Agus Nur Amal atau PM Toh menyoroti satu masalah besar yang mengintai tradisi lisan Indonesia: ruang untuk pewarisan cerita makin menyempit di tengah derasnya arus digital. Ia melihat keadaan ini bukan sekadar soal berkurangnya penonton, melainkan juga soal putusnya perjumpaan antargenerasi yang selama ini menjadi tempat lahir dan tumbuhnya cerita kampung.
Bagi PM Toh, tradisi lisan tidak bisa dipandang hanya sebagai tontonan. Sastra tutur juga menjadi cara masyarakat memahami dunia dan membentuk pandangan hidup, sehingga hilangnya tradisi itu berarti ikut hilangnya cara masyarakat menyimpan pengalaman dan pengetahuan.
Kekhawatiran itu muncul karena semakin banyak pelaku seni tutur yang menua, sementara anak muda kian menjauh dari kampung dan cerita-cerita lokal yang dulu hidup dari mulut ke mulut. Jika kondisi ini dibiarkan, cerita yang sarat makna berisiko tidak sempat diteruskan kepada generasi berikutnya.
PM Toh menilai hubungan anak muda dengan kampung perlu diperkuat kembali. Kedekatan dengan lingkungan asal bukan hanya urusan nostalgia, tetapi juga jalan untuk menangkap pengalaman sosial yang sering tidak masuk ke dalam dokumen resmi.
Di dalam percakapan sehari-hari dengan generasi tua, banyak pengetahuan hidup justru tersimpan. Dari situ, cerita yang tidak tercatat masih bisa bertahan dan memberi konteks bagi masa kini.
Dalam praktik keseniannya, PM Toh juga dikenal memakai replika televisi bernama TV Eng Ong sebagai medium kritik sosial. Media itu ia gunakan untuk merespons informasi yang dinilai tidak akurat, terutama pada masa konflik Aceh hingga sekarang.
Alih-alih menyampaikan kritik lewat pidato atau narasi politik, ia memilih jalur cerita jenaka yang dekat dengan keseharian warga. Cara ini membuat pesan lebih mudah diterima tanpa kehilangan daya kritiknya.
TV Eng Ong dibuat dari kayu dan kardus dengan ukuran besar. Warga bahkan bisa masuk ke dalamnya untuk menyampaikan cerita versi mereka sendiri, sehingga ruang itu berubah menjadi bentuk ekspresi bersama.
Gagasan tersebut lahir ketika masyarakat kehilangan kepercayaan terhadap pemberitaan televisi. Informasi yang disiarkan saat itu dianggap tidak mencerminkan keadaan lapangan yang mereka alami langsung.
Lewat TV Eng Ong, PM Toh menghadirkan ruang yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberi tempat bagi suara warga. Di dalam ruang itu, orang bisa berbicara, menangis, atau membuat siaran versinya sendiri.
Pandangan PM Toh menunjukkan bahwa seni tutur masih relevan di tengah perubahan pola konsumsi informasi akibat digitalisasi. Tantangan terbesarnya kini ada pada kemauan anak muda untuk kembali mendengar, mencatat, dan mewariskan kisah-kisah yang hidup di tengah masyarakat.
Source: lifestyle.bisnis.com