BUMDes Kalipelus Jalankan 10 Usaha Sekaligus, Dari Nila Hingga Layanan Internet

Author: Redaksi Android62

BUMDes Maju Lancar di Desa Kalipelus, Banjarnegara, mengelola 10 unit usaha aktif yang saling terhubung dalam satu ekosistem. Dari ternak sapi dan kambing, budidaya ikan nila, pemancingan yang juga berfungsi sebagai rest area, hingga layanan internet dan e-commerce, semua diarahkan agar potensi desa tidak berhenti di satu titik saja.

Pola itu membuat usaha desa bisa bergerak dari sektor produksi ke layanan, lalu ke aktivitas wisata dan digital. Kepala Desa Kalipelus, Hartiningsih, menyebut pengelolaan semacam ini menjadi cara agar sumber ekonomi desa tetap hidup dan tidak bergantung pada satu bidang usaha saja.

Salah satu unit yang paling menonjol adalah budidaya ikan nila. Komoditas ini dipilih karena dinilai memiliki perputaran modal yang stabil, dengan harga pasar yang disebut berada di kisaran Rp30.000 per kilogram.

Pengelolaan nila di Kalipelus tidak hanya berhenti pada proses panen dan penjualan. Kolam ikan juga dimanfaatkan sebagai area pemancingan, sehingga satu aset bisa memberi fungsi ganda bagi desa dan pengunjung.

Dari kolam ke meja

Nilai tambah usaha perikanan muncul ketika hasil budidaya langsung masuk ke dapur BUMDes. Ikan nila dari kolam kemudian disajikan sebagai menu konsumsi di area rest area, sehingga alur bisnis bergerak lebih dekat dari produksi ke pelayanan makan.

Cara ini memangkas rantai distribusi dan membuka peluang keuntungan yang lebih besar. Sajian kuliner dengan bumbu Banyumas dan sambal menjadi salah satu pembeda yang memperkuat daya tarik lokasi bagi pengunjung.

Dengan model seperti itu, BUMDes tidak hanya menjual ikan sebagai bahan mentah. Unit usaha juga berubah menjadi penyedia pengalaman berkunjung yang menggabungkan makan, singgah, dan menikmati suasana desa.

Pertanian yang ikut menarik kunjungan

Selain perikanan, sektor pertanian juga dirancang punya nilai wisata. Lahan cabai dimanfaatkan sebagai area petik cabai, sehingga pengunjung tidak hanya melihat proses budidaya, tetapi juga bisa merasakan pengalaman memanen langsung.

Strategi tersebut membuat area pertanian punya peran yang lebih luas daripada sekadar tempat produksi. Saat jumlah kunjungan naik, aktivitas lain seperti warung makan dan unit usaha pendukung ikut mendapat dampak.

Hartiningsih juga menyampaikan bahwa pengembangan pertanian hidroponik sedang disiapkan sebagai sarana edukasi. Rencana ini diarahkan untuk menambah produktivitas sekaligus membuka ruang pembelajaran bagi masyarakat dan pelajar yang datang ke kawasan BUMDes.

Usaha lain ikut menopang

Di luar ikan dan cabai, peternakan sapi serta kambing tetap menjadi bagian penting dari portofolio usaha BUMDes. Kehadiran sektor ini memperkuat ketahanan ekonomi desa karena sumber pendapatannya tidak bertumpu pada satu komoditas saja.

Pada saat yang sama, BUMDes juga masuk ke layanan internet dan e-commerce. Direktur BUMDes Maju Lancar, Budi Suroso, menegaskan bahwa pengembangan ekonomi desa kini tidak hanya bergerak di ternak dan ikan, tetapi juga mengikuti kebutuhan digital masyarakat.

“Kami juga masuk ke layanan internet dan e-commerce. Jadi bukan cuma ternak sapi atau ikan, tapi juga sektor digital,” ujarnya.

Keberadaan layanan digital menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi di Kalipelus disusun mengikuti perubahan kebutuhan warga. Desa tidak hanya memanfaatkan sumber daya fisik yang sudah ada, tetapi juga mencoba membangun jembatan ke layanan modern.

Kawasan yang dibuat nyaman untuk singgah

Penataan kawasan menjadi bagian penting dari jalannya usaha BUMDes. Area pemancingan dibuat nyaman dengan parkir luas dan saung, sehingga pengunjung dari luar desa punya alasan untuk berhenti lebih lama.

Fasilitas itu ikut menggerakkan transaksi di dalam ekosistem BUMDes, karena pengunjung bisa memancing, makan, dan menikmati suasana dalam satu tempat. Model ini membuat potensi desa tidak bergerak sendiri-sendiri, melainkan saling mendukung antara ternak, ikan, pertanian, wisata, dan layanan digital.

Berita Terbaru