Jumlah kasus Ebola di Republik Demokratik Kongo kembali naik menjadi 488, sementara Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan wabah itu belum terkendali. Di saat yang sama, seorang dokter asal Amerika Serikat yang ikut tertular saat bertugas di wilayah tersebut justru sudah dinyatakan pulih setelah menjalani perawatan di Berlin.
Kenaikan kasus itu menunjukkan bahwa penularan masih terus berlangsung di Afrika tengah dan timur. Pemerintah DRC pada Sabtu juga mencatat 86 kematian dari total kasus yang dilaporkan, menandakan wabah ini masih menimbulkan tekanan besar bagi layanan kesehatan di wilayah terdampak.
Perhatian dunia terhadap wabah ini ikut meningkat karena penyebarannya tidak lagi terbatas di DRC. Uganda telah mengonfirmasi 19 kasus dan dua kematian, sehingga penanganan lintas batas menjadi salah satu fokus utama dalam pengendalian penyakit ini.
Di tengah situasi itu, rumah sakit umum Charite di Berlin menyatakan pasien asal Amerika Serikat tersebut sudah membaik dan boleh keluar dari karantina. Pria itu sebelumnya dirawat pada 20 Mei setelah hasil tes memastikan infeksi virus Bundibugyo, salah satu strain Ebola yang langka.
Dalam laporan media, dokter itu diidentifikasi sebagai Peter Stafford, berusia 39 tahun. Ia bekerja sebagai ahli bedah untuk kelompok misi Kristen di DRC dan diduga terpapar saat mengoperasi pasien Ebola di wilayah timur negara itu.
Sebelum wabah di sana resmi dinyatakan pada 15 Mei, Stafford sudah lebih dulu berada di lapangan dan menghadapi risiko penularan. Ia kemudian diterbangkan dari Uganda ke Berlin dengan pesawat khusus dan dibawa ke Charite dengan pengamanan ketat.
Istri dan empat anaknya yang tidak menunjukkan gejala juga ikut tiba di Berlin tak lama setelah itu. Mereka sempat dikategorikan sebagai kontak berisiko tinggi dan ditempatkan dalam karantina di area terpisah.
Stafford mengatakan dirinya menerima perawatan yang mencakup terapi eksperimental yang sedang diuji untuk jenis virus ini. Ia juga menyampaikan terima kasih kepada tim medis dan menegaskan pikirannya tetap tertuju pada warga Kongo yang tidak memiliki akses ke perawatan serupa.
Direktur Departemen Penyakit Infeksi dan Perawatan Intensif Charite, Leif Erik Sander, menyebut pemulihan pasien itu sebagai keberhasilan terapi yang signifikan. Rumah sakit juga menyatakan pembatasan isolasi bagi istri dan anak-anaknya dicabut pada Sabtu.
Meski kabar pemulihan memberi harapan, kondisi wabah di kawasan itu masih jauh dari stabil. CDC Amerika Serikat bahkan memperingatkan bahwa skala wabah bisa membesar dan berpotensi menjadi epidemi Ebola terbesar yang pernah tercatat, menyaingi wabah Afrika Barat pada 2014-2016.
Fokus juga tertuju pada virus Bundibugyo yang menyerang Stafford karena strain ini termasuk langka. Saat ini ada tiga vaksin yang sedang diteliti dan dipercepat menuju uji klinis, tetapi belum ada vaksin yang disetujui untuk strain tersebut.
Akibatnya, penanganan wabah masih bergantung pada deteksi cepat, perawatan medis, dan pencegahan yang ketat. Dengan kasus yang terus bertambah di DRC dan penularan yang sudah menjangkau Uganda, kewaspadaan internasional tetap berada pada level tinggi.
