Tekanan pada cadangan devisa India makin terasa ketika biaya impor energi dan komoditas lain terus membengkak. Dalam situasi itu, Perdana Menteri Narendra Modi meminta warga menahan konsumsi yang tidak mendesak, mulai dari energi, emas, hingga perjalanan ke luar negeri.
Imbauan tersebut disampaikan Modi di Hyderabad, India selatan. Ia menilai penghematan devisa sudah menjadi kebutuhan mendesak karena ekonomi India sedang berada di bawah tekanan eksternal yang berat.
Fokus pada pengeluaran yang masih bisa ditekan
Modi mendorong masyarakat mengurangi perjalanan ke luar negeri dan beralih ke kerja dari rumah serta rapat daring. Langkah itu, menurut arahan yang ia sampaikan, dapat membantu menekan penggunaan bahan bakar dan biaya yang terkait dengan mobilitas.
Ia juga meminta publik lebih sering menggunakan transportasi umum dan carpooling. Di tingkat rumah tangga, Modi mengajak warga menahan konsumsi minyak goreng, yang ia kaitkan dengan gaya hidup hemat sekaligus lebih sehat.
Di sektor pertanian, Modi meminta petani mengurangi penggunaan pupuk hingga 50% di tengah gangguan pasokan global. Ia menegaskan bahwa patriotisme tidak hanya terlihat di medan perang, tetapi juga lewat sikap hemat dan tanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari.
Energi dan emas jadi titik paling sensitif
Seruan hemat itu muncul saat pasar energi dunia terguncang oleh perang antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran. Konflik yang dimulai pada 28 Februari 2026 memicu lonjakan harga minyak mentah Brent hampir 50%, dari US$ 72,87 per barel menjadi US$ 105,45 per barel.
Kenaikan itu terjadi setelah serangan Iran terhadap fasilitas energi di kawasan Teluk dan pembatasan lalu lintas kapal di Selat Hormuz. Jalur tersebut sangat penting bagi India karena sekitar 50% impor minyak mentah negara itu melewatinya.
India termasuk salah satu negara yang paling rentan karena sekitar 85% kebutuhan energinya masih bergantung pada impor. Posisi itu membuat setiap gangguan harga minyak dan pengiriman langsung menambah beban ekonomi domestik.
Selain energi, emas juga masuk daftar pengeluaran yang disorot. Sepanjang tahun fiskal 2025-2026, India mengimpor emas senilai US$ 72 miliar dan menjadi pembeli emas terbesar kedua di dunia setelah China.
Impor besar, ruang fiskal makin sempit
India juga masih sangat bergantung pada impor pupuk, terutama urea, dengan volume sekitar 10 juta ton per tahun. Sebagian besar pasokan itu berasal dari negara-negara Teluk yang ikut terdampak konflik dan gangguan pelayaran.
Kondisi tersebut membuat ruang pemerintah untuk memangkas impor strategis menjadi terbatas. Pada saat yang sama, India juga tercatat sebagai importir minyak terbesar ketiga di dunia setelah China dan AS.
Dalam tahun fiskal April 2025 hingga Maret 2026, India mengimpor minyak mentah senilai US$ 123 miliar. Total pengeluaran untuk produk minyak dan petroleum bahkan mencapai US$ 174,9 miliar, atau sekitar 22% dari total impor nasional.
Cadangan devisa ikut tergerus
Tekanan biaya impor mulai terlihat pada cadangan devisa India. Per 1 Mei 2026, cadangan itu turun menjadi US$ 690,69 miliar dari posisi sebelum perang yang mencapai US$ 728,5 miliar.
Dana Moneter Internasional memperkirakan defisit transaksi berjalan India akan mencapai US$ 84 miliar pada 2026. UBS Securities juga menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi India menjadi 6,2% dari sebelumnya 6,7%.
Kombinasi antara lonjakan impor, gangguan pasokan, dan cadangan devisa yang menyusut membuat pemerintah menempuh pendekatan yang lebih langsung ke masyarakat. Dalam situasi seperti ini, penghematan dari rumah tangga dan dunia usaha dipandang sebagai salah satu cara tercepat untuk meredam tekanan ekonomi.
Source: www.beritasatu.com






