Brussels sedang menyiapkan aturan yang dapat mengubah cara pabrik otomotif Eropa membeli komponen penting. Intinya, perusahaan tidak lagi bisa terlalu bergantung pada satu pemasok, terutama saat China dianggap memegang peran besar dalam rantai pasok strategis.
Rancangan itu muncul karena Uni Eropa ingin menutup celah yang selama ini membuat industri rentan terhadap gangguan pasokan. Dalam kondisi produksi mobil yang sangat sensitif, keterlambatan satu komponen saja dapat menghentikan jalur perakitan secara keseluruhan.
Batas ketergantungan pada satu pemasok
Menurut laporan Financial Times, aturan yang dibahas akan berlaku untuk sejumlah sektor strategis, termasuk bahan kimia dan mesin industri. Industri otomotif ikut terdampak karena sektor ini bergantung pada jaringan pasokan global untuk komponen, material, dan teknologi pendukung.
Dalam rancangan itu, perusahaan Eropa diperkirakan hanya boleh mengambil sekitar 30 sampai 40 persen komponen dari satu pemasok. Sisanya harus dipenuhi dari setidaknya tiga pemasok berbeda, dan sumbernya tidak boleh seluruhnya berasal dari negara yang sama.
Skema tersebut menunjukkan bahwa Uni Eropa tidak hanya ingin mengurangi dominasi satu perusahaan. Brussels juga berusaha mencegah ketergantungan yang terlalu besar pada satu negara yang menguasai mata rantai bahan baku atau komponen tertentu.
Tekanan dari harga murah dan kontrol ekspor
Dorongan memperketat aturan ini juga dipicu kekhawatiran atas dumping produk murah asal China. Produk impor berharga rendah dinilai memberi tekanan besar pada industri lokal karena sulit disaingi oleh produsen Eropa.
Di sisi lain, Uni Eropa juga menyoroti pembatasan ekspor beberapa teknologi penting oleh Beijing. Langkah itu dianggap dapat mengganggu stabilitas pasokan untuk industri di kawasan tersebut.
Pengalaman tahun lalu ikut memperkuat kekhawatiran itu. Saat China menerapkan kontrol ekspor terhadap magnet tanah jarang dan beberapa komponen penting lain, rantai pasok industri Eropa terganggu dan sebagian lini produksi otomotif sempat berhenti.
Otomotif berada di garis depan
Bagi produsen kendaraan, masalah pasokan seperti ini tidak berhenti pada urusan administrasi. Satu komponen yang terlambat datang dapat menghentikan produksi mobil meski komponen lain sudah tersedia.
Karena itu, perubahan kebijakan ini menyentuh langsung biaya, kelancaran produksi, dan cara perusahaan menyusun ulang jaringan pengadaan. Industri otomotif menjadi salah satu sektor yang paling rentan karena bergantung pada pasokan lintas negara untuk menjaga ritme produksi tetap berjalan.
Uni Eropa juga memandang kondisi ini sebagai bentuk risiko “mempersenjatai perdagangan”. Istilah tersebut merujuk pada situasi ketika dominasi pasokan dan hubungan dagang dipakai sebagai alat tekanan ekonomi atau politik.
Diversifikasi jadi arah utama
Meski perhatian publik banyak tertuju ke China, pejabat Uni Eropa menegaskan bahwa proposal ini tidak ditujukan hanya untuk satu negara. Pendekatannya lebih menekankan diversifikasi sumber pasokan untuk komoditas dan komponen yang dianggap penting.
Kerentanan serupa juga terlihat di bahan baku lain. Helium misalnya banyak dikuasai Amerika Serikat dan Qatar, sedangkan kobalt banyak berasal dari Republik Demokratik Kongo dan Indonesia.
Karena itu, Uni Eropa ingin membangun kerangka yang lebih luas agar industri tidak mudah terguncang oleh satu sumber pasokan. Tujuannya bukan sekadar memindahkan ketergantungan dari satu negara ke negara lain, melainkan memperbanyak pilihan pemasok.
Untuk mendukung langkah itu, Uni Eropa disebut ingin memanfaatkan jaringan perjanjian perdagangan bebas dengan lebih dari 70 negara. Jaringan tersebut dipandang dapat membantu membentuk rantai pasok alternatif sekaligus menarik investasi industri baru.
Tarif tambahan untuk produk tertentu
Selain membatasi ketergantungan pada pemasok tertentu, Uni Eropa juga berencana mengenakan tarif tambahan terhadap produk bahan kimia dan mesin industri asal China. Kebijakan ini diarahkan untuk meredam tekanan pada produsen lokal di Eropa.
Industri kimia Eropa disebut tengah berada di bawah tekanan akibat banjir produk impor murah dari China. Seorang pejabat Uni Eropa yang dikutip Financial Times bahkan memperingatkan, “Dalam dua tahun, Anda dapat kehilangan seluruh industri.”
Peringatan itu menegaskan bahwa pembahasan di Brussels tidak hanya soal efisiensi biaya atau perdagangan bebas. Ada kekhawatiran bahwa tanpa perlindungan dan diversifikasi pasokan, sebagian basis industri Eropa dapat melemah dalam waktu relatif singkat.
Proposal tersebut dijadwalkan mulai dibahas secara resmi pada 29 Mei 2026 sebelum diputuskan lebih lanjut oleh Komisi Eropa dan para pemimpin Uni Eropa. Bagi pelaku industri, terutama otomotif, arah kebijakan ini dapat menentukan ulang cara mereka menyusun rantai pasok dalam waktu dekat.
Source: otomotif.kompas.com