Bobot Bensin Cuma 0,02 Persen, Kenaikan BBM Nonsubsidi Belum Kuat Dorong Inflasi

Lonjakan harga BBM nonsubsidi pada pertengahan April 2026 belum cukup kuat mendorong inflasi nasional. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi April hanya 0,13 persen secara bulanan dan 2,42 persen secara tahunan, meski sejumlah komoditas energi dan transportasi ikut bergerak naik.

Kecilnya bobot komoditas menjadi alasan utama mengapa tekanan itu tidak melebar. Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyebut pengaruh bensin terhadap inflasi umum pada April 2026 hanya 0,02 persen.

Ateng menjelaskan bahwa bensin memiliki bobot yang rendah dalam perhitungan inflasi. Karena itu, kenaikan harganya tidak langsung berubah menjadi dorongan besar bagi inflasi nasional.

Penjelasan serupa juga berlaku untuk BBM nonsubsidi secara umum. Produk ini lebih banyak digunakan kelompok tertentu, sehingga dampaknya terhadap inflasi keseluruhan relatif terbatas.

Dampak energi ikut terasa, tetapi tidak dominan

BPS juga mencermati pergerakan pada avtur. Harga bahan bakar pesawat naik di seluruh bandara di Indonesia dan ikut memengaruhi tarif tiket pesawat, namun pengaruhnya terhadap inflasi agregat tetap kecil.

Di sisi lain, tarif angkutan udara memang meningkat lebih kuat. BPS mencatat tarif tiket pesawat naik 15,24 persen mtm, tetapi kenaikan itu dinilai lebih sebagai normalisasi harga setelah sebelumnya sempat deflasi.

Kenaikan di sektor transportasi juga tidak sepenuhnya lahir dari BBM nonsubsidi. Ateng mengatakan tarif jasa angkutan penumpang kembali naik karena harga sebelumnya tertekan oleh kebijakan stimulus ekonomi pemerintah pada triwulan I 2026.

Dengan kondisi itu, tekanan inflasi dari transportasi lebih banyak mencerminkan penyesuaian harga dari level yang sempat turun. Efek dari energi memang menyebar, tetapi bobot tiap komoditas tetap menentukan besar kecilnya dampak ke inflasi umum.

Perubahan harga BBM dilakukan bertahap

PT Pertamina (Persero) menyesuaikan harga sejumlah BBM nonsubsidi sejak 18 April 2026. Produk yang terdampak antara lain Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Pada 18 April 2026, Pertamax Turbo dijual Rp19.400 per liter, Dexlite Rp23.600 per liter, dan Pertamina Dex Rp23.900 per liter. Lalu pada 4 Mei 2026, Pertamax Turbo naik menjadi Rp19.900 per liter dan Dexlite naik menjadi Rp26.000 per liter, sedangkan Pertamina Dex tetap Rp23.900 per liter.

Data tersebut menunjukkan penyesuaian tidak terjadi serempak pada semua produk. Pertamax Turbo dan Dexlite mengalami lonjakan, sementara Pertamina Dex bertahan tanpa perubahan pada periode itu.

Menurut laman resmi Pertamina, kenaikan terbaru per 4 Mei 2026 berlaku untuk wilayah tertentu. Dalam kelompok BBM nonsubsidi, Pertamax Turbo dan solar nonsubsidi disebut mengalami lonjakan signifikan, sedangkan harga Pertamax dilaporkan stabil.

Meski ada penyesuaian harga di sektor energi, BPS menilai pengaruhnya terhadap inflasi nasional masih terkendali. Selama bobot komoditas yang naik tetap kecil, gejolak harga BBM nonsubsidi tidak otomatis menjadi tekanan besar bagi inflasi umum.

Berita Terkait