BMKG Ungkap Kenapa Panas Eropa Bisa Mengunci, Indonesia Ternyata Tak Terseret

Author: Redaksi Android62

Gelombang panas ekstrem yang melanda Eropa tidak bisa disamakan dengan suhu tinggi yang kerap dirasakan Indonesia. BMKG menegaskan, perbedaan letak geografis dan mekanisme atmosfer membuat Indonesia tidak terseret ke pola panas yang sama.

Sekretaris Utama BMKG Guswanto menjelaskan, panas ekstrem di Eropa muncul ketika sirkulasi atmosfer terganggu dan udara panas terperangkap dalam waktu lama. Di Indonesia, suhu tinggi lebih sering berkaitan dengan kondisi tropis, gerak semu matahari, serta minimnya tutupan awan saat musim kemarau.

Mesin Atmosfer Eropa Yang Membuat Panas Terjebak

Menurut Guswanto, dua pola utama yang memicu gelombang panas di Eropa adalah omega block dan heat dome. Keduanya sama-sama membuat udara panas sulit keluar dari suatu wilayah.

Dalam kondisi omega block, aliran jet stream yang biasanya bergerak dari barat ke timur melemah dan membentuk pola menyerupai huruf omega. Sistem tekanan tinggi lalu terkunci di tengah, sementara tekanan rendah berada di sisi lain.

Situasi ini menciptakan kemacetan atmosfer yang membuat udara panas menumpuk lebih lama. Guswanto menyebut, sirkulasi yang semestinya membawa udara bergerak justru terhambat sehingga panas bertahan dalam periode panjang.

Sementara itu, heat dome bekerja seperti tutup besar di atmosfer. Tekanan tinggi menekan udara ke bawah, lalu udara memanas lebih jauh karena kompresi, sementara langit yang minim awan membuat radiasi matahari terus masuk tanpa banyak hambatan.

Udara Panas Dari Afrika Utara Juga Bisa Masuk

Pola tersebut tidak hanya memerangkap panas lokal, tetapi juga dapat menarik massa udara panas dari wilayah selatan. Dalam kondisi tertentu, udara panas dari Afrika Utara bisa terdorong menuju Eropa dan bertahan di sana.

Posisi geografis Eropa ikut membuat kawasan itu rentan terhadap situasi semacam ini. Sebagian besar wilayahnya berada di lintang 35 hingga 55 derajat lintang utara, yakni zona transisi yang sensitif terhadap perubahan pola sirkulasi atmosfer.

Ketika jet stream melemah atau berbelok dari jalur normal, massa udara panas dari selatan menjadi lebih mudah masuk. Jika kondisi itu berlangsung lama, suhu ekstrem pun lebih mudah terbentuk dan memicu gelombang panas.

Fenomena Karakter Utama Dampak
Omega block Jet stream melemah dan membentuk pola seperti omega Udara panas terjebak lebih lama
Heat dome Tekanan tinggi menekan udara ke bawah Udara memanas dan radiasi matahari terus masuk

Pemanasan Global Memperkuat Dampaknya

BMKG juga menyoroti bahwa perubahan iklim global ikut memperburuk gelombang panas di Eropa. Guswanto menyebut laju kenaikan suhu di benua itu mencapai sekitar 0,56 derajat Celsius per dekade, atau sekitar dua kali lipat dari rata-rata global.

Ia menambahkan, berkurangnya partikel aerosol di atmosfer ikut mengurangi kemampuan atmosfer memantulkan sebagian radiasi matahari. Dampaknya memang baik bagi kualitas udara, tetapi di sisi lain memperlemah efek pendinginan alami dari atmosfer.

Penyusutan es dan salju di wilayah lintang tinggi juga memperburuk keadaan. Permukaan yang dulu memantulkan panas kini lebih banyak digantikan daratan dan air yang justru menyerap energi lebih besar.

Mengapa Indonesia Tidak Mengalami Mekanisme Yang Sama

Guswanto menegaskan bahwa Indonesia tidak mengalami pola atmosfer yang sama seperti Eropa. Letak Indonesia di garis khatulistiwa membuat wilayah ini tidak dipengaruhi oleh jet stream lintang menengah yang menjadi kunci terbentuknya omega block.

Di wilayah tropis, cuaca lebih banyak dikendalikan oleh konveksi lokal dan siklus hujan. Karena itu, suhu panas di Indonesia umumnya muncul saat matahari tampak bergerak lebih dekat ke wilayah selatan atau saat awan berkurang, bukan karena massa udara panas terperangkap dalam sistem atmosfer besar seperti di Eropa.

Perbedaan inilah yang membuat angka suhu tinggi di Indonesia tidak otomatis berarti heatwave seperti di benua Eropa. Meski begitu, BMKG mengingatkan bahwa perubahan iklim tetap menjadi ancaman yang perlu diwaspadai karena bisa mengubah pola cuaca di banyak wilayah, termasuk kawasan tropis.

Source: www.beritasatu.com
Berita Terbaru