Pemerintah memilih menahan aktivasi bond stabilization fund atau BSF setelah menilai kondisi ekonomi Indonesia belum berada dalam fase krisis. Langkah ini menunjukkan prioritas utama saat ini adalah menenangkan pasar obligasi tanpa mengirim sinyal bahwa situasi sedang memburuk.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan BSF memang disiapkan untuk keadaan yang lebih berat, bukan untuk dipakai saat kondisi masih terkendali. Ia menilai perangkat darurat itu belum relevan, sehingga pemerintah lebih memilih memakai instrumen yang sudah ada untuk meredam tekanan di pasar surat utang.
Kas dan SAL Jadi Andalan
Sebagai pengganti aktivasi BSF, pemerintah akan memaksimalkan kas negara dan Saldo Anggaran Lebih atau SAL. Dua instrumen fiskal itu dipandang cukup untuk membantu menjaga harga Surat Berharga Negara atau SBN tetap stabil.
Purbaya menilai pengelolaan kas dan SAL masih bisa dipakai untuk meredam gejolak tanpa perlu membuka mekanisme yang lebih luas. Dengan cara itu, ruang kebijakan fiskal tetap terjaga dan tidak langsung diarahkan ke langkah yang identik dengan keadaan darurat.
Belum Ada Kebutuhan Libatkan Lembaga Lain
Dalam pendekatan yang dipilih, pemerintah juga belum berencana melibatkan PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) maupun Indonesia Investment Authority. Fokusnya justru diarahkan pada peran unit perbendaharaan yang dibuat lebih aktif dalam mengelola likuiditas.
Purbaya bahkan membandingkan pola yang ingin dibangun dengan perbendaharaan di sektor swasta. Intinya tetap sama, yaitu memastikan dana negara bisa bergerak cepat ketika pasar memerlukan penyeimbang.
Sempat Disiapkan untuk Hadapi Tekanan Pasar
Sebelumnya, Purbaya sempat menyampaikan rencana aktivasi dana stabilisasi obligasi pada Rabu (6/5). Saat itu, BSF diarahkan untuk menjaga pasar surat utang tetap stabil dan tidak mudah terguncang oleh investor asing.
Rencana tersebut juga bertujuan mencegah gejolak di pasar keuangan domestik dan membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Tekanan di pasar obligasi disebut muncul akibat arus keluar modal asing dari pasar surat utang domestik.
Skema Buyback SBN Pernah Masuk Perhitungan
Dalam skema yang sempat disiapkan, BSF akan digunakan untuk membeli kembali atau buyback SBN di pasar sekunder. Langkah itu ditujukan agar yield SBN tetap stabil dan investor asing yang memegang surat utang tidak mengalami capital loss.
Namun setelah menilai kondisi ekonomi masih aman, pemerintah memilih tidak menjalankan langkah tersebut. Pendekatan yang diambil sekarang lebih menitikberatkan pada stabilisasi harga obligasi dengan perangkat fiskal yang sudah tersedia.
Pasar Tetap Dipantau
Meski BSF tidak diaktifkan, pemerintah tetap memantau pergerakan pasar obligasi dan harga SBN. Sikap ini memperlihatkan bahwa stabilitas pasar masih menjadi perhatian utama tanpa harus memakai instrumen darurat.
Purbaya menegaskan tekanan yang ada masih bisa dikelola dengan cara yang lebih ringan. Dengan begitu, pemerintah berupaya menjaga pasar tetap tenang sekaligus menghindari kesan bahwa ekonomi sedang masuk fase krisis.
Source: www.suara.com






