dan infrastruktur energi di kawasan. Langkah ini muncul saat ketegangan di perbatasan Saudi-Yaman kembali meningkat setelah periode tenang relatif sejak 2022.

Blokade tersebut dinyatakan berlaku segera melalui pernyataan tertulis yang disiarkan televisi. Houthi menyebut kebijakan itu sebagai balasan atas pembatasan yang mereka tuding telah lama diterapkan Riyadh terhadap Yaman.

Tekanan Meluas ke Laut dan Udara

Selain embargo maritim, Houthi memperingatkan maskapai agar tidak menggunakan ruang udara Arab Saudi. Peringatan itu disebut akan tetap berlaku hingga, menurut Houthi, pengepungan terhadap Bandara Internasional Sanaa dicabut.

Kelompok tersebut menilai rakyat Yaman telah menghadapi pengepungan yang tidak adil dan represif selama hampir 12 tahun. Houthi juga menuduh pembatasan itu mencakup akses darat, laut, udara, pelabuhan, serta bandara.

PerkembanganPihak TerkaitPokok Informasi
Blokade lautHouthi dan Arab SaudiDinyatakan berlaku segera melalui pernyataan televisi.
Serangan rudalHouthi dan Arab SaudiHouthi menyebut Bandara Internasional Abha sebagai sasaran.
Kerusakan bandaraHouthi dan Pemerintah YamanPemerintah Yaman menyatakan pasukannya menyerang landasan pacu Sanaa.

Rudal Menargetkan Abha

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengonfirmasi serangan rudal kelompoknya diarahkan ke Bandara Internasional Abha di Arab Saudi bagian selatan. Otoritas Arab Saudi menyatakan rudal-rudal yang menuju wilayah selatan kerajaan telah dicegat.

Serangan itu menjadi peluncuran rudal Houthi ke wilayah Arab Saudi untuk pertama kalinya dalam empat tahun. Peristiwa tersebut menandai perubahan dari pola penghindaran konfrontasi langsung yang umumnya dijalankan Riyadh sejak kesepakatan gencatan senjata tidak resmi pada Maret 2022.

Versi Berbeda soal Bandara Sanaa

Houthi mengaitkan serangan rudal itu dengan tuduhan bahwa Arab Saudi telah melancarkan serangan udara terhadap Bandara Internasional Sanaa. Bandara yang berada di bawah kendali Houthi itu menjadi salah satu titik penting dalam peningkatan konflik terbaru.

Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Arab Saudi menyampaikan penjelasan berbeda. Pemerintah menyatakan pasukannya sendiri menggempur landasan pacu Bandara Sanaa, bukan Arab Saudi.

Menurut pemerintah Yaman, serangan itu bertujuan mencegah pesawat asal Iran mendarat di bandara tersebut. Pemerintah juga menuduh Teheran melanggar kedaulatan Yaman dan memperingatkan pesawat musuh yang memasuki wilayah udaranya akan ditindak.

Pesawat Iran yang menjadi sorotan kemudian disebut berputar arah dan mendarat di Bandara Hodeidah di pesisir Laut Merah. Situasi itu memperlihatkan bahwa perselisihan kini mencakup akses udara dan perairan, tidak hanya perbatasan darat.

Jalur Pelayaran Menjadi Perhatian

Kompas melaporkan peningkatan konfrontasi berpotensi mengancam jalur pelayaran vital dunia serta infrastruktur energi regional. Ancaman tersebut menguat setelah Houthi menyatakan akan menerapkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Konflik Yaman telah berlangsung lebih dari satu dekade dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terburuk di dunia. Perang bermula setelah Houthi merebut ibu kota Sanaa pada 2014, lalu koalisi pimpinan Arab Saudi melakukan intervensi pada 2015 untuk mendukung pemerintah yang sah.

Ketegangan baru ini berlangsung ketika perang antara Amerika Serikat dan Iran disebut semakin memanas. Perkembangan di Yaman pun menambah kekhawatiran atas meluasnya konfrontasi yang menyentuh perdagangan, penerbangan, dan kepentingan energi regional.

Source: www.kompas.com
Berita Terkait