Telur yang masih layak makan tidak selalu bisa dikenali hanya dari tanggal di karton. Ada beberapa pemeriksaan sederhana yang bisa membantu memastikan apakah telur masih aman dipakai atau justru sebaiknya dibuang.
Cara-cara ini penting terutama ketika telur sudah lama tersimpan di kulkas dan sulit diingat kapan dibelinya. Dengan pengecekan yang tepat, telur yang masih bagus tidak perlu terbuang sia-sia.
Salah satu langkah awal yang paling mudah adalah melihat tanggal pada kemasan dan kode pengemasan tiga digit. Kode itu menunjukkan hari pengemasan telur dalam urutan hari sepanjang tahun, sehingga bisa menjadi petunjuk apakah telur masih tergolong baru.
Penyimpanan di kulkas juga berperan besar dalam menjaga kualitas telur. Suhu dingin membantu memperlambat pertumbuhan bakteri dan membuat telur bertahan lebih lama dibandingkan jika dibiarkan di suhu ruang.
Setelah melihat kemasan, uji apung bisa menjadi cara praktis berikutnya. Telur cukup dimasukkan perlahan ke mangkuk atau gelas berisi air dingin, lalu diamati posisinya.
Jika telur tenggelam dan tetap rata di dasar, artinya telur masih sangat segar. Bila tenggelam tetapi berdiri tegak, telur masih aman dimakan, meski sebaiknya segera digunakan.
Sebaliknya, telur yang mengapung ke permukaan biasanya sudah tua dan kemungkinan besar tidak layak dikonsumsi. Kondisi ini terjadi karena semakin lama telur disimpan, semakin banyak udara masuk lewat pori-pori cangkang sehingga bobotnya menjadi lebih ringan.
Selain itu, bau telur juga bisa memberi petunjuk yang cukup kuat. Telur segar seharusnya tidak mengeluarkan aroma apa pun, sedangkan telur rusak biasanya berbau busuk dan menyengat.
Pemeriksaan bau bisa dimulai dari cangkangnya terlebih dahulu. Jika masih ragu, telur dapat dipecahkan ke mangkuk bersih untuk mengecek apakah muncul aroma asam atau apek.
Meski begitu, bau bukan satu-satunya penentu. Bakteri Salmonella bisa saja tidak menimbulkan bau sama sekali, sehingga pemeriksaan lain tetap dibutuhkan.
Kondisi luar cangkang juga tidak boleh diabaikan. Telur yang baik umumnya memiliki cangkang kering, mulus, dan tidak retak.
Jika cangkang tampak berlendir atau muncul serbuk putih seperti bedak, itu bisa menjadi tanda adanya bakteri atau jamur. Retakan pada cangkang juga membuka jalan paling mudah bagi bakteri untuk masuk.
Bila telur retak karena terbentur saat dibawa pulang tetapi masih terlihat segar, telur sebaiknya segera dipecahkan ke wadah tertutup. Setelah itu, simpan di kulkas dan konsumsi dalam waktu maksimal dua hari.
Jika masih belum yakin, bagian dalam telur bisa diperiksa langsung setelah dipecahkan. Gunakan mangkuk putih bersih agar warna putih dan kuning telur terlihat jelas.
Telur yang masih segar biasanya memiliki kuning telur yang cerah dan putih telur yang sedikit menggumpal. Sebaliknya, telur yang sudah tua cenderung memiliki kuning yang lebih datar dan putih yang lebih encer serta menyebar lebih lebar.
Perubahan warna seperti merah muda, kehijauan, atau tampak berkilau juga perlu diwaspadai. Ciri-ciri itu bisa menjadi tanda pertumbuhan bakteri.
Pemeriksaan bagian dalam tetap sebaiknya diikuti dengan penciuman agar hasilnya lebih kuat. Gabungan dari uji bau, uji apung, pengecekan cangkang, serta pengamatan isi telur memberi gambaran yang lebih jelas soal kelayakannya.
Dengan cara itu, telur yang masih aman bisa tetap dimanfaatkan tanpa perlu buru-buru dibuang. Langkah sederhana ini membantu memastikan makanan di rumah tetap dipakai dengan lebih bijak.
