Anak yang sering tampak cemas tidak selalu bermula dari masalah besar di luar rumah. Dalam banyak kasus, sumbernya justru muncul dari kebiasaan kecil orang tua yang terasa wajar, tetapi perlahan membuat anak terbiasa memikirkan banyak hal secara berlebihan.
Saat pola itu terjadi berulang, anak bisa merasa diawasi, diragukan, atau tidak cukup didengar. Dari sana, rasa aman mereka menurun dan overthinking lebih mudah tumbuh sejak dini.
Tekanan yang terus datang dari kritik
Kritik memang bisa membantu anak belajar dari kesalahan. Namun, jika kritik muncul terus-menerus, anak dapat merasa dirinya selalu salah.
Kondisi ini perlahan menggerus rasa percaya diri. Anak juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap penilaian orang lain dan lebih takut gagal.
Perlindungan yang terlalu jauh membatasi ruang gerak
Keinginan melindungi anak dari bahaya adalah hal yang wajar. Masalahnya muncul ketika perlindungan berubah menjadi sikap yang terlalu protektif.
Jika anak jarang diberi kesempatan mencoba sendiri, dunia luar bisa terasa menakutkan. Mereka pun lebih mudah merasa tidak mampu menghadapi tantangan dan akhirnya bergantung pada orang tua dalam banyak keputusan.
Sikap seperti ini juga membuat anak takut membuat kesalahan. Saat bertemu hal baru, kecemasan mereka bisa meningkat karena tidak terbiasa mengambil inisiatif.
Tuntutan yang terlalu tinggi membuat anak sulit tenang
Banyak orang tua berharap anak berhasil, baik di bidang akademik maupun nonakademik. Harapan itu tidak keliru, tetapi beban psikologis anak bisa meningkat ketika tuntutannya terlalu tinggi.
Anak yang terus dibebani standar besar sering merasa harus sempurna. Mereka akhirnya sibuk memikirkan apakah dirinya sudah cukup baik dan takut mengecewakan orang tua.
Situasi tersebut mendorong overthinking. Alih-alih berkembang dengan tenang, anak justru terus mengukur diri pada standar yang sulit dicapai.
Perasaan anak yang tidak dianggap bisa menumpuk jadi cemas
Tidak semua anak mudah mengungkapkan isi hati. Karena itu, respons orang tua saat anak mencoba bercerita sangat menentukan rasa aman mereka.
Jika perasaan anak dianggap sepele berulang kali, anak bisa belajar memendam emosi sendiri. Mereka juga bisa merasa takut saat ingin terbuka, lalu memilih menyimpan banyak hal di dalam diri.
Emosi yang terus dipendam dapat berubah menjadi kecemasan. Dalam kondisi seperti ini, overthinking sering muncul sejak usia dini karena anak tidak merasa aman untuk berbagi.
Suasana rumah yang lebih menenangkan membantu anak merasa aman
Ketika anak mulai terlihat cemas atau terlalu banyak pikiran, respons orang tua bisa memberi pengaruh besar. Suasana rumah yang hangat dan suportif sering membantu anak merasa tidak sendirian.
Psikolog Jeffrey Bernstein, Ph.D. menekankan pentingnya mengajarkan anak cara menenangkan diri dan menyelesaikan masalah sebagai keterampilan kesehatan emosional. Ia juga menyebut lingkungan yang terbuka membuat anak merasa didengar.
Komunikasi yang hangat membantu anak lebih nyaman bercerita tanpa takut dihakimi. Rutinitas yang stabil juga memberi rasa aman karena anak tahu apa yang akan terjadi sepanjang hari.
Orang tua pun perlu memberi contoh saat menghadapi stres dengan cara yang sehat. Anak banyak belajar dari cara orang tua merespons masalah, sehingga ketenangan di rumah dapat ikut membantu menekan rasa cemas yang mereka rasakan.
Source: www.beautynesia.id






