BYD mencatat pencapaian paling mencolok di pasar otomotif Indonesia pada semester I 2026. Merek asal Tiongkok itu membukukan 23.257 unit penjualan wholesales dan menyalip Honda yang berada di angka 20.673 unit.
Pergeseran ini menjadi penanda bahwa persaingan di pasar mobil nasional mulai bergerak ke arah baru. Di saat merek Jepang masih dominan, merek-merek Tiongkok justru tampil semakin agresif dan berhasil merebut perhatian konsumen.
Jaecoo langsung masuk delapan besar
Selain BYD, Jaecoo juga mencuri perhatian karena langsung menembus delapan besar. Pendatang baru ini mencatat 17.334 unit wholesales dan 16.986 unit ritel, melampaui Wuling, Hyundai, dan Geely.
Langkah Jaecoo menunjukkan bahwa pasar Indonesia semakin terbuka terhadap merek baru, terutama yang membawa teknologi mutakhir dengan harga yang kompetitif. Kehadiran kendaraan listrik juga ikut memperbesar ruang tumbuh bagi merek Tiongkok.
Angka pasar masih tumbuh
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia atau Gaikindo menunjukkan penjualan wholesales sepanjang semester I 2026 mencapai 436.564 unit. Angka itu naik 15,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penjualan ritel juga bergerak positif menjadi 433.848 unit, tumbuh 10,5 persen. Kenaikan pasar ini menjadi latar yang membuat pergeseran peringkat merek terlihat semakin jelas.
Honda masih bertahan di ritel
Walau tersalip di wholesales, Honda masih unggul tipis di penjualan ritel dengan 23.847 unit. Selisihnya hanya 659 unit dari BYD, sehingga persaingan di level konsumen masih sangat ketat.
Di daftar wholesales, Toyota tetap memimpin dengan 133.928 unit, disusul Daihatsu dengan 73.545 unit, Suzuki dengan 36.319 unit, dan Mitsubishi Motors dengan 32.588 unit. Honda dan BYD berada di tengah perubahan yang kini mulai mengganggu peta lama pasar otomotif nasional.
| Merek | Wholesales | Ritel |
|---|---|---|
| Toyota | 133.928 unit | – |
| Daihatsu | 73.545 unit | – |
| Suzuki | 36.319 unit | – |
| Mitsubishi Motors | 32.588 unit | – |
| BYD | 23.257 unit | – |
| Honda | 20.673 unit | 23.847 unit |
Tekanan dan peluang di semester berikutnya
Pendorong pertumbuhan datang dari harga EV asal Tiongkok yang relatif lebih terjangkau dibandingkan produk Jepang atau Korea. Di sisi lain, pemerintah juga memberi dukungan lewat insentif pajak dan regulasi yang ramah terhadap kendaraan listrik.
Momentum pasar pada semester II juga berpotensi terdorong oleh GIIAS 2026 yang digelar pada 29 Juli–9 Agustus. Namun, industri masih menghadapi tekanan dari rupiah yang bertahan di Rp17.900 per dolar AS serta suku bunga acuan BI yang naik ke 5,75 persen.
Kondisi tersebut berpotensi menaikkan biaya produksi sekaligus menekan permintaan kredit kendaraan. Di tengah situasi itu, Jepang berusaha mempertahankan dominasi, sementara merek Tiongkok terus memperluas pengaruhnya di Indonesia.
Semester I 2026 akhirnya menegaskan bahwa peta persaingan otomotif nasional sedang berubah. BYD berhasil menyalip Honda, Jaecoo langsung masuk delapan besar, dan merek Tiongkok kini memberi tekanan nyata pada pemain lama.
