Bahasa Adat Mulai Hilang, Indonesia Terancam Kehilangan Penjaga Alamnya

Author: Redaksi Android62

Lebih dari satu juta hektare wilayah ICCAs di Indonesia disebut masih terjaga dengan baik di bawah pengelolaan Masyarakat Adat. Fakta itu menunjukkan bahwa pengetahuan tradisional bukan sekadar warisan budaya, melainkan juga benteng nyata bagi perlindungan alam.

Di tengah dorongan konservasi modern, keberadaan wilayah adat yang masih lestari menjadi pengingat bahwa relasi manusia dan lingkungan tidak bisa dipisahkan dari bahasa, ritual, dan sistem nilai yang hidup di dalamnya. Ketika unsur-unsur itu melemah, perlindungan ekosistem ikut kehilangan fondasinya.

Krisis yang lebih luas dari sekadar hilangnya hutan

Working Group ICCAs Indonesia atau WGII menilai Indonesia kini menghadapi krisis biokultural. Kondisi ini muncul ketika hubungan antara manusia, budaya, dan lingkungan mulai terputus, sehingga bukan hanya spesies dan hutan yang terancam, tetapi juga peradaban Masyarakat Adat.

Koordinator Eksekutif WGII, Cindy Julianty, menegaskan bahwa krisis biokultural justru lebih rentan lenyap daripada biodiversitas. Menurut dia, yang terancam adalah seluruh relasi yang menghubungkan manusia, bahasa, ritual, pengetahuan, spiritualitas, dan lanskap hidup.

Indonesia memang dikenal sebagai negara megabiodiversitas dengan bentang alam yang sangat kaya, mulai dari savana, pesisir, hingga hutan belantara. Namun, WGII menekankan bahwa kekayaan itu tidak dapat dilepaskan dari dimensi megabiokultural yang memperlihatkan keterhubungan mendalam antara alam dan budaya.

Cindy menyebut aspek fisik alam tidak pernah berdiri sendiri. “Ada keterkaitan antara alam dan budaya, antara alam dan manusia,” ujarnya, seraya menekankan bahwa biokultural mencakup relasi, bahasa, praktik, spiritualitas, dan lanskap yang lebih luas.

Saat alam dipersempit menjadi sekadar komoditas

WGII memperingatkan bahwa hilangnya keterhubungan spiritual dan budaya dengan lingkungan dapat mengubah cara manusia memandang alam. Jika alam tidak lagi dipahami sebagai ruang hidup bersama, ia mudah diposisikan hanya sebagai objek ekonomi.

Menurut Cindy, cara pandang seperti itu berbahaya karena eksploitasi dan perusakan dapat dianggap wajar ketika alam dipahami semata sebagai pasokan untuk kebutuhan manusia. Dalam situasi itu, sistem nilai yang selama ini menjaga keseimbangan ekologi ikut terkikis.

Contoh keterhubungan biokultural terlihat jelas pada keberagaman padi lokal di komunitas adat. Setiap varietas memiliki nama, fungsi, dan makna yang berbeda, baik untuk konsumsi harian maupun kebutuhan ritual.

Ada jenis padi lokal yang tidak bisa digantikan karena perannya bukan hanya ekonomi, tetapi juga spiritual dan ekologis. Ketika benih lokal itu hilang, ritual yang menyertainya ikut lenyap dan cara pandang masyarakat terhadap sumber daya alam turut bergeser.

Regenerasi pengetahuan adat yang makin terputus

Selama berabad-abad, Masyarakat Adat membangun sistem konservasi yang menyesuaikan kondisi wilayah masing-masing. Di Jawa Barat, komunitas Kasepuhan mengenal zonasi hutan adat melalui leuweung titipan sebagai hutan sakral, leuweung tutupan sebagai hutan lindung, dan leuweung garapan sebagai hutan produksi.

Pembagian ruang ini berfungsi menjaga sumber air bersih, melestarikan tanaman obat tradisional, dan menyediakan lahan pemanfaatan terbatas. Warga Kasepuhan dan Baduy juga memiliki sistem lumbung padi yang membantu mengawetkan benih lokal secara alami dengan bantuan tanaman tertentu.

Masalah muncul ketika model konservasi modern justru membatasi akses Masyarakat Adat ke wilayah leluhur mereka sendiri. Situasi itu membuat generasi muda kehilangan kesempatan untuk mempelajari kayu rumah adat, tanaman penting, atau ramuan obat tradisional dari para tetua.

WGII menyebut matinya regenerasi pengetahuan sebagai salah satu bentuk krisis biokultural paling nyata saat ini. Warisan biokultural, menurut lembaga itu, bukan konsep abstrak karena hidup dalam praktik harian yang selama ini menjaga hubungan manusia dengan alam.

Isu ini menjadi semakin penting menjelang Konferensi PBB untuk Keanekaragaman Hayati atau CBD COP17 yang akan digelar di Armenia pada Oktober mendatang. Dunia kini berpacu menahan laju kehilangan keanekaragaman hayati secara total pada target 2030.

Dalam konteks itu, keberhasilan konservasi tidak cukup diukur dari jumlah spesies yang diselamatkan atau luas kawasan hutan yang diamankan. Menjaga bahasa, ritual, dan praktik budaya adat yang hidup berdampingan dengan alam menjadi bagian penting agar peradaban tidak kehilangan arah.

Source: www.suara.com
Berita Terbaru