Anak dapat memilih diam saat menghadapi masalah jika khawatir menerima reaksi keras dari orang tua. Karena itu, respons orang tua pada saat sulit lebih menentukan daripada sekadar kedekatan dalam keseharian.
Rasa aman untuk berbicara dibangun lewat kebiasaan kecil yang dilakukan berulang. Kebiasaan ini membantu anak melihat rumah sebagai tempat untuk kembali, termasuk ketika persoalannya menjadi lebih rumit saat dewasa.
| Kebiasaan Orang Tua | Dampak bagi Anak |
|---|---|
| Menenangkan diri sebelum merespons | Anak tidak takut pada reaksi orang tua |
| Berbagi tentang diri sendiri | Anak melihat contoh keterbukaan |
| Menanyakan perasaan anak | Pikiran dan emosi anak diperhatikan |
| Menerima berbagai emosi | Anak tidak merasa dihakimi |
| Memperbaiki diri setelah konflik | Anak belajar konflik dapat dipulihkan |
Pelatih pengasuhan anak Reem Raouda menilai kedekatan saja belum cukup untuk menumbuhkan kejujuran. Berdasarkan pengamatannya terhadap lebih dari 200 hubungan orang tua dan anak, ruang percakapan yang aman perlu dibentuk melalui sikap yang konsisten.
Menurut laporan Beautynesia yang mengutip CNBC Make It, anak membutuhkan keyakinan bahwa cerita sulitnya akan ditanggapi dengan baik. Berikut lima kebiasaan yang dapat memperkuat kepercayaan anak kepada orang tua.
1. Menenangkan Diri Sebelum Merespons Anak
Reaksi pertama orang tua dapat membuat anak meneruskan cerita atau justru menutup diri. Menenangkan emosi sebelum berbicara memberi anak kesempatan menyampaikan masalah tanpa dibayangi rasa takut.
Perasaan anak tidak perlu diperlakukan sebagai ancaman yang harus segera dihentikan dengan kemarahan. Sikap tenang membantu orang tua mendengar persoalan terlebih dahulu sebelum menentukan tanggapan.
2. Berbagi Tentang Diri Sendiri
Anak kerap mempelajari keterbukaan dari cara orang tua mengelola perasaannya sendiri. Orang tua yang mampu menunjukkan rasa bahagia, sedih, atau stres secara wajar memberi contoh bahwa emosi dapat dibicarakan.
Keterbukaan itu tidak berarti orang tua membebankan persoalannya kepada anak. Sikap tersebut menunjukkan bahwa orang tua juga manusia yang memiliki perasaan dan mampu menyampaikannya dengan sehat.
3. Menanyakan Perasaan Anak
Percakapan keluarga tidak perlu berhenti pada nilai, tugas, atau pencapaian anak. Pertanyaan sederhana mengenai keadaan emosinya dapat membuka jalan bagi dialog yang lebih bermakna.
Orang tua dapat menanyakan, “Apa perasaanmu hari ini?” atau “Ada hal sulit yang sedang kamu pikirkan?” Perhatian seperti ini menempatkan emosi anak sebagai bagian penting dalam pola asuh anak.
4. Menerima Berbagai Emosi
Anak tidak selalu ceria dan dapat merasa marah, sedih, maupun kecewa. Orang tua yang dipercaya tetap hadir ketika anak menunjukkan emosi yang tidak menyenangkan.
Menerima emosi tidak sama dengan membiarkan semua tindakan tanpa batas. Sikap ini berarti anak tidak dibuat merasa bersalah atau dihakimi hanya karena sedang mengalami perasaan tertentu.
5. Memperbaiki Diri Setelah Konflik
Konflik dapat muncul dalam hubungan keluarga dan tidak selalu berarti hubungan itu gagal. Yang penting, orang tua menunjukkan upaya untuk memulihkan keadaan setelah emosi mereda.
Orang tua dapat mengakui kesalahan dan meminta maaf jika merasa telah bersikap terlalu keras. Kalimat seperti, “Tadi aku terlalu keras padamu,” mengajarkan kepada anak bahwa konflik dapat diperbaiki dengan tanggung jawab.
Kebiasaan tersebut tidak menjamin hubungan orang tua dan anak akan bebas masalah. Namun, respons yang tenang dan kesediaan memperbaiki kesalahan dapat membuat anak lebih berani menjaga keterbukaan hingga dewasa.
