Cadangan Emas Tak Lagi Aman, Rusia dan Lima Bank Sentral Lain Mulai Melepasnya

Author: Redaksi Android62

Di tengah gejolak geopolitik dan tekanan ekonomi global, Rusia muncul sebagai bank sentral paling agresif dalam menjual emas sepanjang 2026. Langkah ini menunjukkan bahwa emas tidak selalu diperlakukan sebagai aset yang wajib ditahan, tetapi juga bisa menjadi sumber likuiditas cepat saat negara membutuhkan ruang fiskal.

Data terbaru dari World Gold Council yang dirilis Visual Capitalist memperlihatkan ada enam bank sentral yang melepas emas dengan alasan berbeda. Meski motifnya tidak sama, pola besarnya serupa: emas dipakai untuk membantu pembiayaan negara, menstabilkan ekonomi domestik, atau menjaga keluwesan pengelolaan cadangan.

Rusia jauh memimpin penjualan

Bank sentral Rusia mencatat penjualan emas terbesar tahun ini. Negara itu melepas sekitar 15,6 ton emas untuk menambah likuiditas di tengah tekanan belanja perang dan sanksi ekonomi Barat.

Pembekuan sekitar US$300 miliar aset bank sentral Rusia pada 2022 juga ikut mengubah cara negara tersebut mengelola cadangan devisa. Peristiwa itu membuat emas semakin dipandang sebagai instrumen yang bisa dipakai saat akses terhadap aset lain terbatas.

Turki dan negara lain memilih langkah serupa

Turki berada di posisi kedua dengan penjualan sekitar 8,1 ton emas. Jumlah itu sekitar setengah dari volume yang dijual Rusia, dan pelepasan tersebut dilakukan untuk mendukung stabilisasi ekonomi domestik.

Langkah Turki juga diarahkan untuk menjaga nilai tukar lira. Di saat yang sama, pemerintah berupaya mengendalikan tingginya permintaan emas di dalam negeri.

Selain Turki, Bulgaria menjual 1,9 ton emas dalam periode yang sama. Kyrgyzstan mengurangi cadangan emas sebanyak 1,1 ton, yang dikaitkan dengan kebutuhan likuiditas dan penyeimbangan portofolio devisa.

Penjualan kecil tetap punya makna kebijakan

Belarus masuk daftar penjual emas terbesar, meski volumenya sangat kecil. Negara itu melepas 0,1 ton atau 100 kg emas, yang mencerminkan tekanan ekonomi yang memengaruhi kebijakan cadangan.

Meksiko juga mencatat penjualan 0,1 ton atau 100 kg emas. Walaupun angkanya tidak besar, langkah tersebut tetap menunjukkan adanya penyesuaian dalam strategi pengelolaan devisa negara.

Emas tidak lagi hanya disimpan

Pola penjualan ini menegaskan bahwa emas bisa berubah fungsi saat tekanan fiskal meningkat. Dalam kondisi seperti itu, emas menjadi aset yang relatif mudah dicairkan tanpa proses panjang.

Sejumlah negara memakainya sebagai alat untuk menjaga stabilitas ekonomi, sementara negara lain menjadikannya sumber dana cepat untuk menutup kebutuhan pembiayaan. Karena itu, emas tidak hanya berperan sebagai penyimpan nilai, tetapi juga sebagai instrumen kebijakan yang dapat dipakai sesuai tekanan yang dihadapi masing-masing negara.

Pandangan terhadap cadangan ikut bergeser

Pembekuan aset Rusia pada 2022 menjadi pemicu perubahan besar dalam cara banyak negara memandang cadangan devisa. Kejadian itu membuat emas dinilai lebih aman karena tidak berada di bawah yurisdiksi negara lain.

Namun, kebijakan setiap negara tetap berbeda. Ada yang memilih menimbun emas sebagai perlindungan dari risiko global, sementara yang lain justru melepasnya ketika kebutuhan dalam negeri menuntut ruang fiskal lebih besar.

Di saat sebagian bank sentral menjual emas, negara lain justru menambah kepemilikan. China dan Polandia termasuk yang memperbesar cadangan emas karena kekhawatiran terhadap dominasi dolar AS.

Perbedaan arah itu menunjukkan bahwa emas tetap menjadi instrumen penting dalam cadangan negara. Bagi sebagian pemerintah, emas adalah pelindung dari risiko global, sedangkan bagi yang lain emas adalah sumber dana cepat ketika tekanan ekonomi menumpuk.

Source: www.viva.co.id
Berita Terbaru